Gurihnya bisnis coffee shop & Donut membuat para pengusaha di tanah air mulai ramai banting setir mengkreasikan usaha serupa. Seperti yang telah dilakukan oleh waralaba Double Dipps yang menawarkan dua konsep investasi yaitu  Coffee Shop (CS) dan Coffe Shop with Open Kitchen Donut (CSwOKD). Sejak berdiri pada 2008 lalu, waralaba kudapan yang satu ini telah berhasil membuka lebih dari 40 outlet yang tersebar dibeberapa kota besar.

Model Coffe shop yang diusung Double Dipps sendiri adalah coffe shop plus. Artinya, konsumen tidak hanya mencicipi makanan ringan saja, tetapi juga ditawarkan makanan berat dengan beragam varian minuman. Tujuannya, supaya mitra bisnis mereka memperoleh omset yang lebih maksimal.

Setelah hampir delapan tahun berjalan, waralaba ini mulai berekspansi ke arah kota kedua terbesar yang sedang berkembang di masing masing propinsi. Wilayah tersebut dibidik karena kondisinya yang sedang berkembang tetapi taraf  kehidupannya sangat baik. Selain itu kota-kota bidikan tersebut saat ini belum banyak coffee shop yang melakukan ekspansi kesana.

“Seluruh daerah di Indonesia memiliki potensi, hanya saja pengembangan saat ini kami arahkan ke kota terbesar kedua yang sedang berkembang di masing masing propinsi.  Contohnya seperti beberapa kota kabupaten di Kalimantan dan Sulawesi atau Indonesia bagian Timur. Sementara untuk menu yang disediakan, beberapa adalah western food tetapi mengangkat cita rasa nusantara dan bersertifikat halal MUI,” ungkap Alvin Nathaniel Operational Support Manager.

Bagi yang berminat menjadi franchisee, Dobule Dipps CS dan CSwOKD memiliki memiliki sedikit perbedaan dari luas tempat dan nilai investasinya. “Kalau Coffee Shop ( luas min 120 m2 ) dan Open Kitchen Donut with Coffee Shop ( luas min 150 m2  ). Perbedaannya untuk Open Kitchen Donut with Coffee Shop tidak hanya makan dan minum saja, tetapi customer bisa melihat proses produksi donut secara langsung. Sementara untuk nilai investasinya sendiri dimulai dari angka Rp 800 juta sampai Rp 1,25 M,” Imbuh Alvin.

Dengan investasi tersebut, break even point atau balik modalnya berkisar antara dua sampai dua setengah tahun. Dari pengalaman Double Dipps selama ini, rekor tercepat break even point adalah satu tahun untuk salah satu outlet yang berada di perkotaan. pengalaman selama beroprasi, omset yang bisa dihasilkan satu outlet dalam sebulanantara Rp 120 – 250 juta  tergantung tempat.

Peluang usaha yang ditawarkan ini memiliki syarat dan ketentuan khusus terkait lokasi. “Secara umum daerah yang disarankan untuk membuka outlet adalah cukup padat, traffic yang menunjang, ramai dan mempunyai daya beli yang sesuai dengan kelas Double Dipps. Pilihan utama stand alone, di Rumah sakit Rumah sakit, perkantoran dan jika ingin berusaha di mall, kita memilih mall grade B,” akhir Alvin. 

Klik Double Dipps untuk mendapatkan informasi kemitraan lebih lanjut.