JAKARTA, FRANCHISEGLOBAL.COM – Sejak diberlakukannya masa Pembatasan Sosial Berskala Besar (PSBB) di beberapa kota besar di Indonesia beberapa waktu lalu nyatanya ikut membawa dampak besar terhadap tren minat belanja online. Tentunya, hal ini juga membawa keberkahan tersendiri bagi para pemain jasa kurir di tanah air, salah satunya adalah SAP Express.

Selama masa pandemi, Perseroan dengan kode emiten SAPX itu telah mengalami pertumbuhan yang cukup baik. Hal ini disampaikan oleh Corporate Secretary PT Satria Antaran Prima, Denny Parhan dalam public expose yang digelar Perseroan di The Park Hotel, Rabu (22/7) kemarin.

Denny menyebutkan, pendapatan Perseroan di kuartal pertama tahun ini melonjak cukup signifikan sebesar 29,19% atau sebesar Rp108,63 miliar dibanding periode yang sama tahun lalu yang hanya tercatat Rp84,08 miliar.

“Begitu juga dengan profitability. Hingga sementer pertama tahun ini, kami telah berhasil mencatat kenaikan laba bersih sebesar 166,90% atau sebesar Rp11,36 miliar. Angka ini meningkat signifikan dibanding periode yang sama di tahun sebelumnya yang hanya sebesar Rp4,26 miliar,” katanya.

Sementara kata Denny, revenue Perseroan yang berasal dari segmen korporasi mengalami sedikit penurunan karena imbas dari banyaknya perusahaan-perusahaan yang memberlakukan kebijakan Work From Home (WFH) saat itu.

“Tentunya hal ini menyebabkan banyaknya kantor-kantor yang tidak beroperasi secara full sehingga secara langsung maupun tidak langsung mempengaruhi aktivitas pengiriman yang dilakukan oleh perusahaan-perusahaan tersebut,” jelasnya.

Sedangkan untuk segmen lainnya terutama segmen e-commerce mengalami peningkatan. Hal ini dikarenakan banyaknya toko atau tempat belanja offline yang menutup usahanya karena kebijakan PSBB tersebut. Dengan begitu, masyarakat yang biasa berbelanja secara offline kini mulai beralih ke online.

Lebih lanjut Denny mengatakan, dunia e-commerce saat ini telah mengalami perkembangan yang sangat pesat. Mengutip data yang dirilis oleh Statista Digital Market Outlook, dia menambahkan, hingga tahun 2022 nanti, penjualan e-commerce di Indonesia diperkirakan mencapai lebih dari 16,4 miliar dolar AS atau bertumbuh rata-rata sebesar 18% setiap tahunnya sejak 2018.

“Untuk itu, kami tetap optimis melangkah ke depan di tengah lesunya ekonomi karena pandemi COVID-19 sebagai imbas positif dari maraknya transaksi penjualan ritel melalui e-commerce yang melibatkan aktivitas pengiriman barang,” pungkasnya.