Franchiseglobal.com - Mengusung seruan campaign “Yes I Drink Indonesian Coffee”, Coffee Toffee mencoba menghadirkan sebuah kebanggaan dalam meminum kopi Indonesia. Untuk itu, perusahaan asal Surabaya ini mencoba menerobos barriers yang ada untuk memimpin pasar gerai kopi di Tanah Air.

West Managing Director Coffee Toffee Zai Ahmad mengatakan kesuksesan saat ini bukanlah sesuatu yang instan. Komitmen dalam menyediakan 100% produk kopi lokal yang berkualitas jadi ujung tombaknya. Dipadu dengan skill pengolahan serta para profesional handal pada bidang pengolahan kopi, menjadikannya sebuah jaminan mutu bagi anda yang ingin meraih kesuksesan bersama Coffee Toffee.

“Skema kerjasama yang kami tawarkan saat ini ada dua, pertama adalah company operated store dan yang kedua adalah full franchise,” ujarnya.

Zai melanjutkan, skema company operated store mempunyai kelebihan dari sisi daya saing dengan tingkat keberhasilan lebih dari 90%. Kinerja positif itu ditopang oleh entitas induk yang akan men-support tenaga-tenaga ahli kepada para investor dalam menjalankan usahanya. “Kami juga akan mem-bundling sistem pengelolaan arus kas dan juga pelaporan keuangan secara real time kepada investor,” katanya.

Skema kerjasama company operated store disebut Zai sangat cocok untuk masyarakat yang telah memasuki usia purnatugas. Dalam pengelolaannya pun tidak dibutuhkan effort yang terlalu besar untuk menjalankan roda usaha. “Cukup menyiapkan investasi Rp1 miliar hingga Rp2,5 miliar, dengan estimasi balik modal 2,5 tahun, atau 30 bulanan. Semuanya akan kami full support. Jadi, istilahnya investor tinggal duduk manis saja,” tuturnya.

Lahan minimum yang dibutuhkan adalah seluas 50 meter persegi dengan lebar penampang muka sepanjang 12 meter. Lalu, komitmen kerjasama dipatok selama lima tahun dengan opsi perpanjangan atau renewal untuk masa kontrak berikutnya. Adapun, skema kerjasama kedua yang ditawarkan adalah full franchise. Mereka akan secara mandiri mengatur manajemen usaha, kepegawaian, serta tata kelola arus kas usaha. Disini, keseriusan dan komitmen dari para investor akan benar-benar ditempa guna memajukan bisnisnya.

“Sebagai contoh mitra kami di Madiun. Sang pemilik gerai secara serius menggarap usahanya. Dia terjun langsung sebagai brand manager, marketing manager, sampai promotion manager dia terlibat juga. Kesuksesan mitra kami tersebut bisa dilihat dari komitmennya me-renewal kontrak tahun lalu untuk lima tahun kedepan,” imbuhnya.

Zai menyebut, hingga saat ini total 53 store Coffee Toffee yang telah berdiri di berbagai kota besar di Indonesia. Bahkan, pada satu kota terdapat seorang owner yang memiliki lebih dari satu gerai, yakni di Surabaya dan Bogor.

Selain itu, Coffee Toffee juga tengah mengembangkan konsep bisnis kopi dengan model To Go Coffee. Langkah tersebut merupakan upaya jemput bola dengan mengkhususkan pada gerai minimalis yang berlokasi diarea traffic tinggi, semisal stasiun commuter.

“Kios ini BEP-nya cukup cepat. Dalam perhitungan riset kami, balik modal akan terjadi pada bulan ke-12, atau hanya satu tahun saja. Biaya investasinya juga cukup terjangkau hanya Rp150 juta,” imbuhnya.[]