Pertumbuhan industri waralaba diprediksi akan mengalami pertumbuhan yang cukup signifikan tahun ini. Berdasarkan data Kementerian Perdagangan yang dikupas oleh Wakil Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), Evi Diah Puspitawati, industri waralaba akan tumbuh 10 persen tahun ini.

“Tahun ini pencapaiannya lebih tinggi jika dibandingkan dengan tahun lalu yang hanya 5-6 persen saja,” ucap perempuan yang juga sebagai konsultan International Franchise Business Management (IFBM) ini dalam sambutannya di acara Indonesia Digital Popular Brand Award 2019 di Manhattan Hotel, Jakarta, pekan lalu.

Menurut Evi, hal ini juga tak lepas dengan banyaknya bisnis waralaba baru yang telah tumbuh sangat fantastis dengan jumlah outlet mencapai puluhan bahkan ratusan dengan konsep kekinian dan juga disokong dengan teknologi digital terkini.

“Itu semua strategi yang dilakukan pelaku usaha untuk mempermudah customernya dan juga tentu saja tak lupa dengan promo-promo yang begitu gencar mereka lakukan sehingga kita semua merasa seperti dimanjakan,” tuturnya.

Meski demikian, kata dia, bisnis waralaba memiliki Pekerjaan Rumah (PR) yang cukup berat yaitu bagaimana bisnis tersebut bisa berkembang dan dapat bertahan menghadapi persaingan yang begitu ketat dan juga bisa menghadapi perubahan perilaku konsumen saat ini.

“Jadi PR-nya itu bahkan lebih berat lagi. Dan saya yakin pelaku usaha waralaba yang sudah cukup lama sudah menghadapi ujian seperti ini. Bisa saja pertaruhannya ada di lima tahun pertama atau lima tahun kedua dan seterusnya,” ujarnya.

“Karena waralaba itu pertanggungjawabannya bukan hanya kepada diri kita sendiri saja, tapi juga untuk para franchisee kita. Ketika kita memiliki banyak franchisee dan terus tumbuh, tentu saja tugas dan tanggun jawab kita adalah terus mensupport franchisee kita agar mereka bisa berkembang,” tutup Evi.