Edy merupakan salah satu pengusaha sukses yang berhasil memperkenalkan bisnis kulinernya, yakni D’PENYETZ ke mata dunia. Beberapa gerainya telah tumbuh berkembang ke sejumlah negara, seperti Singapura, Indonesia, Malaysia, Brunei Darussalam, dan Myanmar. Bahkan tahun depan (tahun 2019-red) rencananya Edy akan masuki pasar Australia sebagai negara keenam.

Saat berbincang dengan wartawan Franchiseglobal.com beberapa waktu lalu, pria yang terlahir dari keluarga pengusaha otomotif ini mengatakan kalau cikal bakal kuliner D’PENYETZ miliknya bukan berasal dari negara tempat dimana ia dilahirkan (Indonesia-red), melainkan dari negara tetangga, yakni Singapura. Dimana Edy yang merupakan seorang perantau di negeri orang itu telah berhasil mengembangkan bisnis kulinernya dengan citarasa khas Indonesia.

Saat ini D’PENYETZ sendiri telah memiliki lebih dari 100 gerai yang tersebar di 5 negara. Bukan hal yang mudah bagi Edy untuk bisa sukses seperti sekarang. Jatuh bangun saat membangun bisnis kulinernya ini sudah ia rasakan, sama seperti halnya para pengusaha lainnya. Tapi berkat tekad dan perjuangan kerasnya, akhirnya Edy bisa melewati semua hambatan itu.

Awal Menjadi Perantau di Negeri Singa

Saat itu tahun 1993, dimana Edy masih berusia 18 tahun. Dia memutuskan untuk merantau ke negeri Singa bukan untuk urusan kerjaan, melainkan untuk melanjutkan pendidikan disana. Tapi siapa sangka setelah setahun berada disana, Edy diminta untuk pulang ke Indonesia lantaran bisnis otomotif milik ayahnya bangkrut, sehingga tidak bisa lagi untuk mengirimkan biaya hidup untuk Edy selama menetap di Singapura.

Meski sudah diminta oleh ayahnya untuk pulang ke rumah, tapi Edy menolaknya. Dia memilih untuk tinggal dan hidup mandiri disana tanpa bantuan dari orang tuanya. Dari situlah babak baru kemandirian sosok Edy pun dimulai. “Saya sempat diminta kembali ke Indonesia oleh orang tua karena sudah tidak bisa mengirim uang lagi. Saya tolak permintaan mereka, saya memilih melanjutkan sekolah dengan usaha sendiri,” kenang Edy.

Edy yang dulunya tidak pernah merasakan hidup susah, saat itu mulai merasakan penderitaan hidup. Ditambah saat itu pergaulan dengan teman-temannya dari kalangan keluarga berada membuat anak kedua dari tiga bersaudara ini harus menerima kenyataan dan memulai hidupnya dari nol. Karena selain harus membiayai hidupnya sendiri di negeri orang, dia juga harus mengirim uang belanja ke orang tuanya serta membantu adik perempuannya bersekolah di Jakarta.

“Apapun pekerjaan halal saya lakukan agar bisa tetap menuntut ilmu di Negeri Singa, hingga pernah menggeluti berbagai pekerjaan yakni tukang cuci piring dan pelayan di restoran dan hotel. Dalam pekan yang sama, saya juga menjadi guru les privat dan melatih bulu tangkis untuk anak SD. Bahkan untuk tempat tinggal, saya juga pernah beberapa kali terpaksa menumpang di rumah teman,” katanya.

Selain itu, Edy juga pernah mengalami bagaimana susahnya hidup di Singapura hanya dengan mengandalkan uang 50 cents dalam hidupnya. Atau bila di rupiahkan berarti sekitar Rp 5.000 (kurs sekarang). Bahkan untuk mengisi perut setelah selesai kuliah, ia harus mengandalkan kemurahan hati pemilik kantin di sekolah untuk membungkus sisa lauk yang mau dibuang. Dia juga pernah makan mie instan dan roti tawar selama hampir 1 bulan lamanya.

Edy sempat patah semangat. Dimana kala itu dia memiliki pacar dari kalangan keluarga berada. Tapi sayang, orang tua kekasihnya itu tidak merestui hubungan mereka. Bahkan dia sempat mendapat cacian yang sampai saat ini masih dia ingat. Beruntung Edy bukanlah pendendam. Rasa sakit hatinya kepada ibu sang mantan pacarnya itu justru menjadi pelecut semangatnya.

