Franchiseglobal.com - 

Di India, di manapun anda berada baik di kota besar maupun daerah terpencil, akan mudah didapati berbagai brand di sekitar anda. Di negeri ini, anda akan bisa merasakan bahwa market yang ada akan bisa membantu bisnis, khususnya franchise, untuk bisa berkembang dan tumbuh secara sustain dalam jangka waktu berkelanjutan.

Berdasarkan data Asosiasi Franchise India, seperti yang dikutip dari World Franchise Associates pada Senin (30/9), valuasi industri waralaba di Negeri Barata itu diperkirakan mencapai US$50,4 miliar. Catatan tersebut tumbuh empat kali lipat sejak 2013, dan diperkirakan masih akan terus melaju.  

Dengan populasi sekitar 1,3 miliar jiwa, India diyakini akan menjadi pasar consumer terbesar ketiga di dunia setelah AS, dan China. Profil tersebut tentu saja menjadi potensi luar biasa besar bagi berbagai brand internasional maupun franchisor untuk melebarkan sayap di negara ini.

Berdasarkan estimasi, 35% dari seluruh pembeli franchise adalah mereka yang baru pertama kali terjun di dunia bisnis. Dan, franchise juga dipercaya sebagai langkah awal memberdayakan masyarakat untuk melakukan kegiatan kewirausahaan.

Namun, sebelum merealisasikan ekspansi, anda harus terlebih dahulu mematangkan konsep bisnis yang ingin ditawarkan melalai prospectus usaha. Fakta dilapangan menyebut bahwa 90% bisnis starup di India gagal dalam lima tahun pertama karena buruknya pendampingan dan mentorship dari induk usaha. Hal tersebut membuat para pemodal maupun investor akan lebih percaya untuk meminang brand dengan tingkat kesuksesan tinggi.

Selain sebagai cara baik untuk produktif, bisnis franchise juga merupakan generator utama dalam membuka lapangan pekerjaan. Di India, sebuah gerai franchise rata-rata mempekerjakan 5-30 orang. Industri ini sendiri diperkirakan menyerap 1,5 juta angkatan kerja.

Saat ini, India merupakan negara terbesar kedua di dunia untuk market franchise setelah Amerika Serikat. Tercatat, ada 4.600 franchisor aktif (50% regional brands, 34% brand nasional, dan 16% brand global) dengan 200.000 outlet yang dioperasikan oleh 170.000 franchisee.

Masifnya industri waralaba di negeri ini dapat diamini. Sebab, selama 20 tahun India merupakan salah satu negara incaran brand internasional. Sebagai contoh, entitas usaha franchise global yang telah menjadi pemain besar di India antara lain Anytime Fitness, Baskin-Robbins, Burger King, Gold's Gym, KFC, McDonald's, serta Pizza Hut.

Pemain kakap lainnya adalah Domino Pizza. Jaringan restoran internasional asal AS ini membuka gerai pertamanya di India pada 1996. Saat ini, Domino Pizza telah memiliki tak kurang dari 1.250 outlet di seluruh India. Hal tersebut membantu perusahaan yang berdiri pada 1960 itu menjadi restoran pizza  terbesar di dunia dan juga di India.

Selain sektor F&B dan jasa, negara Asia Selatan ini juga sangat potensial untuk pasar properti. RE/MAX India, jaringan broker real estate terbesar di India, mencatat bahwa saat ini mereka memiliki lebih dari 1.000 anggota yang hadir di 46 kota dengan hampir 200 kantor perwakilan.

Banyak dari pemain sektor properti merupakan korporasi asing yang berasal dari Amerika Utara, Australia dan Inggris.  Perusahaan tersebut dibawa ke negara ini melalui mekanisme perjanjian master franchise.

Untuk brand dari kawasan Asia sendiri, India dikenal sebagai pasar yang terbuka untuk produk-produk asal China, Singapura, Malaysia, Hong Kong, Jepang, dan Korea. Barang elektronik seperti handphone menjadi komoditas favorit negara ini dalam menyepar impor. Bukti tersebut ditunjukan dengan laku kerasnya produk telepon genggam asal China di pasar India. Selain itu, India juga dinilai menjadi destinasi yang sangat potensial untuk bisnis segmen services, macam pendidikan, kesehatan, dan jasa kebersihan.

Pemerintah setempat juga memberikan sejumlah pelonggaran kebijakan guna terus menggenjot perekonomian. Salah satu insentif itu diberikan kepada industri franchise yang memasukan sektor ini dalam daftar 50 kemudahan berbisnis bagi brand internasional.

Sektor Kunci

Sektor-sektor seperti retail, F&B, services, dan kesehatan berkontribusi hampir 60% dari keseluruhan industri franchise di India. Retail menjadi salah satu elemen penting dalam ekomomi India. Hal tersebut dikuatkan dengan dukungan pemerintah untuk memberikan toleransi FDI (foreign direct investment) hingga 51% untuk ritel multi merek, dan 100% untuk merek tunggal.

Hasilnya, terjadi peningkatan pola konsumsi yang kemudian berimbas pada pertumbuhan pasar ritel menjadi US$672 miliar pada 2017. Angka itu diperkirakan akan terus naik dan diproyeksi menyentuh US$1,2 triliun pada 2021.

Kemudian, food and beverage menjadi sektor seksi lainnya. India merupakan negara dengan populasi milenial terbesar di planet ini. Mereka rata-rata menghabiskan 6,6 kali dalam sebulan untuk makan atau mengorder makanan dari luar, dengan spending sekitar Rp500.000 (US$35) setiap bulan. Kabar baiknya, angka tersebut akan terus merangkak naik dan membuka peluang bagi lini usaha F&B.

Sektor kesehatan adalah lini potensial lain yang sulit untuk dielakan. Menurut International Health, Racquet & Sportsclub Association (IHRSA), India memiliki health club market sebesar US$ 9 miliar berkat peningkatan kesadaran hidup sehat.

Lebih lanjut, pendidikan juga menjadi sekor menarik selanjutnya. India dipercaya merupakan rumah terbesar di dunia untuk anak dalam usia sekolah (5-24 tahun) dengan jumlah sekitar 500 juta jiwa. Sektor pendidikan dipercaya memiliki valuasi US$91,7 miliar pada 2017 dan US$101,1 miliar pada 2018.

Tantangan Berusaha

Walaupun menawarkan peluang dan potensi, India juga memberikan sejumlah tantangan yang harus diperhitungkan secara masak oleh para pengusaha yang ingin berekspansi. Adapun, challenge terbesar franchise di India saat ini adalah pemerintah dianggap tidak memberikan fasilitas yang cukup memadai untuk mengakomodir usaha skala kecil. India juga dianggap tidak memiliki hukum franchise yang comprehensif untuk mengatur sektor ini (usaha franchise kecil).

Alangkah baiknya bagi para franchisor untuk juga bisa mengerti kebudayaan dan kebiasaan masyarakat lokal, serta “Indianization” sebelum memasuki negara ini. Mahalnya harga sewa lahan, terutama lokasi strategis di kota besar, menjadi isu lain yang harus dihadapi pengusaha.

Terlepas dari segala dinamika dan tantangan pasar, telah banyak brand global yang bisa menunjukan eksistensinya dan meraih sukses di tanah para dewa ini. Selamat berekspansi.