Menurut Ita (sapaan akrabnya), selain marketnya yang besar dengan jumlah populasi mencapai 263 juta jiwa, industri ini juga ditunjang dengan tiga faktor utama seperti infrastruktur, teknologi digital dan beleid pemerintah yang semakin melunak.

Semakin masifnya pemerintah membangun infrastruktur membuat pengiriman logistik menjadi semakin mudah, murah, dan efektif. “Dengan adanya jalan tol sekarang pengiriman barang lebih gampang, lebih cepat, lebih aman, terjamin dan jaraknya menjadi lebih dekat,” ujarnya seperti dikutip dari Annual Brand Catalogue 2019 yang dirilis INFOBRAND.ID.

Selain itu, teknologi digital marketing juga memiliki peran yang sangat penting. Dengan begitu, pelaku usaha bisa dengan mudah dalam mempromosikan bisnisnya itu. Terakhir adalah di mana Kemendag (Kementerian perdagangan) Republik Indonesia telah memperlonggar aturan waralaba di Indonesia.

“Dengan begitu, para pelaku usaha akan lebih mudah untuk proses pengajuan Surat Tanda Pendaftaran Waralaba (STPW). Bahkan tanpa biaya. Cukup mengakses laman oss.go.id dan ikuti petunjuk selanjutnya,” tambah Ita yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Tetap KADIN Bidang Waralaba, Lisensi dan Kemitraan ini.

Ita menambahkan kalau perhimpunan atau organisasi yang dipimpinnya juga telah siap mengawal industri ini ke arah yang lebih baik. Salah satunya dengan rutin menyelenggarakan event, seminar, training, workshop, diskusi rutin melalui group WA dan lain sebagainya. Dan uniknya, WALI membuka diri kepada non anggotanya untuk mengikuti kegiatan tersebut.

“Bisnis waralaba harus terus dilakukan pembaruan, untuk itu Perhimpunan Wali terus berupaya memberikan pengetahuan melalui pertemuan dan diskusi. Artinya, harus terus di-update. Untuk itulah Perhimpunan WALI selalu siap mengawal, memberikan pengetahuan, menghadirkan bisnis baru sekaligus menciptakan enterpreneur baru yang tangguh,” ujarnya.

Terakhir, Ita berpesan kepada para principal untuk turut aktif menciptakan atmosfir yang positif. Salah satunya dengan terus berbenah diri bagi Principal. Serta wajib selektif baik principal dalam memilih mitra, maupun mitra ketika memilih bisnis.

“Untuk franchisor, jangan terlalu cepat menjual bisnisnya. Pilihlah franchisee yang mempunyai satu visi dalam memajukan bisnis franchise tersebut. Kemudian kreatif dalam menjalankan bisnis dan terus update respon pasar. Lalu untuk franchisee, pilihlah bisnis yang sudah terbukti menguntungkan. Cek outlet-outlet bisnis tersebut, serta sudah berapa lama bisnis berjalan,” pungkasnya.