Franchiseglobal.com - Salah satu klinik kecantikan asal Purwokerto, Puspo Aesthetic Clinic mulai menawarkan peluang kerjasama melalui sistem waralaba setelah lima tahun berdiri sejak 2014 lalu. Hal ini disampaikan oleh sang owner, Wawan Sulistiyadi saat ditemui di pameran waralaba akhir pekan lalu di Jakarta.

Menurut pria yang juga seorang dokter ini, klinik kecantikan yang dia kembangkan bersama sang istri kini sudah memiliki empat cabang yang semuanya masih tersebar di area Jawa. “Dan 2019 ini kita mulai masuk bisnis franchise. Kita sudah urus STPW (Surat Tanda Pendaftaran Waralaba) di Kemendag juga,” ujarnya.

Menurutnya, Puspo Aesthetic Clinic  dibangun dengan konsep modern yang dipadukan dengan semangat Indonesia, tepatnya dengan budaya Jawa. “Jadi nanti dimanapun franchisee-nya, tetap ada budaya Jawanya walau hanya dalam tampilannya saja. Kalau tekniknya tetap modern,” kata dia.

Sementara itu, sang istri, Dyah Pusporini menyatakan bahwa pihaknya telah siap dengan konsep waralaba yang ditawarkannya. Apalagi, kata dia, waralaba di kategori yang sama (klinik kecantikan-red) masih sangat sedikit persaingannya. Sehingga tak menutup untuk mereka mengisi ceruk market disana.

“Pangsa pasar kami menengah ke atas. Kenapa kami baru sekarang membuka waralaba, karena selama lima tahun ini kami menjaring pangsa pasar terlebih dahulu,” ungkapnya.

Adapun high treatment yang ditawarkan Puspo Aesthetic Clinic seperti tanam benang, botox dan filler dengan harga mulai dari Rp2,5 jutaan. “Mereka yang datang ke klinik kami bukan hanya dari area Jawa Tengah saja, tapi juga dari Jakarta, Bandung, Jawa Timur, itu mereka datang ke klinik kami,” kata dia.

Terkait dengan strategi promosinya sendiri, Dyah mengandalkan sosial media, terutama Instagram. Dyah mengaku, setiap hari tim sosmednya memposting lima gambar atau foto sebagai bagian dari strategi promosinya.

“Mereka yang datang itu kebanyakan taunya dari IG (Instagram-red). Jadi menurut saya IG itu sangat efektif sekali. Di IG, kami sering posting foto real pasien before after. Dan respon masyarakat sangat bagus,” jelasnya.

Dyah juga sangat selektif sekali soal urusan tenaga medis dan paramedis yang dipekerjakan di klinik kecantikannya itu. Menurut dia, tenaga kesehatan yang mereka pekerjakan adalah yang berkompetensi.

“Kami memang sangat selektif sekali. Karena ini klinik kecantikan. Untuk medisnya itu harus dokter. Sementara paramedisnya itu minimal D3 kebidanan dan keperawatan. Mereka punya basic kesehatan nanti kita lengkapi lagi sama keterampilan aestheticnya,” katanya.

Adapun nilai investasi untuk menjadi mitra Puspo Aesthetic Clinic sebesar Rp900 juta. Nilai tersebut belum termasuk sewa ruko. Hanya saja sudah termasuk franchise fee 100 juta untuk kerjasama selama lima tahun.

Untuk royalti fee-nya, Dya menyebut tergantung omset yang didapat mitra nantinya. Kalau omset Rp100 juta ke bawah maka royalti fee-nya sebesar 5 persen. Sementara kalau omsetnya Rp100 juta ke atas maka royalti fee-nya 10 persen.

“Perkiraan omset itu sekitar Rp125 juta per bulan. Kalau di Tegal bisa Rp250 juta per bulan. Balik modal biasanya 18 bulan sudah balik modal,” kata dia.

Sampai akhir tahun 2019, Dyah menargetkan bisa membuka sebanyak 6 cabang untuk area Jawa. Tapi tak menutup kemungkinan nantinya juga akan menyebar hingga luar Jawa.

“Tapi untuk sementara kita targetkan untuk area Jawa dulu,” pungkasnya. [ded]