Franchiseglobal.com - Perkembangan teknologi digital telah membawa dunia usaha pada level terbarunya. Para produsen berlomba-lomba menawarkan segala macam kemudahan bagi konsumen. Fenomena ini kemudian melahirkan sebuah ekosistem bisnis berkesinambungan.

Menyikapi hal tersebut, Redaksi kemudian mewawancarai Yuswohady, Managing Director Partner Inventure, sekaligus Pengamat Branding dan Pemasaran. Dalam kacamatanya, para pelaku usaha sangat terbantu dalam hal pengembangan pasar melalui media digital.

“Saya mengatakan jika sebuah usaha tidak go digital maka bisnisnya tidak akan relevan dengan perkembangan zaman dan akan mati. Kenapa? karena konsumen saat ini kumpulnya di digital, baik itu di Facebook, Instagram, Twitter, maupun lainnya,” ujarnya di Jakarta, Selasa (22/10).

Lebih dari itu, sambung dia, pengusaha juga dituntut harus bisa mewujudkan omni channel, yang berarti kemampuan menggabungkan antara materi physical dan digital. Dia memberi contoh, Traveloka dan Tiket.com dapat terus tumbuh karena menghadirkan konsep look, book, and pay dalam satu aplikasi. Jika sebelumnya seseorang harus mencari informasi dengan cara mengunjungi pameran maupun travel agent untuk beli tiket, saat ini mereka mendapatkan segala kemudahan dalam genggaman yang praktis.

“Nah kemudahan-kemudahan itulah yang harus dikenakan pada produk masing-masing pengusaha. Semakin relevan dan sederhana maka akan semakin diminati. Contoh lain adalah penggunaan Gopay atau OVO, itu sangat sederhana dan membantu sekali,” tegasnya.

Lebih lanjut, Yuswohady juga menekankan pentingnya sebuah kegiatan ‘fisik’ dalam berbisnis. Hal tersebut berguna untuk mengakomodir keinginan konsumen yang memerlukan produk melalui cara berinteraksi langsung.

Kemudian, ketika Redaksi menanyakan soal kedinamisan brand kecil dalam menggunakan media digital dibandingkan dengan brand besar yang cenderung lambat untuk mengadopsi teknologi, dia menyebut bahwa hal tersebut jamak terjadi. Penulis buku best seller “Millenials Kill Everything” itu melontarkan pendapat dua hal.

Pertama, brand kecil dan brand-brand starup saat ini umumnya lahir pada era digital yang sudah cukup familiar dengan teknologi. Sedangkan, brand besar cenderung konservatif karena tumbuh dan besar di era sebelum digital berkembang.

Kedua, kekuatan spending brand kecil tidak terlalu besar. Untuk mengakali hal tersebut mereka memanfaatkan sarana media sosial secara optimal untuk kegiatan promosi dan selling. Sehingga,  proses transisi digital terkesan lebih smooth.

Sementara itu, brand-brand raksasa saat ini berusaha keras untuk mengadopsi digital dalam kehidupan berbisnisnya. Sebuah hal yang sangat jarang meraka lakukan pada masa kejayaan.

“Lihat saja brand-brand baru saat ini sangat gesit dan bisa tumbuh menjadi brand eksponensial, growth-nya bisa 10 kali lipat,” imbuhnya.

Disis lain, Yuswohadi juga memberikan catatan terkait dengan efek jenuh atau bubble yang berpotensi terjadi pada dunia usaha dalam memanfaatkan media digital. Menurut dia, efek bubble justu akan menjadi filter tersendiri agar bisa melihat sejauh mana sebuah usaha dapat proven. Pada momentum tersebut, lanjut dia, akan semakin jelas bisnis-bisnis apa yang tergolong survive dan bisa diandalkan.

“Yang namanya berlebih itu memang tidak baik. Tapi jangan takut, setiap bisnis yang tumbang pasti akan ada yang menggantikan. Kan, tidak mungkin juga hilang sama sekali. Fenomena ini bisa kita cermati saat booming dotcom pada awal 2000an lalu. Sekarang kan terlihat mana yang masih berjalan,” ungkapnya.

Pada akhir wawancara, Yuswohadi memberikan sedikit penekanan. Dalam tiga tahun terakhir pemanfaatan media digital tidak bisa dipungkiri telah memainkan peranan penting dalam mempromosikan dan menjual sebuah produk.

“Mungkin lima tahun lalu orang masih ragu untuk menentukan mana yang lebih efektif antara beriklan di media konvensional atau digital. Maka, saat ini media digital punya level tersendiri dalam menggaet konsumen karena orang-orang memang adanya disana,” tutup dia.