Pria yang akrab disapa Diki itu memulai bisnis martabaknya sejak tahun 2016 lalu. Hingga kini, sudah ada 10 cabang Martabak Apin yang tersebar di beberapa kota besar di Indonesia seperti Cikampek, Karawang, Cirebon, Kuningan dan Palembang.

“Memang pesaing kami banyak dan banyak juga yang sudah besar. Namun, optimis mampu bersaing. Khususnya terkait harga produk yang terjangkau namun dengan kualitas nomor wahid,” ujar Diki pada Franchiseglobal.com beberapa waktu lalu.

Martabak Apin memiliki keunggulan lebih dibanding kompetitor. Selain harga, martabak yang satu ini juga banyak varian menu. Sedikitnya, kata Diki, ada 75 varian rasa yang disajikan.

“Setiap tiga bulan sekali kami update varian menu terbaru,” katanya.

Martabak Apin dibanderol mulai dari Rp27 ribu sampai Rp100 ribuan. Harga yang cukup terjangkau untuk menikmati legitnya Martabak Apin. Tak heran kalau Martabak Apin terus dibanjiri pesanan.

Untuk menjadi mitra Martabak Apin, modal yang dibutuhkan mulai Rp25 juta sampai Rp250 jutaan dengan masa kontrak kemitraan selama 4 tahun. Dengan modal tersebut mitra sudah mendapatkan peralatan lengkap.

“Sehingga mereka bisa langsung jualan martabak,” jelasnya.

Menurut Diki, mitra bisa balik modal dalam kurun waktu 2 tahun, tergantung dari lokasi mitra itu sendiri. Jika lokasi strategis, bisa jadi mitra bisa balik modal lebih cepat.

Di tahun 2019, Diki bersama Martabak Apin menargetkan 5 gerai baru di setiap tahunnya. Impiannya, Martabak Apin paling tidak akan mendobrak pasar bisnis Ibu Kota Jakarta.

“Kami ingin buka gerai di Jakarta. Dan kami targetkan setiap tahunnya akan menambah 5 gerai baru lagi di setiap wilayah,” tutupnya. [ded]