“Sekalipun ini tahun politik, bisnis franchise tidak lagi stagnan karena mereka sudah mempersiapkan jalan bisnisnya untuk lebih maju dari tahun sebelumnya,” kata Levita kepada Franchiseglobal.com di Resto I-ta Suki di Gandaria City, Jakarta Selatan, Kamis, (28/3/2019).

Dia menjelaskan peningkatan persentase bisnis franchise nantinya akan terlihat di semester ke dua hingga ke empat. Tahun politik memang sangat mempengaruhi bisnis, bukan berarti lesu tetapi pembisnis masih belum berani mengekspansi bisnis mereka dengan memilih melihat kondisi Indonesia ke depan seperti apa.

“Sekarang kan mereka sudah melihat, apapun kondisi Indonesia ke depan baik siapapun presidennya nanti dengan programnya masing- masing,” ujarnya.

Levita menyampaikan pertumbuhan franchise terus memberikan kontribusi besar, setidaknya setiap tahunnya menyumbang Rp150 triliun dan terus bertambah di setiap tahunnya. Hal itu dilihat banyaknya waralaba lokal dan masuknya waralaba asing ke Indonesia.  Waralaba asing paling banyak dari negara antara lain; korea, Malaysia dan Amerika. Penyebabnya karena banyak orang Indonesia belajar ke negara- negara tersebut.

“Saya menyampaikan kepada waralaba lokal tidak usah takut terhadap pengaruh waralaba asing, kita ambil positifnya. Sehingga kita dapat belajar dari mereka sekaligus bersaing, akhirnya waralaba lokal tidak hanya jago kandang ke depannya. Melalui kehadiran waralaba asing tersebut kita dapat mengintropeksi diri kita,” katanya.

Entrepreneur sukses di bidang food and beverages (f&b) itu menyampaikan bisnis waralaba Indonesia kini terus berekspansi ke luar negeri, salahsatunya ke Timur Tengah Arab Saudi. Levita melihat peluang bisnis di sana cukup besar, mereka membuka pintu sebesar- besarnya bagi waralaba Indonesia.

“Respon di sana cukup bagus, salah satu bisnis franchise yang berkembang di sana ada brand J.CO. Brand ini banyak dikenal oleh masyarakat di sana. Sehingga ini peluang, sayangnya banyak pembisnis Indonesia yang masih takut untuk mengekspansi bisnisnya ke sana,” tuturnya.

Melihat peluang tersebut, Ia mengajak kepada pembisnis Indonesia untuk tidak takut mengekspansi usahanya, sebab di luar negeri pun bisnis Indonesia dapat berkembang. Untuk saat ini bisnis Indonesia di luar negeri baru 10 persen, adapun untuk tahun ini diharapkan meningkat. Alasannya pemerintah sendiri telah memberikan support sebesar- besarnya, begitupun dengan adanya asosiasi pengusaha juga dapat menjembatani pelaku usaha.

“Melalui KADIN, WALI dan asosiasi lainnya sehingga kita sama- sama membawa waralaba Nasional untuk go Internasional. Ke depannya waralaba Indonesia tidak hanya sampai di Asia, tetapi bisa sampai ke Eropa, Amerika dan Timur Tengah,” tuturnya.

Adapun kategori usaha yang potensial untuk diekspansi adalah bisnis F&B, Spa dan ritel. Tiga kategori itulah yang masih memegang nilai tinggi untuk go internasional. [hfz]