JAKARTA, FRANCHISEGLOBAL.COM - Menjalankan sebuah bisnis franchise, lisensi atau kemitraan bukanlah perkara yang mudah. Berpikir keras demi mendapatkan ide terbaik boleh dibilang sudah menjadi santapan sehari-hari yang biasa dilakukan oleh para pelaku usaha tersebut. Hal ini dilakukan guna mengatur strategi jitu dalam menghadapi persaingan bisnis yang saat ini semakin ketat.

Untuk dapat bersaing, pelaku bisnis franchise, lisensi dan kemitraan seringkali melakukan berbagai macam promosi baik offline maupun online. Mulai dari mengikuti beberapa pameran franchise atau kemitraan, melakukan promosi di berbagai media nasional, hingga gencar membangun digital branding seperti yang sedang digandrungi para pelaku bisnis start up.

Tujuannya jelas, membangun personal branding dan mempublikasikan keunggulan dari brand. Pertanyaan yang timbul adalah. Seberapa efektif strategy yang mereka lakukan? Apakah strategi tersebut sudah cukup ideal? Apakah sesuai target? Dan lain sebagainya.

Jika kita melihat karakteristik konsumen modern yang ada saat ini, tidak diragukan lagi bahwa pendekatan strategi pemasaran melalui teknologi digital menjadi sesuatu yang sangat layak dipertimbangkan. Apalagi, seperti yang dikatakan Tri Raharjo pengamat Franchise sekaligus Sekretaris Jenderal Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI), bahwa Indonesia merupakan salah satu negara dengan pengguna internet terbesar di dunia hingga mencapai 170 juta orang. Strategi inilah yang dianggapnya begitu penting karena bisa membuka peluang dalam meng-grab investor milenial.

“Franchisor dapat menjaring franchisee melalui ranah digital. Karena kemudahan akses informasi melalui internet ini sangat tinggi dan mempunyai jangkauan yang luas serta masif. Selain itu para franchisor juga harus menguasai search engine optimization (SEO) agar website mereka dapat tampil di halaman pertama mesin pencarian sehingga mudah ditemukan oleh calon investor,” ujar Tri.

Tri juga menyampaikan bahwa dalam memasarkan bisnis franchise, lisensi atau kemitraan, franchisor bisa memanfaatkan beberapa saluran, di antaranya adalah mengikuti sejumlah pameran usaha yang dinilainya menjadi cara terbaik dalam menjual bisnis franchise, lisensi atau kemitraan kepada khalayak. Melalui pameran, franchisor bisa mengumpulkan database dari para pengunjung stand sebanyak-banyaknya untuk kembali di follow-up after pameran.

“Dalam pameran akan bisa didapatkan pula informasi mengenai tren bisnis apa yang sedang berkembang serta berbagai pengetahuan kepada sesama franchisor. Lalu, lakukan juga mapping bisnis yang akan dimasuki. Karena nantinya pemetaan tersebut akan berguna untuk mengetahui serta mengukur kelemahan dan kekuatan brand kompetitor maupun brand kita sendiri,” kata Tri.

Memasuki era serba digital seperti sekarang ini, para pelaku usaha pun dituntut untuk lebih kreatif dan inovatif dalam menentukan strategi pemasarannya. Hal ini juga yang disampaikan oleh Levita Ginting Supit selaku Ketua Umum Perhimpunan Waralaba & Lisensi Indonesia (WALI).

Menurut Ita, sapaan akrabnya, para pelaku usaha harus selalu kreatif dan inovatif agar usahanya bisa tetap eksis dan berjalan dengan baik serta menjadi bisnis pilihan investor dibanding kompetitor. Karena pada hakikatnya, semua bisnis yang maju dan berkembang hingga kini masih tetap berpangkal pada upaya ke-kreatif-an dan ke-inovatif-an para pelaku usaha itu sendiri terhadap bisnisnya.

“Tantangannya adalah mempertahankan SOP (Standar Operasional Prosedur), sehingga perlu untuk terus meningkatkan kualitas SDM (Sumber Daya Manusia) yang ada. Selain itu, mereka (pelaku usaha) juga perlu melakukan review secara berkala untuk semua produk yang dikeluarkan serta inovatif dalam menciptakan produk baru,” ujar perempuan yang juga menjabat sebagai Ketua Komite Tetap Kadin Bidang Waralaba.

Selain meningkatkan SDM dan kreatif dalam menciptakan produk baru, kata Ita, mengetahui tren pasar yang sedang berkembang juga tak boleh lepas dari perhatian pelaku usaha yang ingin bisnisnya tetap eksis.

Begitu juga dengan persaingan dalam sebuah bisnis waralaba yang terbilang cukup wajar dan akan terus terjadi seperti itu. Untuk itu, Senior Consultan sekaligus Founder International Franchise Business Management (IFBM), Burang Riyadi menyarankan kepada para pelaku usaha untuk berorientasi agar usaha mitranya bisa berjalan dengan sukses, tahan lama (sustainable) dan berkembang sebagaimana mestinya sesuai dengan tujuan awal.

“Maka franchisor perlu mempunyai program-program yang mendukung hal tersebut, seperti program relationship, program pengembangan, dan program dukungan (supporting) lainnya (training, marketing, branding),” kata Burang.

Disisi lain, franchisor juga tidak akan sukses jika mitra franchiseenya tidak serius dan tidak menjalankan bisnisnya sesuai dengan prosedur dari franchisor. Maka franchisor wajib memastikan bahwa mitra Franchiseenya ini adalah orang yang tepat untuk menjalankan bisnisnya tersebut. Mitra franchisee yang tepat dan cocok adalah mitra franchisee yang “nurut” dengan petunjuk (sistem) dari Franchisor. Tidak berjalan dengan cara-caranya sendiri.

“Jika ada Franchisee yang tidak mengikuti petunjuk dari Franchisor karena dia menjalankan bisnisnya dengan cara-caranya sendiri, maka sebaiknya kerjasamanya diputuskan saja. Karena hal ini akan berimbas kepada jaringan franchisee yang lain dan akan membuat pengelolaan franchisor akan menjadi sangat repot,” jelasnya. [ded]