Ide munculnya nama Plannet Chicken ini sendiri berawal dari sebuah ide untuk membuat satu varian chicken fillet (ayam tanpa tulang) yang bisa dibentuk dalam ukuran yang luar biasa extra large.

“Sampai itu menggunakan kemasan di luar kelaziman. Kemasannya 2 kali dari kemasan normal. Karena ini dipandang aneh, jadi kita bilang bahwa ini berasal dari planet lain, maka kita sebut sebagai Plannet Chicken,” ujar Bhakti saat berbincang dengan wartawan Franchiseglobal.com di pameran franchise di Jakarta beberapa waktu lalu.

Menurut Bhakti, konsep bisnis dari ayam goreng terbarunya ini disulap menjadi konsep yang serba luar biasa panjang. Dimana untuk ukuran panjangnya sendiri mulai dari 20 sentimeter sampai 30 sentimeter.

“Jadi semuanya itu serba di luar kelaziman. Itu inti diferensiasi konsepnya. Kemudian tentu bumbunya juga jadi extra lebih banyak, toppingnya juga, sehingga harganya juga jadi lebih tinggi dari fried chicken biasa,” katanya.

Adapun menu yang ditawarkan di Plannet Chicken seperti ayam lengkap dengan segala macam variannya, French fries (kentang goreng), burger, hotdog, dan menu lainnya yang dibuat dengan ukuran extra large. Soal harga, Bhakti membanderolnya mulai dari Rp30 ribu sampai Rp50 ribuan.

Saat ini, Plannet Chicken menawarkan peluang kerjasama melalui sistem kemitraan. Nilai investasinya mulai dari Rp250 juta untuk tipe ruko 50 meter, Rp300 juta untuk tipe resto 100 meter dan Rp350 juta untuk resto cafe 150 meter.

“Nilai tersebut sudah termasuk biaya renovasi outlet, peralatan dan perlengkapan, bahan baku, karyawan, seragam, kemasan, rekruitmen training, pembukaan sampai pendampingan,” katanya.

Saat ini, Plannet Chicken telah memiliki 4 cabang yang tersebar di Bandung, Banjarmasin, Palembang dan juga Bali. Untuk tahun 2019, Bhakti berharap bisnis ayam gorengnya ini terus tumbuh setidaknya setiap bulan bisa membuka 2 cabang baru.

“Jadi dalam setahun ada 24 cabang baru yang buka. Harapannya seperti itu,” pungkasnya. [ded]