Franchiseglobal.com –Siapa ara milenial membunuh kategori- kategori bisnis? Jangan salahkan milenial, tetapi salahkan model bisnis Anda yang tidak berubah mengikuti kebutuhan konsumen. Hal itu diutarakan Yongky Susilo selaku Konsultan Pemasaran Ritel Nielsen Indonesia dalam pemaparannya bertajuk “Pengembangan Berkelanjutan untuk Bisnis Waralaba” di acara Pengumpulan Perhimpunan Waralaba & Lisensi Indonesia (WALI) di pameran FLEI 2019 .

Memilih bisnis yang tepat tentu saja menjadi kunci kesuksesan. Untuk itu, penting bagi kita, untuk membahas tentang bisnis yang bisa menjadi pilihan di tahun ini dan mendatang. Yongky mengatakan masyarakat Indonesia memilih banyak hal dan harga murah. Padahal bisnis yang dipilih adalah kualitas dan pengalamannya.

“Saya yakin jika Anda tidak berpartisipasi untuk mengedepankan kualitas produk, maka bisnis Anda akan tumbang,” katanya di pameran FLEI 2019, Minggu, (15/9).

Dia menjelaskan pertumbuhan bisnis ke depan yang akan berada di wilayah dengan penduduknya yang didukung kelas menengah. Karena semua negara saat ini mencari wilayah dengan kelas menengah mana yang paling besar, maka diharapkan ada di wilayah Asia.

Beberapa kategori bisnis yang dibutuhkan oleh kelas menengah ini antara lain; malls store with resto, consumer durables, licensed brand fashion, sport, entertainment, lifestyle, fashion & accessories, culinary f&b diversity.

“Dalam mendukung perkembangan bisnis di kategori tersebut tentu penting memahami kebutuhan konsumen. Baik dari support teknologi, digitalisasi, inovasi baru dan kekinian, serba cepat baik online maupun offline, dan memnuhi basic human needs saat ini adalah Wifi dan baterai,” ungkapnya.

Yongky juga memandang ke depan pemain bisnis yang berkembang adalah mereka pemain yang kecil sebab mereka bergerak dengan cepat. Sehingga bisnis sekarang ini tidaklah mengharuskan segala produksinya dihandle sendiri, melainkan adanya kolaborasi. Sebab ini eranya yang kecil gesit, Smart eat dumb, dan membangun ecosystem (bergandengan dalam mengembangkan sesuatu).

“Kita harus paham bahwa Shopper ia cyborg bukan robot. Mereka ini menginginkan segalanya agar efficient, fast, extended memory, digital oxygen, anytime/anywhere dan upload/download,” ungkapnya.

Lalu bagaimana agar bisnis dapat sustainable yakni bisnis harus menggunakan produk dalam negeri, memilih brand yang dapat bekerja, adanya action dan memiliki story. Dan brand yang dapat menjadi pilihan untuk investasi adalah brand yang ter recommended, preferres, dependables, regulars, considered, trialists dan mendapatkan award.

Di satu sisi Yongky memandang hadirnya E-commerce justru tidak akan membunuh offline, selagi model bisnisnya mau berubah. Utamanya dengan meningkatkan emosi bukan sekedar transaksi. Bahkan sebaliknya justru E-Commerceyang nantinya tidak akan sustainable, sebab merupakan transaksi trader bukan real. “Maka E-Commerce juga perlu menghadirkan toko offlinenya dan sebaliknya offline juga membutuhkan dukungan toko onlinenya.”

Ia yakin dengan melihat kondisi saat ini di Indonesia ditahun ke depan 2020 menjadi pertumbuhan bisnis waralaba. Apa yang membuat optimis ke depan? Antara lain terdapat pembangunan infrastruktur dan SDM yang dilakukan oleh pemerintah. Faktor-faktor yang penting dalam memabangun bisnis dan menyediakan SDM unggul. [hfz]