Franchiseglobal.com - Bisnis budidaya ikan masih terbuka lebar, salah satunya budidaya ikan Kerapu Hybrid. Alasan utamanya karena permintaan ikan jenis air payau ini besar sedangkan pembudidayanya masih terbilang sedikit. Perusahaan yang aktif dan telah sukses di bidang ini, PT. Ednovation International mengajak masyarakat Indonesia dapat mengambil peluang ini.

Irwan Tjandra selaku Direktur PT. Ednovation International mengatakan hingga akhir tahun 2019 ini pihaknya menargetkan dapat memanen 1 ton ikan kerapu setiap bulannya. Hal itu didukung dari mitra kerjasama yang bergabung untuk mendirikan tambak ikan, sampai saat ini total kolam yang dikelola PT. Ednovation International mencapai 400 kolam.

“Jumlah 400 kolam ini sebenarnya untuk tahun 2020 belum mencukupi dalam hal memenuhi permintaan ikan kerapu di pasaran. Dengan begitu kita mengajak calon investor untuk bergabung, sehingga dapat membangun 1000 petak kolam,” katanya kepada Franchiseglobal.com di Pameran Info Franchise & Business Concept (IFBC) Expo 2019, di Jakarta Convention Center, Jumat, (22/11/2019).

PT Ednovation International meraih Rising Business Award 2019 

Dia menjelaskan pasar ikan kerapu sangatlah besar bahkan mengalami kenaikan setiap tahunnya. Sejauh ini menjadi permasalahan pembudidaya ikan laut ada pada aturan, namun dengan hadirnya kabinet baru di bawah pemerintahan saat ini dapat memudahkan pembudidaya. Salah satu aturan yang cukup mengganjal adalah peraturan ekspor.

“Kita pun sudah melayani pasar ekspor utamanya untuk negara Hongkong, di satu negara ini pun saja masih cukup kurang untuk memenuhi permintaan,” ungkapnya.

Irwan melihat, sudah seharusnya Indonesia dapat mengembangkan para pembudidaya ikan. Sebab, negara luar pun sudah mulai memperhatikan hal itu, bahkan mereka malah justru belajar kepada pembudidaya ikan Kerapu di Indonesia.

PT. Ednovation International selain membudidaya juga membuka peluang untuk sharing pengetahuan budidaya ikan kerapu. Sebab usaha di bidang perikanan memiliki profit yang cukup tinggi, tetapi jarang dilirik. 

“Jarang dilirik itu karena memang dahulu itu resikonya cukup tinggi. Namun berbeda dengan sekarang yang sudah adanya teknologi, sehingga resikonya bisa ditekan seminim mungkin. Apalagi saat ini pemerintah mensupport laboratorium melalui Balai Budidaya Ikan,” ujarnya.

Paket kemitraan yang ditawarkan oleh Ednovation dibandrol mulai dari Rp60 juta hingga Rp400 juta. Untuk skema investasi nominal terkecil, investor akan mendapatkan 500 benih ikan kerapu yang ditempatkan dalam satu petak lahan. Saat panen, satu petak lahan tersebut dapat menghasilkan sekitar 300 Kg ikan kerapu yang dijual Rp150.000 perkilogramnya dalam kondisi hidup. Skema kerjasama ini berlaku selama 5 tahun. [hfz]