“Brand tidak sama dengan logo. Lebih dari itu, brand adalah sesuatu yang melekat pada sebuah merek dagang yang kemudian bertransformasi menjadi identitas yang membedakan dengan yang lain,”

 

Begitu kurang lebih kutipan ini presentasi dari seorang Subiakto Priosoedarsono. Pria yang pada pekan lalu (24/8) mengenapi kiprahnya selama 50 tahun dalam industri branding di Tanah Air, sekaligus bertepatan dengan hari ulang tahun yang ke-70.

Pria penuh semangat yang akrab disapa Pak Bi ini merupakan insiator dari lahirnya brand Teh Botol Sosro kala dirinya berdiskusi dengan sang pemilik Soetijpto Sosrodjo pada medio 70an. Hasilnya luar biasa. Hingga lebih dari 40 tahun berjalan, brand Teh Botol Sosro menjelma menjadi market leader minuman teh dalam kemasan di Indonesia.

Kepiawaian Pak Bi dalam memajukan industri branding di Tanah Air patut diacungi jempol. Salah satu masterpiece buah tangan dinginnya adalah tagline dari salah satu produk mie instan besutan PT Indofood yaitu Indomie, dengan jingle “Indomie Seleraku,”. Lalu, dia jugalah orang yang berperan besar dalam menciptakan tagline Kopiko, yaitu “Kopiko Gantinya Ngopi,”.

Berbagai karya besar Pak Bi tersebut kemudian membawanya pada pemikirian bahwa setiap orang bisa menciptakan brand mereka sendiri asalkan tahu bagaimana cara mengkomunikasikan pesan secara baik.

“Untuk saya untuk membuat brand adalah bagaimana memahami benak dari market atau pasar,” ujarnya dalam presentasi Seminar Rebranding Indonesia, di Jakarta, Sabtu (24/8).

Menurut dia, pemahaman pola pikir dan penguasaan mindset dari konsumen adalah hal yang paling utama dalam memenangkan pasar. Untuk itu, stigma pemilik brand harus mulai berubah saat ini, agar dapat menangkap peluang yang akan hadir dikemudian hari.

“Setalah kita tahu isi benak mereka, maka dicari habit-nya seperti apa. Orang brand adalah orang yang harus bisa memprediksi pasar. Contohnya adalah kopi. Saat saya meng-handle Kopiko, saya harus bisa menguasai pemikiran bahwa setiap orang pasti meminum kopi. Tapi bagaimana kita mengakomodir kebutuhan market yang tidak hanya di Indonesia, tetapi secara global. Itulah, mengapa permen kopi tersebut bisa diterima secara internasional,” tuturnya.

Dengan pengalamannya selama setengah abad berkecimpung dalam industri branding, Pak Bi mengidentifikasikan bahwa brand merupakan sesuatu yang bisa mendatangkan keuntungan. Dibalik itu, brand juga bisa menjadi sebuah doktrin memori yang tidak bisa dilupakan. Ambil contoh, jingle atau tagline sebuah brand yang secara masih disebarluaskan kepada khalayak pasti akan memberikan dampak ingatan yang sulit untuk dilupakan.

“Ayo dari semua peserta yang hadir, ada yang bisa melupakan jingle dari Indomie? Tidak ada yang bisa kan? Untuk itu, kita perlu menghadirkan identitas brand yang benar-benar baik, agar memori yang tertanam pada market juga positif,” jelasnya kepada peserta seminar.

Adapun terkait rebranding, Pak Bi menyebut pergantian atau penyegaran yang dilakukan sebuah brand bisa disebabkan oleh beberapa hal. Penyatuan beberapa unit bisnis (marger), pengalihan usaha, masalah finansial, sampai pada pembidikan market baru adalah beberapa contoh sebuah entitas melakukan rebranding.

“Banyak orang yang menganggap bahwa rebranding itu hanya pergantian logo, padahal tidak. Rebranding memang identik dari perubahan struktur logo usaha, tetapi ada makna yang ingin dikomunikasikan oleh brand tersebut kepada masyarakat, ada filosofi tersendiri dibalik rebranding yaitu repositioning dari brand-nya itu,” terangnya.

Pak Bi menjelaskan bahwa repositioning sendiri dapat berupa pembaharuan dari beberapa target dan pendekatan brand dalam memenangkan pasar yang semakin dinamis. Repositioning juga bisa menggambarkan perubahan orientasi sebuah brand dalam mencapai tujuannya di masa depan.

“Repositioning adalah value baru yang ditawarkan oleh sebuah brand,” sebutnya tegas.

Terkait dengan tema seminar yakni Rebranding Indonesia, Pak Bi menyebut jika semangat tersebut harus digelorakan oleh para pelaku UKM (usaha kecil dan menengah) selaku ujung tombaknya.

“Karena UKM merupakan indigenous Indonesia yang merepresentasikan kekayaan serta budaya Indonesia yang membentang dari Sabang Sampai Merauke. Contohnya adalah sambal, yang setiap daerah itu memiliki kekhasannya tersendiri,” imbuhnya.

Untuk itu, pemuatan branding yang bersifat ke-Indonesiaan harus terus dioptimalkan, terkhusus pada usaha yang berskala mikro, yang berkharakteristik kecil namun mempunyai kuantitas yang sangat banyak.

“Hal tersebut perlu dilakukan secara masif agar menjadi sebuah gerakan atau movement yang bersifat luas. Sehingga, gaung branding-nya akan semakin terdengar,” tutupnya.