JAKARTA, FRANCHISEGLOBAL.COM  – Popularitas bisnis ayam geprek memang tak perlu diragukan lagi untuk para pecinta kuliner tanah air. Bagi para pemula, bisnis yang satu ini tak ada salahnya jika dicoba. Selain prospek permintaan yang boleh dibilang cukup tinggi, nilai investasi dari usaha ini juga cukup terjangkau kok. Tak heran kalau hingga saat ini masih banyak ditemukan gerai-gerai ayam geprek di beberapa lokasi di ibukota.

Lantas, seberapa besar prospek bisnis ayam geprek ini pasca pandemi COVID-19 yang sempat melumpuhkan banyak sektor bisnis di tanah air, termasuk kuliner?

Direktur INFO BRAND Group, Susilowati Ningsih melalui program INFOBRAND TALKS yang digelar secara virtual pada Selasa (23/6) lalu mencoba mengupasnya melalui seorang narasumber yang telah berpengalaman di industri kuliner sekaligus pemilik usaha Ayam Hootz, Dovi Toberta dengan judul “Peluang Bisnis Kemitraan Ayam Geprek Pasca Pandemi”.

Menurut Dovi, ada beberapa strategi yang harus ia siasati agar bisnis ayam geprek yang dirilisnya sejak 2017 lalu itu dapat terus berkembang dan semakin menjadi merek pilihan konsumennya.

“Memang saat ini ada banyak sekali merek ayam geprek di Indonesia. Artinya kalau boleh dibilang persaingan bisnisnya sudah sangat ketat sekali. Tapi soal rasa kami berani diadu. Apalagi harga yang kami tawarkan juga sangat terjangkau sekali. Nah, di era new normal ini kita memang sudah seharusnya melakukan penjualan secara online yang didistribusikan melalui ojek online. Dan kita sudah melakukan itu. Alhamdulillah cukup membantu,” terang Dovi.

Menariknya, kata Dovi, pelanggan dapat melihat langsung proses masak dari menu ayam geprek yang dijual. Sehingga menimbulkan rasa kepercayaan pelanggan akan kualitas yang ditawarkan.

“Di Ayam Hootz ini, kami menggunakan bahan-bahan yang sehat. Dimana ayam yang kami geprek ini tidak menggunakan minyak sehingga sehat dan pelanggan juga bisa melihat secara langsung prosesnya karena kami melakukannya di depan bukan di belakang yang tiba-tiba masakannya sudah jadi tanpa tahu prosesnya seperti apa,” jelasnya.

Lantas, bagaimana syarat menjadi mitra Ayam Hootz serta seperti apa perhitungan pendapatan dari usaha ini?

Saat ini Ayam Hootz telah memiliki 15 cabang yang tersebar di seluruh Indonesia. Terbaru, Ayam Hootz membuka cabangnya di wilayah Cikarang, Kabupaten Bekasi. Menurut Dovi, untuk menjadi mitra Ayam Hootz sangatlah mudah. Apa saja?

“Syarat nomor satu adalah yakin. Kemudian yang kedua tentu saja ada modal yang harus dipersiapkan. Lalu yang ketiga itu mitra harus memiliki lokasi yang bagus. Kalau tidak punya properti sendiri bisa sewa lokasi. Kemudian syarat yang terakhir adalah komitmen untuk tetap memberikan pelayanan terbaik kepada para pelanggannya,” papar Dovi.

Menurut Dovi, ada dua tipe kemitraan yang ditawarkan Ayam Hootz. Tipe pertama adalah booth dengan nilai investasi mulai Rp25 jutaan. Nilai tersebut sudah termasuk 20 kantong ayam dan peralatan-peralatan masak yang akan dikirimkan setelah mitra resmi bergabung.

Berdasarkan perhitungan Dovi, jika mitra bisa menjual 7 kantong ayam per harinya dengan harga Rp82 ribu per kantongnya, maka uang yang akan dihasilkan dalam sehari bisa mencapai Rp600 ribuan. Artinya, jika margin profit 25% berarti uang yang berhasil dikumpulkan dalam sehari mencapai Rp150 ribuan.

“Jika dikalikan selama satu bulan atau 30 hari, berarti mitra bisa menghasilkan uang Rp4,5 jutaan. Harapannya, 5 sampai 6 bulan sudah kembali modalnya,” ujarnya.

Sementara untuk tipe yang kedua adalah tipe mini resto yang ditawarkan dengan nilai Rp90 jutaan. Adapun rinciannya yaitu Rp25 juta untuk joining fee dan Rp65 juta untuk paket usaha. Untuk dapat membuka tipe mini resto ini, Dovi menyarankan kepada calon mitranya agar menyiapkan modal secara keseluruhan sekitar Rp149 jutaan.

“Karena kan nanti ada biaya sewa tempat. Misalnya kita simulasikan sewa tempat itu Rp25 juta per tahun. Lalu ada juga dana operasional, renovasi dan segala macam itu jadi kurang lebih modal yang harus disiapkan mencapai Rp149 jutaan,” katanya.

Dengan nilai investasi Rp90 juta, kata Dovi, calon mitra akan mendapatkan peralatan produksi dan juga branding serta sudah termasuk 100 kantong ayam. Adapun simulasinya jika mitra berhasil menjual 15 kantong per harinya, maka omset yang bisa dihasilkan mencapai Rp1,5 juta dengan margin profit 25% berarti keuntungan mitra per harinya bisa mencapai Rp350 ribuan.

“Jika dikalikan 30 hari, berarti untungnya bisa sampai Rp10 jutaan. Harapannya dalam waktu 10-12 bulan sudah bisa balik modal,” tutupnya.

Untuk informasi lebih lanjut terkait peluang bisnis Ayam Hootz, silahkan hubungi 0811 1919 182