Sehingga, para calon franchisee harus bisa memilih bisnis waralaba yang baik, terutama bagi franchisee pemula. Hal ini disampaikan oleh Utomo Njoto selaku Senior Franchise Consultant di FT Consulting Indonesia. Tujuannya, agar bisnis waralaba yang dipilih bisa berjalan dalam jangka waktu yang panjang.

“Bagi pemula, pilihlah bisnis waralaba yang low risk, low cost dan low capital. Namun apabila konsep bisnisnya owner operator maka mereka bisa pilih bisnis yang easy to operate. Kalau modalnya besar sih, usahakan low risk-nya bisa didapat,” kata Utomo dalam keterangan resminya yang diterima redaksi Franchiseglobal.com, Rabu (23/1/2019).

Jika status calon franchisee telah menjadi franchisee, Utomo berharap mereka bisa menjalankan SOP yang telah ditetapkan oleh franchisor dengan baik. Begitu juga dengan franchisor harus terus memberikan support kepada franchisee-nya, seperti melakukan review atau audit bisnis secara teratur serta memberikan pelatihan tambahan untuk menjaga standar layanan dan produk.

“Karena sederhananya, menjadi franchisee itu memperpendek kurva belajar. Sama seperti keuntungan meminta nasihat kepada konsultan, baik itu konsultan franchise bagi yang hendak jadi franchisor, dan konsultan start up bisnis bila non-waralaba. Bedanya, kalau konsultan start up bisnis mungkin sampai opening atau sampai satu tahun pertama operasional. Tapi kalau waralaba berlanjut terus selama kerjasama waralaba berlangsung,” jelasnya.

Begitu juga terkait dengan pemasaran yang saat ini sudah masuk ke era digital. Dimana media digital sendiri menurut Utomo telah memiliki karakteristik yang khas. Bahkan mungkin industri tertentu lebih cocok menggunakan media digital tertentu.

“Jadi franchisee dan franchisor harus jeli memahami kecocokan media dengan audience-nya. Karena prinsip dasar komunikasi adalah memilihcommunication channel yang sesuai untuk menjangkau target audience atau target market,” pungkasnya. [ded]