Tidur menjadi aktifitas yang sangat dibutuhkan oleh setiap insan manusia. Fase istirahat ini menjadi sangat sakral karena selain sebagai pemulihan stamina dan energi setelah lelah beraktifitas penuh, kini tempat tidur beserta aksesorisnya juga menjadi simbol strata seseorang, dengan mendesain tempat tidur sesuai dengan selera dan tingkat kenyamanan.

Hal ini tentu mempengaruhi kebutuhan masyarakat soal tempat tidur, spring bed, sprei, bantal guling, matras dan aksesorinya yang kian berkembang. Peluang bisnis ini pun mulai dilirik oleh pelaku usaha yang bergerak di bidang garmen dan dekorasi rumah. Steffie Collection sebagai salah satu bisnis bedding accessories yang tumbuh besar menggarap kebutuhan masyarakat ini.

Namun bukan sembarang produk sprei yang ditawarkan oleh bisnis yang didirikan oleh Christiana Agustin ini. Selain memproduksi sendiri produk-produknya secara handmade, bahan baku kain yang digunakan bukan kain sambungan seperti yang banyak beredar di pasaran. Keunggulan ini yang menjadi daya tarik tersendiri bagi Steffie Collection, dalam memasarkan produknya kepada masyarakat luas.

Sebelumnya Christiana janya menjadi supplier produk sprei secara grosir dengan mengusung brand Galeri Sukowati, ke berbagai wilayah di Indonesia. Namun lambat laun seiring berkembangnya roda bisnis, ia mulai menjajakan secara ritel dan merangkul ibu-ibu pkk di sekitar wilayah Sragen, Jawa Tengah yang menjadi pusat operasional bisnisnya. Tak ayal, di Steffanie Collection tersedia sprei batik tulis yang dicanting secara manual dengan menggunakan tangan.

Sprei Batik Tulis

“Proses pembuatan batik tulis itu cukup rumit karena harus dilakukan bertahap dan membutuhkan waktu sekitar satu minggu untuk satu item. Proses mencatingnya pun paling cepet dua hari sampai tiga hari agar hasilnya maksimal, belum proses pewarnaan dan lain-lain,” ujar Christiana.

Lebih lanjut, walau sudah ada teknologi batik print yang bisa lebih mudah dan efisien dalam memproduksi batik, namun ia menjelaskan jika bahan baku kain yang digunakan adalah kain selebar tiga meter tanpa sambungan, sehingga butuh tempat dan mesin print yang besar untuk bisa mencetak kain sprei batik tersebut. “Hasilnya pun akan sangat berbeda, karena produk sprei batik tulis kami bisa dibanderol paling mahal senilai Rp4 juta,” tutur wanita keturunan tionghoa Jawa ini.

Setelah fokus berkiprah menyuplai produk bedding accessories secara grosir ke hotel, rumah sakit dan perusahaan lainnya sejak 2003 silam, kini Steffie Collection ditawarkan peluang bisnis dengan sistem waralaba kepada calon mitra. Investasi tersebut dibanderol senilai Rp720 juta yang sudah termasuk franchise fee selama lima tahun, stock awal produk Rp300 juta, perlengkapan mebel, renovasi, dan interior.

“Konsep outletnya akan seperti butik bedding accessories. Lalu prospek bisnis ini akan sangat masuk di daerah lokasi wisata seperti di Bali, Batam dan kota-kota lainnya, karena produk kami bisa jadi oleh-oleh dan buah tangan yang sangat digemari oleh wisatawan,” pungkas Christiana.

Klik Steffie Collection untuk informasi lebih lengkap.

(Heksa R.P)