“Saya sengaja tempel foto ibunya di atas tempat tidur double decker saya. Setiap kali buka mata dan merasa sangat capek, atau ketika serasa mau menyerah, begitu saya lihat foto ibu pacarnya langsung saya semangat kembali mengingat hinaannya,” katanya.

Ada satu prinsip hidup yang dipegang teguh Edy saat itu yang dipesan oleh ayahnya, yaitu apa yang direndahkan oleh manusia, suatu hari akan ditinggikan oleh Tuhan. Satu poin penting yang bisa dipetik, meski dalam keadaan sederhana dirinya tidak merasa minder atau gengsi. 

Lulus Kuliah dan Mulai Berbisnis

Masuk di tahun 2000, Edy lulus kuliah dari Universitas Nanyang Polytechnic Jurusan Marketing. Kemudian dia sempat bekerja di sebuah perusahaan logistic asal Jepang. Meskipun gaji yang ia dapat tidak seberapa, tapi dia masih bisa memboyong adik perempuannya sekolah di Singapura. Keseharian kerjanya berada di depan komputer membuat Edy tidak betah kerja disana. Dia pun hanya bertahan tiga tahun kerja di perusahaan tersebut. “Saya dari dulu kerja banyak geraknya. Disuruh diam duduk di depan komputer nggak betah,” ujarnya.

Kemudian di tahun 2004, Edy mulai tertarik untuk membuka bisnis waralaba Es Teler 77 di Far East Plaza (Orchard Road) dengan modal pinjaman dari seseorang untuk beli waralaba itu. Bisnis waralaba itu berjalan sukses, namun Edy melepasnya pada tahun 2006 dan memulai ayam penyet dengan salah satu brand waralaba di Lucky Plaza (Orchard Rd).

Berkat usaha gigihnya dan koneksi dengan media Singapura, dalam waktu singkat ayam penyet populer, bahkan para pelanggan harus rela antri untuk mencicip kuliner tersebut.Karena kesuksesan usahanya ini juga, pihak kampus tempatnya kuliah Nanyang Polytechnic dan beberapa asosiasi lainnya di Singapura sering mengundangnya untuk berbagi ilmu mengenai entrepreunership.

Namun, kesukesan tersebut tidak bertahan lama. Kerjasama yang dia jalin bersama dua mitra yang notabene teman sekolahnya dulu gagal karena kesalahan managerial. “Semua perjuangan berakhir sia sia. Selama 2 tahun tidak ada laporan pembukuan dan pembagian dividen,” ungkap Edy.

Membesarkan Nama D’PENYETZ

Meskipun sudah beberapa kali menjalankan sebuah bisnis dan tidak bertahan lama, tapi Edy tidak putus asa begitu saja. Di tahun 2009, dia memutuskan untuk mendirikan usahanya sendiri dengan nama Dapur Penyet yang awalnya hanya berawal dari gerai foodcourt yang ada di Jurong Point Mall.

Di tahun pertama usahanya, ia hampir ikut melakukan semua tugas meski sudah punya karyawan. Selain mengurus manajerial, ia juga bertugas di dapur, di counter,closing cleaning dan membuang sampah.

Edy selalu mengatakan kepada karyawannya, “ You don’t work for me, but you work WITH me.” Alhasil, banyak pegawai yang setia kepadanya karena kerendahan hati dan semangatnya dalam berusaha. Dia terus berusaha tanpa lelah untuk membangun D'PENYETZ untuk menjadi restoran Indonesia yang bisa mendunia. Usahanya pun tak sia-sia. Kini, kuliner tersebut sudah memiliki lebih dari 100 outlet yang tersebar di lima negara.

Selain ke Australia, D'PENYETZ juga menargetkan untuk masuk ke Amerika Serikat, Canada dan Timur Tengah. Selain dari brand D'PENYETZ, Edy bersama team juga menaungi beberapa brand lain yaitu D'bakso, D'Cendol, D'Minang.

Meski telah sukses, Edy tetap menjadi sosok sederhana dan selalu membimbing dan mengembangkan setiap karyawannya untuk bisa maksimal. Kegiatan bakti sosial dan penyantunan ke yayasan yatim piatu sering dilakukan bersama dengan timnya. [ded]