JAKARTA, FRANCHISEGLOBAL.COM - Franchising di Indonesia saat ini masih didominasi oleh bisnis kuliner. Hal ini terlihat dari partisipasi peserta pameran franchise skala besar pada 2018 dan 2019 masih dimonopoli bisnis kuliner yang aktif menawarkan bisnisnya.

Konsultan waralaba dari International Franchise Business Management (IFBM) Burang Riyadi menyebut terdapat sektor usaha lanjutan yang juga cukup atraktif dalam menawarkan skema kemitraan bisnis.

“Sekalipun demikian, dari data klien IFBM mengungkapkan bahwa sektor jasa juga menunjukan geliat positif dalam perkembangan dan pertumbuhannya. Sektor jasa tersebut antara lain klinik, salon, perawatan tubuh, pendidikan dan ritel yang mempersiapkan bisnis franchisenya,” ujarnya.

Menurut Burang, identifikasi bisnis franchise yang sukses biasanya karena didukung oleh empat hal. Pertama, bisnis modelnya unggul untuk menang bersaing.

“Artinya, business model itu mempunyai faktor-faktor yang membuat lebih banyak orang membeli produknya [dibandingkan bisnisnya kompetitor]. Dan business model ini juga mempunyai potensi keuntungan yang lebih tinggi dari bisnis sejenisnya yang lain,” terangnya.

Kedua, bisnis yang dibuka oleh franchisee (penerima waralaba) terletak di lokasi yang tepat, yaitu lokasi yang berada di kantung target market bisnisnya. Ketiga, outlet tersebut dikelola oleh orang yang serius menjalankan bisnisnya dengan antusias dan bertanggung jawab.

“Serta yang keempat adalah adanya program marketing yang berkesinambungan, setelah pembukaan outlet,” imbuhnya.

Selain itu, sambung Burang, setiap bisnis yang dikembangkan oleh franchisor perlu berorientasi agar usaha mitra franchisee itu sukses, tahan lama (sustainable), dan berkembang. Untuk itu, franchisor perlu mempunyai program-program yang mendukung, seperti program relationship, program pengembangan, dan program dukungan lainnya (training, marketing, branding).

“Franchisor tidak akan sukses jika mitra franchiseenya tidak serius. Oleh sebab itu franchisor wajib memastikan pemilihan franchisee yang tepat dan cocok serta ‘nurut’ dengan petunjuk sistem usaha,” katanya.

“Jika ada franchisee yang tidak mengikuti petunjuk dari franchisor, maka sebaiknya kerjasamanya diputuskan saja. Karena hal ini akan berimbas kepada jaringan franchisee yang lain dan akan membuat pengelolaan franchisor menjadi repot,” sambungnya.

Selain itu, Burang juga menyarankan para investor untuk menanyakan pengalaman franchisee bisnis tersebut yang telah lebih dulu membuka usaha. Kemudian, perlu juga untuk mengetahui apakah franchisornya mempunyai tim kerja yang memadai untuk mensupport jaringan outlet yang dimiliki atau tidak (bukan franchisor one-man-show).

“Perhatikan juga apakah perusahaan franchisornya itu mempunyai training center, pergudangan yang baik, sistem keuangan yang baik, dan program marketing yang panjang. Jika hal itu dimiliki franchisor, maka calon franchisee boleh pertimbangkan untuk membeli franchise-nya,” tutup Burang.