Franchiseglobal.com - Cepat atau lambat, digitalisasi menjadi masa depan dari dunia bisnis yang akan datang. Bahkan beberapa para ahli pun pernah berpendapat bahwa hanya perusahaan yang menjalankan transformasi digital-lah yang akan mampu tetap eksis, sementara sisanya akan tergerus.

Hal ini juga dipertegas oleh Chairman TRAS N CO Indonesia sekaligus penggagas Indonesia Digital Popular Brand Award (IDPBA), Tri Raharjo saat menggelar jumpa pers IDPBA 2019 di Hotel Shangri-La Jakarta, akhir pekan lalu.

Pria yang kerap menjadi pembicara di sebuah acara seminar ini mengungkapkan bahwa saat ini beberapa perusahaan besar telah melihat digitalisasi sebagai transformasi dari bisnis mereka. Sehingga dalam catatannya, era digital menjadi masa depan sebuah brand yang harus dimasuki lebih dalam.

“Jadi kalau saya melihat beberapa pemain (pelaku brand-red) mulai ready. Karena mereka menganggap digital adalah market sekarang dan yang akan datang. Sehingga mau tidak mau mereka harus melakukan transformasi secara digital,” ungkap Tri.

Namun, kata Tri, transformasi digital yang kini terjadi secara masif ini membawa tantangan tersendiri, sehingga dibutuhkan keterlibatan semua pihak untuk bersama membentuk ekosistem digital yang kohesif.

“Terkadang challenge terbesar ketika masuk ke ranah digital adalah di ranah SDM (Sumber Daya Manusia) mereka sendiri. Tapi biasanya sebelum mereka masuk ke digital, mereka melakukan study terlebih dahulu, sehingga kebutuhan pasar betul-betul diserap aspirasinya secara baik. Setelah itu baru mereka membuat strategi campaign yang tepat untuk plannya seperti apa,” tuturnya.

Dia mencontohkan, beberapa waktu lalu pihaknya telah mengundang salah satu pemain es krim ternama di Indonesia yakni Campina. Menurut Tri, dalam melakukan branding activity-nya, merek es krim asal Surabaya itu telah memanfaatkan para vlogger yang sudah disesuaikan dengan target market yang mereka bidik.

“Dengan begitu akan banyak creativity yang bisa diungkap. Secara budget juga lebih hemat. Tapi dalam pemilihan vlogger, mereka juga betul-betul disesuaikan. Misalnya berapa subscribernya, lalu berapa jangkauan yang didapat dari konten yang sudah mereka posting. Itu juga jadi perhatian mereka,” jelasnya.

Bahkan untuk bisa mendapatkan income yang positif, Tri melanjutkan, para pelaku brand juga telah menggandeng beberapa marketplace dan juga beberapa alat pembayaran untuk campaign promosi mereka.

“Memang kalau dari sisi income itu secara digital masing-masing brand berbeda. Tapi mereka menganggap bahwa campaign melalui digital akan sangat mempengaruhi campaign secara nasional,” tutup Tri.