D'Penyetz yang dimiliki Mulyanto memiliki kesan tersendiri baginya. Sebab, ia mengawalinya dari menjadi konsumen. Memang, tidak sedikit jalinan kerjasama kemitraan atau franchise tumbuh dimulai dari predikat konsumen. Setelah merasakan kualitas produk dan apiknya layanan yang diberikan, sang konsumen pun tertarik untuk menjadi bagian dari merek tersebut. Hubungan yang terjalin tersebut umumnya berjalan langgeng. Sebabnya, sudah tercipta kepercayaan dan keyakinan di antara keduanya.

Hal tersebut pulalah yang melandasi Mulyanto mengambil license dari D’Penyetz. Sebuah bisnis asal Singapura yang menjual produk kuliner khas nusantara, sebab memang dimiliki oleh orang Indonesia asli.

Ketertarikan Mulyanto berawal kurang lebih setahun yang lalu di foodcourt Roxy Mas. Mulyanto yang memiliki dua toko Handphone di kawasan tersebut bermaksud untuk makan siang. Di sana ia menemukan merek baru dan beberapa SPG yang aktif menyebar brosur. Ia pun tertarik mencoba merek yang baru dikenalnya tersebut.

“D'Penyetz ternyata makanannya bagus, enak, pelayanannya juga OK. Kemudian istri saya memperhatikan brosur yang diterima sebelumnya dari SPG. Di sana saya melihat merek ini menawarkan peluang kerjasama. Kemudian saya mencoba menghubungi nomor yang tertera di sana. Dan sebuah kebetulan atau mungkin memang jodoh, pak Edy (owner D’Penyetz) sedang berada di Indonesia. Alhasil, saya ajak beliau ketemuan dan ngobrol secara langsung. Sehingga, seluruh informasi terkait D’Penyetz secara utuh saya dapatkan,” ungkap mulyanto.

Tal lama kemudian, Mulyanto secara resmi bergabung dan membuka outletnya yang berada di kawasan Mal Ambasador, Jakarta Selatan pada tanggal 17 Desember tahun 2014.

   

Setelah kurang lebih berjalan selama satu semester, Mulyanto mengungkapkan, bisnisnya terus berkembang secara positif. Menurut penuturannya, dalam sehari ia mampu menghasilkan Rp 4-5 juta. Ia pun memprediksi omsetnya bisa terus berkembang dan kemungkinan balik modal bisa dicapai dalam waktu satu tahun ke depan.

Menurut Mulyanto, bisnis kuliner memang cukup berbeda dengan bisnis sebelumnya. Kalau bisnis makanan, ujaranya, bila startnya dan sistemnya sudah bagus kita bisa mengurus kegiatan yang lain. Dalam artian, bisa kita serahkan orang lain untuk operasionalnya. Sehingga, bisa leluasa mencari opportunity lain.

“Di bisnis Handphone, margin itu tergantung kita yang jual. Kalau kita pintar berkomunikasi, dan bagaimana melayani konsumen, semakin besar margin yang bisa didapatkan. Sebab harga tidak ada patokannya. Berbeda dengan bisnis makanan. Bisnis ini lumayan dan bisa dikembangkan. Memang di bisnis makanan, harus lebih dari satu dan diperbanyak. Dan di bisnis kuliner, lebih santai dan bisa dilepas, tidak perlu diperhatikan 24 jam,” tukas Mulyanto.

Karena fleksibilitas dan profitabilty yang besar tersebut, Mulyo pun tidak ragu untuk segera membuka outlet-outlet D’Penyetz berikutnya. Ia menargetkan bisa melaunching setidaknya dua atau tiga outlet lagi. “Saat ini sedang melihat lokasi. Kemungkinannya saya buka dua outlet lagi. Saat ini terus terang saya memang hunting dan melacak lokasi yang strategis,” pungkas Mulyanto.

D'Penyetz Mulyanto di kawasan mal ambasador ini merupakan outlet yang yang ke-10. Secara total, D’Penyetz telah memiliki 12 outlet termasuk yang baru saja dilaunching di kawasan AEON Mall, BSD Tangerang.

Informasi lebih lanjut, klik D'Penyetz