Franchiseglobal.com - Indonesia memiliki mimpi dari 16 besar ekonomi negara di dunia menjadi  10 besar di tahun 2030. Bahkan jika mimpi ini tercapai maka income perkapita masyarakat Indonesia akan naik mencapai US$ 20.000 per tahun, di mana saat ini hanya US$ 3.927 atau sekitar Rp 56 juta menurut data Badan Pusat Statistik tahun 2018.

Untuk mencapainya, tentu ada tantangan dan tantangan terbesar Indonesia adalah sumber daya manusia (SDM). Saat ini produktif SDM-nya masih berada di bawah negara China dan India. Sehingga hadir sebuah mega seminar dengan mengundang Professor Dave Ulrich selaku World’s #1 Management Guru (Business Week) and Top 5 Business Coach (Forbes Magazine), untuk berbicara mengenai industry 4.0 dengan menyiapkan SDM kompeten dan bagaimana peran HR (Human Resources). Seminar ini diusung oleh GML Performance Consulting dan Knowcap event organizer yang diselenggarakan di Hotel JW Marriot- Jakarta, 24- 25 Oktober 2019.

Suwardi Luis, CEO of PT. GML Performance Consulting mengatakan pemerintah Indonesia juga telah mengeluarkan kebijakan revolusi industry 4.0, akantetapi dalam mengimplementasikannya tidaklah mudah. Sehingga melalui seminar ini yang dihadiri oleh 300 lebih HR Director perusahaan- perusahaan terkemuka di Indonesia, berkumpul mendengarkan inspirasi dari dunia.

“Harapan kita diskusi ini tidak hanya sebatas wacana di dalam ruangan, mereka nantinya bisa mengimplementasikan di masing- masing perusahaan. Selain itu juga kita dapat berkolaborasi antar perusahaan dan membentuk ekosistem. Sehingga dapat membangun SDM yang dimulai dari dunia swasta dan BUMN, supaya lebih baik dan ini bisa meracuni organisasi pemerintah nantinya,” katanya kepada INFOBRAND.ID disela- sela Mega Seminar with Professor Dave Ulrich di Hotel JW Marriot- Jakarta, Jumat, (25/10/2019).

Suwardi menjelaskan dalam membangun SDM yang unggul tentu berbicara mengenai kompetensi di dalamnya ada pengetahuan mereka, keterampilan dan attitude sikap dari SDM itu. Akantetapi SDM unggul tidak bisa secara individu- individu saja yang unggul, namun mereka harus berkolaborasi dalam organisasi.

“Sehingga saya selalu sampaikan jika memilih antara banyak orang pinter dengan budaya kerja yang bagus, maka lebih penting budaya kerja yang bagus. Karena orang pinter tidak punya budaya, maka akan bertengkar, tetapi ketika SDM ini tidak terlalu pinter namun masuk ke budaya yang baik di mana mereka mau belajar, bekerjasama dan berani mencoba. Akhirnya mereka ini menjadi pintar, maka dalam diskusi ini kita tidak hanya membangun individu tetapi juga organisasinya,” ungkapnya.

Dalam membangun budaya bagus, perlu tahapan mencari budaya saat ini itu apa, lalu petakan strategi ke depan budaya apa yang diperlukan dan kemudian rancang budaya tersebut untuk mencapainya. Adapun saat ini memang banyak organisasi, misalnya pemerintahan itu budayanya masih sangat hirarki yang mana mereka mengendalikan penuh prosedur, hal ini jelas budaya lama.

Adapun sekarang itu, tergantung organisasinya jika strateginya ingin lebih lincah maka budayanya adalah budaya inovasi, budaya agility yang mana kepemimpinan bukan lagi model- model top down tetapi servant leadership. “Jadi pengelolaannya itu atasan mendukung bawahan bukan atasan meminta bawahan. Atau membangun budaya yang baru dimana kita harus sentuh hati mereka, dengan cara memberikan knowledge melalui pelatihan dan rubah perilaku mereka,” ujarnya.

Suwardi melanjutkan untuk merubah perilaku maka perlu adanya insentif atau kaitkan dengan penilaian prestasi kerja (performance appraisal), evaluasi kinerja mereka dan budaya baik itu dijalankan atau tidak. Sehingga KPI tidak hanya menjadi satu- satunya alat evaluasi tetapi juga nilai budayanya sendiri.

“Jadi jika kita punya budaya agility, kita nilai nih SDM lincah atau tidak kompetensinya. Nah digabunglah evaluasi KPI dan kompetensinya ini, maka akan dapat menjadikan mereka berubah,” ungkapya.

Seminar yang berlangsung selama dua hari mengusung tema ‘Winning In The Digital Age’, Suwardi menjelaskan tema ini konteksnya industry 4.0 dengan eranya kini kita berkompetensi untuk menjadi pemenang. Menang disini yang terpenting bukan hanya kompeten tetapi membangun ekosistem yang baik, malah justru sesama kompetitor saling berkolabrasi. [hfz]