Sustainability sebuah bisnis dalam dunia waralaba merupakan sebuah jaminan bisnis tersebut masuk dalam kategori longterm business. Di sisi lain, juga menandakan bila bisnisnya telah proven atau terbukti berhasil. Tentu saja beberapa hal tersebut menjadi garansi tersendiri bagi para mitra-mitra dan calon mitra-mitranya. Dan patut dicatat, tidak banyak merek waralaba lokal yang mampu sustain dalam waktu lebih dari 10 tahun!

Salah satu merek yang mampu melewati lebih dari satu dasawarsa perjalanan bisnis adalah waralaba Depo Air Minum Biru. Merek yang berasal dari Kota Pahlawan ini telah sukses berkembang dengan ratusan depo di seluruh Indonesia dan berhasil mengarungi kerasnya industri waralaba selama 13 tahun. Wow!

Tiga belas tahun lalu, Yantje Wongso, founder and owner Depo Air Minum Biru, cermat melihat bisnis ini sebagai peluang bisnis yang prospektif. Sebuah produk yang kebutuhannya tidak akan pernah lekang oleh waktu, yaitu air. Ia menciptakan bisnis isi ulang air minum berkonsep depo. Akan tetapi, bukan sembarang depo seperti yang bertengger di pinggir-pinggir jalan dengan konsep konvensional.

Depo Air Minum Biru hadir dengan konsep gabungan antara pabrik dan toko. Artinya, selain berfungsi sebagai sarana penjualan, proses produksi air minum juga dilakukan di depo. Service pun diciptakan semaksimal mungkin. Jika SDM gerai isi ulang konvensional biasanya berjumlah 2 orang, Depo Air Minum Biru di-handle oleh 6 orang yang secara bergantian melayani konsumen. Sehingga tercipta pelayanan yang maksimal. Belum lagi produk air isi ulang yang dimiliki Depo Air Minum Biru sangat berbeda dengan isi ulang yang lain.

“Air minum yang diproduksi Depo Air Minum Biru menggunakan poses teknologi OZON yang merupakan standar industri Air Minum Dalam Kemasan (AMDK). Kami menggunakan mesin berteknologi USA dengan kapasitas mesin yang sesuai (100%), sehingga tidak lagi mensyaratkan tambahan penyinaran ultra violet. Ciri utama penggunaan teknologi OZON 100% adalah adanya banyak butiran oksigen dalam air minum,” ungkap Yantje.

Oleh karenanya, tidak mengherankan jika kualitas air minum Depo Air Minum Biru setara dengan kualitas AMDK. Sehingga dapat memenuhi standar umum dari berbagai kalangan hingga ke level ekonomi tertinggi. Dan yang pasti, harga per galon Depo Air Minum Biru lebih murah sekitar 1/3 dari harga AMDK. Harga yang ditawarkan kepada konsumen sebesar Rp 6 ribu per galon isi 19 liter. Namun jangan salah, gross margin profit yang bisa diraih mitra-mitranya berkisar di angka 65-75%!

Gross profit margin yang begitu besar tersebut merupakan bukti nyata bahwa waralaba Depo Air Minum Biru memberikan profit yang sangat menyenangkan untuk para mitranya. Dan wajar saja jika beberapa mitranya bahkan memiliki depo lebih dari dua buah.

Yantje melanjutkan, saat ini rekor penjualan berada di angka 75-1200 galon per hari. Catat, PER HARI! Memang, ungkap Yantje, grafik peningkatan bisnis bertahap. Dan hal tersebut terukur dengan volume penjualan dan proyeksi yang telah ditetapkan oleh pusat setelah melakukan studi dan analisa mendalam sebelum launching depo.

Bisa Menghasilkan Property Sendiri

Yang lebih unik di bisnis Depo Air Minum Biru adalah, Yantje mengkolaborasikan bisnis ritelnya dengan real estate. Ini dimungkinkan. Dari 110 mitra yang tersebar secara nasional, lebih dari 25%-nya mempunyai kemampuan memaksimalkan cashflow yang positif untuk menutup angsuran kredit kepemilikan property tersebut. Apalagi, masa kerjasama merek dengan sertifikasi ISO 9001:2008 ini memungkinkan untuk itu, yaitu selama 10 tahun. Dengan kata lain, sang mitra mendapatkan income setiap bulannya dengan “bonus” property beberapa tahun ke depan.

Dengan kata lain, nilai investasi Rp 401 jutaan yang dipatok Franchisor rasanya menjadi terlalu murah untuk berbagai macam keunggulan dan benefit yang akan didapatkan mitra-mitranya.

“Bisnis Biru dan property ini saling bersinergi. Ini kenapa franchisee banyak yang buka lebih dari satu gerai. Dalam perjalalanan kerjasama, banyak dari mereka yang mencicil biaya propertinya dengan mengandalkan profit yang dihasilkan dari menjual air galon. Dan bahkan profitnya masih tersisa untuk keperluan bulanan mereka. Di sisi lain, mereka juga mengamankan aset propertinya. Ibaratnya, bisnis air minum ini double profit,” tukas Yantje.

Yantje menambahkan, bisnis ini tangguh sekali dan ruang geraknya lebar. Tangguh, sebab dana yang keluar hanya sedikit sekali, ambil contoh dana franchise hanya Rp 77 juta untuk masa kerjasama 10 tahun, angka yang lama untuk umumnya bisnis franchise.

Dan yang menarik, Depo Air Minum Biru juga memiliki klausul buyback. Artinya jika si mitra macet di tengah jalan, pusat bisa membeli kembali aset bisnis. Dalam sejarah perjalanan selama 13 tahun, baru ada satu mitra yang di-buyback. Dan sebagai catatan, bukan karena tidak prospek. Akan tetapi, sang pemilik punya rutinitas bolak-balik ke luar negeri. Padahal, meskipun ditinggal sang pemilik, depo air minumnya mampu menjual rata-rata 180-an galon per hari atau mampu menghasilkan omset sekitar 6-7 juta/bulan.

Dukungan Berkelanjutan dari Pemberi Waralaba

  • Manajemen Kualitas : Monitoring Operasional Gerai, Pelatihan dan Bimbingan Pelaksanaan Sistem & Standar Operasi.
  • Manajemen Keuangan : Analisa & Evaluasi Usaha.
  • Manajemen Pemasaran : Kontribusi pada Promosi dan Iklan Nasional / Regional serta Pengembangan Program Pemasaran Gerai.
  • Manajemen Teknik : Pengembangan Sistem, Produk dan Teknologi.

Persyaratan Umum Lokasi

  • Luas lokasi : 90 hingga 120 m².
  • Ukuran Ideal : 10m x 12 m.
  • Lahan parkir dalam lokasi sendiri untuk minimum 3 mobil.

 

Prosedur Waralaba BIRU