Utomo Njoto, Senior Franchise Consultant di FT Consulting Indonesia, tidak meragukan bila industri ini memang sangat menarik bagi para calon investor. Umumnya, keunikannya berawal dari konsep bisnis yang ditawarkannya kepada investor. Juga pola branding yang dilakukannya.

“Daya tarik pertama ada pada konsep dan brandingnya. Untuk lokal Indonesia ada pepatah ‘crowd follows crowd’. Itu yang terjadi. Kadang yang dikejar oleh ‘banyak orang’ alias crowd itu belum tentu bisnis yang benar-benar bagus. Yang menarik itu belum tentu bagus,” jelas Utomo.

Tentu yang dimaksud oleh Utomo adalah seassoning business alias bisnis musiman. Cepat bertumbuh, namun dalam sekejap juga menghilang. Walhasil, akan merugikan untuk calon mitra, khususnya mereka yang baru bergabung di “sisa musim”.

Lalu, bisnis di kategori apa yang potensial dan bisa bertahan dalam jangka panjang? Utomo dengan lugas menjawab; “Bisnis yang terbukti survive dalam jangka waktu cukup lama, bukan bisnis yang terlalu baru atau sekedar hype alias sedang ngetrend,” ungkapnya.

Lebih lanjut Utomo memaparkan, alasannya cukup sederhana. Pertama, tentu pengalaman pemilik merek dalam menjalankan dan mengembangkan bisnisnya. Kemudian komitmen pemilik merek untuk mengembangkan bisnisnya. Dan yang terpenting sebetulnya integritas pemilik merek itu untuk menyeleksi franchisee dan lokasi yang tidak asal-asalan. Secara sederhana tentu lokasi yang mampu mendatangkan traffic pengunjung sesuai kebutuhan untuk menghasilkan sales yang dibutuhkan.

Kiat-kiat khusus memilih bisnis franchise/kemitraan

Bisnis franchise bukanlah sebuah jaminan 100% bisnis pasti untung. Bahkan, Utomo menjelaskan bahwa “Franchise yang bagus belum tentu bagus untuk anda, atau untuk lokasi anda”.

Untuk itu, tetap diperlukan kehati-hatian dalam memilih bisnis yang sesuai dengan karakter, passion, modal, lokasi, dari calon mitranya.

Menurut Utomo, langkah sederhana yang bisa dilakukan adalah dengan mencermati laporan keuangannya. Sesuaikan asumsi-asumsi yang dibutuhkan dengan situasi dan kondisi lokasi anda. Cermati tingkat kerumitan bisnisnya, bertanya kepada mitra atau franchisee yang sedang menjalankan bisnis tersebut, atau yang sudah tidak menjalankan bisnis itu lagi.

“Cermati juga operasional bisnisnya. Apakah kira-kira anda bisa menikmati keseharian operasional bisnis itu, bila anda harus terjun menjalankan bisnis tersebut. Mengenal dan menemukan kecocokan dengan pemilik dan tim manajemen bisnis tersebut juga penting untuk hubungan ke depan, karena kerjasama ini biasanya berlaku untuk jangka waktu minimal 5 tahun,” ungkap Utomo.

Selanjutnya, imbuh Utomo, franchisor/principal yang baik adalah mereka yang selalu menjaga kualitas produk dan layanan, meningkatkan persepsi value for money, branding, komunikasi yang tepat, melakukan data analytics yang cermat untuk meningkatkan kualitas layanan, dan lain sebagainya.