JAKARTA, FRANCHISEGLOBAL.COM - Di masa pandemic covid-19 yang sudah berlangsung satu tahun lebih di Indonesia ini, tentunya banyak menyebabkan beberapa perusahaan hingga berbagai brand lokal yang memilih untuk gulung tikar dikarenakan pemasukan omset yang tidak mencukupi hingga konsumen yang kian hari semakin menipis.

Tak jarang pula beberapa owner perusahaan mengubah cara kerja atau melakukan inovasi dari kebiasaan bekerja secara offline, sekarang membiasakan diri dengan bekerja jarak jauh (online) atau WFH.

Namun, apa saja yang harus dilakukan untuk tetap mempertahankan perusahaan serta produk dengan nilai jual tinggi di masa pandemic covid-19 ini? Untuk menjawab pertanyaan tersebut, Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) menggelar Gathering pada Kamis, 29 Juli 2021, dengan mengangkat tema “Strategi Sukses Jualan Di Masa Pandemi”. Webinar yang digelar secara virtual itu dihadiri oleh sedikitnya 85 orang peserta, terdiri dari anggota WALI dan pelaku usaha.

Membuka kegiatan tersebut, Tri Raharjo selaku Ketua Umum Perhimpunan Waralaba & Lisensi Indonesia (WALI), mengungkapkan, berdasarkan riset yang dilakukan oleh perhimpunan WALI, akibat pandemi covid19, hampir 90% pelaku usaha waralaba terdampak, dimana hampir 17% pelaku usaha menutup gerainya.

Ini merupakan dampak yang sangat serius bagi pelaku usaha industry,” ungkap Tri Raharjo.

Berdasarkan diskusi bersama tim WALI, Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) akibat pandemi gelombang kedua, dampaknya terasa lebih berat dibanding saat PSBB tahun lalu. Menurut Tri, dari 30 brand waralaba lisensi dan kemitraan, hampir 1000 outlet mengalami tutup sementara bahkan ada juga yang tutup pemanen.

“Untuk menghadapi situasi tersebut tahun ini pelaku bisnis perlu melakukan sesuatu yang baru dan harus extra adaptif punya kemauan untuk belajar lagi serta berinovasi dan mencari solusi sesuai dengan kebiasaan baru masyarakat,” ujar Tri Raharjo.

Namun kabar baiknya, kini pemerintah dengan dukungan beberapa perusahaan sudah menjalani vaksinasi secara gratis kepada masyarakat Indonesia, dengan target 2 juta perhari vaksinasi dinilai bisa mempercepat herd immunity serta mengembalikan keadaan seperti normal kembali. Dimana semua masyarakat sudah memulai kembali bisnisnya pasca pandemic fase kedua ini serta mendapatkan penjualan yang tinggi.

Di acara tersebut juga Tri Raharjo juga membagikan solusi untuk para pelaku usaha dalam mengatasi pandemic covid-19 ini. Solusi yang pertama yaitu Adaptasi, perilaku konsumen kini semakin berubah karena semua sudah sistemnya by home, kerja dirumah, dan semua aktivitas kebanyakan di rumah. Jadi sebagai pelaku usaha kita hendaknya saling beradaptasi dan memulai kebiasaan baru karena situasi yang tidak memungkinkan untuk berkumpul di ruang umum. Dan yang kedua ada Speed, sebab karena banyak perusahaan semenjak pandemic ini banyak mengalami ketertinggalan dan hasilnya tidak optimal.

Speed menjadi kunci penting supaya kita bisa bertahan,” tandas Tri Raharjo.

Dan yang terakhir menurut Ketua Umum WALI ini dengan melakukan Inovasi, Tri melihat beberapa perusahaan dan brand di tahun ini banyak melakukan inovasi baru sesuai dengan kebiasaan baru masyarakat. Inovasi tersebut berguna sekali untuk survive dan terus melangkah maju ke depan agar tidak mengalami colaps ditengah pandemic covid-19 ini

“Harapannya untuk para bisnis waralaba di masa pandemic ini, supaya bisa terus berkembang baik dari segi pemasaran, digital, maupun offline. Tak lupa agar pandemic segera berakhir sehingga pameran-pameran yang tadinya terhambat bisa kembali melebarkan sayapnya, dan tak lupa juga untuk industri francais juga berkembang lebih pesat,” urai Tri Raharjo.

Sementara itu, Dedy Budiman, selaku Champion Sales Trainer mengungkapkan, untuk sukses memikat hati konsumen serta menaikkan penjualan serta omset pada perusahaan di masa pandemic seperti ini, kita harus sentuh hatinya terlebih dahulu. Jangan karena kita berjualan dan harapannya untuk terus mendapatkan untung dan pemasukan tetapi kita lupa memuaskan pelanggan.

Deddy menambahkan untuk menyentuh hati pelanggan supaya mereka nyaman bersama kita, atau jika kita mengadakan kerja sama. Mereka akan menyukai jika kita melakukan sesuatu yang berbeda. Dia mencontohkan, semisal ketika kita berkolaborasi dengan perusahaan lain, dan petingginya ulang tahun. Kita bisa menyenangkan mereka tidak hanya sekedar ucapan chat saja.

Karena saya yakin, 100% ketika mereka merayakan hari kelahirannya tersebut pasti akan mendapatkan banyak ribuan pesan, namun jika kita melakukan sesuatu yang berbeda. Pasti kita akan di nilai lebih, itulah cara pendekatan yang paling objektif dengan sentuh hatinya” paparnya.