FRANCHISEGLOBAL.COM, JAKARTA - Kenaikan bahan bakar minyak (BBM) yang diumumkan beberapa hari yang lalu dipercaya akan memberikan dampak langsung pada dunia usaha, terutama pada biaya produksi dan operasional.

Hal itu dikatakan Ketua Umum Kamar Dagang Indonesia, Arsjad Rasyid, menurut dia dampak kebijakan ini secara langsung akan dirasakan oleh sektor transportasi, logistik dan sektor yang membutuhkan distribusi barang seperti retail.

Pasalnya, komponen biaya logistik di Indonesia dipengaruhi oleh biaya transportasi, dimana biaya BBM berkontribusi 40%-50% terhadap biaya transportasi.

Selain itu, kenaikan harga BBM juga akan sangat berdampak pada UMKM, dikarenakan UMKM mempunyai ketergantungan yang tinggi pada BBM.

"Dalam jangka pendek, harga produk dan jasa tentu akan mengikuti peningkatan BBM," kata dia dikutip CNBC Indonesia, Senin (5/9/2022).

Hal ini tidak bisa terelakkan karena kebijakan peningkatan harga BBM yang juga mendorong meningkatnya komponen biaya produksi industri lainnya seperti, bahan baku, bahan penolong, biaya logistik dan distribusi, serta biaya lain-lain.

Sementara itu, Ketua Umum Apindo Hariyadi Sukamdani menilai inflasi akibat kenaikan harga BBM tidak bisa dihindari.

"Perkiraan kami, inflasi masih di bawah 7%. Mungkin sekitar 6%, tidak seperti Amerika sampai 9%." ungkap Hariyadi dalam Power Lunch, CNBC Indonesia, Senin (5/9/2022).

Menghadapi kemungkinan ini, dia melihat pengusaha siap karena kondisi ini jauh lebih baik dibandingkan masa pandemi. Saat pandemi, permintaan hampir tidak ada. Saat ini, Apindo menuturkan permintaan masih ada.

"Kami melihatnya selama demand masih ada, masyarakat masih beraktivitas, dan pengelolaan keuangan dilakukan dengan hati-hati kita bisa melewati itu," paparnya.