Sejak awal mewaralabakan bisnisnya pada medio 2014an. Carvil sudah terpercaya bagi para investor dengan membuka kerjasama secara Management by Franchisor. Artinya outlet franchise yang dimiliki mitra akan dijalankan dan dikelola langsung oleh pusat. Dengan sistem tersebut juga, selama ini para mitra waralaba Carvil menjadi investor pasif lewat sistem bagi hasil.

Namun seiring berjalannya waktu, tidak jarang para calon mitra yang tertarik untuk bermitra dengan Carvil, menginginkan kerjasama yang membutuhkan peran aktif mitra dalam pengelolaan outlet franchisenya tersebut. Terlebih para peminat bisnis franchise sekarang ini tidak sedikit yang berasal dari karyawan, atau profesional yang memasuki masa purna karya.

Bila selama ini para profesional memiliki kesibukan dalam bidang pekerjaannya, kemudian berubah kehidupannya 180 derajat setelah memasuki masa purna karya dan berganti kuadran, orang tersebut amat rentan terkena gejala post-power syndrom.

Gejala post-power syndrom di sini maksudnya adalah seseorang yang masih tenggelam dalam hingar bingar kesuksesan, dan keaktifan saat masa-masa produktifnya. Kondisi ini tentu yang banyak dihindari oleh mereka yang tidak ingin kehilangan rasa kepercayaan dirinya usai memasuki masa pensiun.

Salah satu cara untuk mencegah gejala post-power syndrom ini adalah dengan mengaktualisasi diri di bidang kehidupan lain. Contohnya adalah menjadi seorang pengusaha franchise dan mengembangkan usahanya lewat peran aktif mereka sendiri. Hal ini yang diungkapkan langsung oleh Jenny Sugijantoro, Deputi General Manager PT. Carvil Abadi.

Menurutnya sistem kerjasama operate by franchisee ini dikembangkan untuk para calon mitra yang memiliki latar belakang para pensiunan. “Selama ini franchise Carvil memakai sistem operate by franchisor, nah tahun ini kami kembangkan sistem baru berupa operate by franchisee. Jadi bagi mereka yang ingin aktif dalam mengembangkan bisnisnya, bisa terjun langsung mengelola operasional outlet mereka. Sehingga mereka ada aktifitas,” ujarnya.

Lebih lanjut, walau di sistem baru mitra dituntut untuk berperan serta dalam operasional dan pengembangan bisnis franchisenya, namun jangan khawatir bila mitra masih minim pengalaman. Karena waralaba Carvil sebagai franchisor akan tetap memberikan support training dan pendampingan hingga mitra bisa stabil dalam menjalankan bisnisnya.

Training yang diberikan masih seputar pengelolaan bisnis ritel fashion Carvil, seperti product knowledge, pembukuan, sampai sales produk. Tidak hanya itu, untuk skema pembagian keuntungan pun akan berbeda dari sistem pengelolaan oleh franchisor.

Jenny mengatakan jika margin profit sharing yang mitra dapat akan lebih besar, dibanding bila pengelolaan dilakukan oleh pusat. Dari segi investasi, dua sistem kerjasama ini juga tidak akan jauh berbeda. Namun perlu menjadi catatan bagi calon investor, jika biaya oprasional dan karyawan gratis alias nihil, karena semua ditanggung oleh pusat. Dan yang terpenting adalah, PT Carvil Abadi tidak memungut royalty fee sama sekali. Anda tertarik?

Untuk informasi lebih lengkap mengenai investasi, syarat bermitra, usulan lokasi dan lain-lain, sila Klik Waralaba Carvil.