Dalam membesarkan brand besutan PT Global Insight Utama itu, Adang mengawali bisnisnya dengan mencari alternative bisnis yang ringan namun berbeda dari bisnis lainnya, sehingga lahirlah bisnis isi angin ban dengan Nitrogen. Pada awalnya ia melihat bisnis ini yang dijalankan oleh temannya namun tak jauh berbeda penampilannya seperti bengkel isi angin dan tambal ban biasa di pinggiran jalan. Adang memantapkan bisnisnya usai menunaikan panggilan ibadah haji di tahun 2010, dengan hanya bermodalkan Rp200 juta dari hasil support ibunda tercinta dan istrinya.  

“Sehingga saya tertantang untuk mencoba mengemas bisnis tersebut, agar terlihat menarik dengan tempat yang nyaman, booth yang bagus, pelayanan yang baik dan peralatan yang standar. Pada awalnya tanggapan teman saya, nitrogen siapa yang mau beli orang belum familiar di masyarakat, toh ada isi angin ban gratis,” katanya kepada Franchiseglobal.com di kantornya, Mutiara Bekasi Center II, Kota Bekasi, Jawa Barat, Selasa, (30/4/2019).

Adang mencoba mencari lokasi yang tepat untuk menjalankan bisnisnya, pilihannya ada di SPBU karena mudah untuk parkir. Akantetapi pada saat itu Pertamina memiliki aturan larangan membuka usaha di dalam SPBU. Hingga kenekatannya berbuah hasil, salah satunya ada yang memberanikan diri mempersilakan Adang membuka outlet nitrogen di SPBU Pertamina yang dikelola oleh swasta di kawasan Harapan Indah, Bekasi.

“Tak lama kemudian Elnusa juga memperbolehkan kami membuat outlet nitrogen di jaringan SPBU yang dikelol oleh mereka. Itu terjadi pada tahun 2011. Merekalah yang paling berjasa di awal berkembangnya Nitrogen di SPBU. Pada saat itu Nitrogen tidak dijual belikan, melainkan menjadi pelayanan gratis dari SPBU tersebut. Hal itu saya upayakan untuk memperkenalkan Nitrogen kepada masyarakat,” tambah Adang.

Alhasil Nitrogen secara tiba- tiba mendapatkan undangan dari Ferrari Indonesia untuk membantu mengisi angin Ferrari di eventnya. Barulah pada Lebaran 2011, permintaan angin nitrogen meledak. Akhirnya ketika ia menawarkan kembali kerjasama layanan isi angin Nitrogen, Pertamina menyambut dengan baik. Saat ini sudah lebih dari 700 SPBU Pertamina di seluruh Indonesia yang sudah tersedia outlet nitrogen.

Inovasi Adang tak cuma produk angin nitrogen. Kini PT Global Insight Utama melalui Green Steam Wash, menghadirkan teknologi cuci mobil mutakhir yang menggunakan uap air, yakni “Steam Wash Uap Air”. 

Sukses di wirausaha, ternyata Adang justru mengawali karirnya di Toko Buku Gunung Agung sebagai Kepala Administrasi dan Personalia pada tahun 1995-1996. Hal itu ia jalani usai menyelesaikan pendidikan S1 Jurusan Matematika Fakultas MIPA Universitas Brawijaya, Malang, Jawa Timur pada tahun 1993. Selanjutnya ia bekerja di PT Wijaya Karya sebagai IT Enjiner dan staf manajemen mutu pada tahun 1996-1998. Disinipun ia tak betah berlama-lama dan melanjutkan pendidikan S2 di PPM Graduate School of Management, Jakarta dengan mendapatkan beasiswa.

Kiprahnya menjadi pengusaha dimulai saat duduk di bangku kuliah S2 dengan memberdayakan lab computer sebagai tempat kursus computer dengan modal Rp15 ribu sehari dapat ahli mengetik cepat. Adang juga mempopulerkan usaha peminjaman computer.

Akhirnya ia membuka usaha warung internet (warnet) dengan nama Citinet yang berlokasi di jaringan toko Gunung Agung pada tahun 1999-2002. “Waktu itu saya tidak usah membayar sewa tempat karena saat itu biaya sewa per bulan mahal RP4 juta. Tetapi bisnis warnet saya dijalankan dengan konsep bagi hasil dengan pihak Gunung Agung, zaman itu di tahun 1999 biaya warnet Rp25 ribu per jamnya,” kata Adang.

Ia pun memulai menaikkan kelas bisnisnya dan menjadi Presiden Direktur PT Penta Visindo Enjinering (PENTAVE) di tahun 2000-2004. Ini adalah perusahaan teknologi informasi untuk perbankan dengan merek SWITCH-X yang menjadi satu-satunya merek asal Indonesia untuk layanan transaksi perbankan seperti ATM bersama, internet banking, mobile banking, phone banking, dan lain sebagainya. Kemajuan teknologi menuntut ia mengakhiri bisnis ATM bersama tersebut dan menjualnya ke Bank Indonesia.

“Kunci sukses yang saya pegang adalah saya pengen usaha saya tidak hanya di satu titik, tetapi harus ada di mana- mana karena Indonesia ini luas. Ke dua, jangan sampai kita dikerjai atau direpotkan oleh bisnis namun carilah bisnis yang simpel dengan persiapan yang matang. Selain itu jangan sampai kita menyalahkan kondisi apalagi Tuhan dalam segala kesulitan bisnisnya, lihatlah kapasitas kemampuan bisnis kita,” pungkasnya. [hfz]