Di era digital seperti sekarang ini setiap individu diharuskan menguasai Bahasa asing minimal Bahasa inggris sebagai salah satu modal utama meraih kesuksesan. Alhasil, momen ini pun segera dimanfaatkan oleh sejumlah lembaga pendidikan Bahasa Inggris guna mencerdaskan anak bangsa disamping tentunya meraup potensi keuntugan yang melimpah. Namun, tak semua bisnis lembaga pendidikan Bahasa asing mampu bertahan dengan kondisi ini. Hanya mereka yang mempunyai ciri unik lah yang mampu bertahan hingga saat ini. Salah satu lembaga pendidikan Bahasa Inggris yang sudah bertahan hingga 16 tahun di Indonesia ialah EASY ENGLISH CENTRE (EEC).

Ya, lembaga pendidikan yang sudah berdiri sejak Agustus 2000 ini terus mempertahankan ciri khas metode pendidikannya yakni percakapan. Hal ini bukan tanpa sebab, tetapi percakapan akan membentuk suatu kebiasaan berbicara sehingga setia individu akan selalu terlatih berbicara Bahasa Inggris ketimbang dengan teori-teori. “Kita sejak awal sudha mempunyai konsep metode percakapan untuk anak TK hingga dewasa,” kata owner EASY ENGLISH CENTRE (EEC), Sudirman Alif Gani kepada franchiseglobal.com.

Sudirman mengakui bahwa lembaga pendidikannya mempunyai metode yang berbeda dengan para kompetitor lainnya, dimana para kompetitor memberikan porsi yang lebih sedikit dalam hal conversation atau percakapan. “Padahal inti dari belajar Bahasa Inggris itu ya bisa ngomong Bahasa Inggris dengan lancar kan? Bagaimana caranya lancar ya dengan banyak berbicara. Untuk tingkat anak-anak kita akan perkenalkan dulu metode penghafalan kata dan kalimat,” ucapnya.

Disamping itu, dari harga bulanannya pun EEC terbilang lebih murah ketimbang para kompetitor. “Kalau diibaratkan kita ini seperti Warteg nya lah. Semua orang bisa masuk mau kaya mau biasa bisa masuk. Di lembaga kompetitor sebulannya itu bisa 400 ribu rupiah bahkan lebih. Kalau di kita ini berkisar di harga 90 ribuan saja per bulan,” tukasnya.

Apa yang ditanamkan Sudirman ternyata benar, sejak tahun 2000 EEC telah meraup pangsa pasar tersendiri. Terbukti hingga saat ini, bisnis yang dimotori olehnya ini sudah memiliki 4 outlet sendiri dan 21 outlet yang franchise. “Pola penyebaran outlet kami sudah dibilang merata, mulai dari Sumatera, Jawa dan Bali kita punya. Bulan depan kita akan membuka outlet di Sulawesi,” tandasnya.

Suatu lembaga pendidikan Bahasa asing akan semakin kompeten manakala menghadirkan sejumlah sumber daya manusia (SDM) yang jempolan dibidangnya. Terkait hal itu Sudirman mengatakan bahwa SDM di EEC semuanya berkredibel. Sebab, katanya, proses penjaringan SDM dilakukan secara ketat dan terseleksi secara matang. “Jadi tidak Cuma bisa sekadar Bahasa inggris lalu kita terima. Kita lakukan training dulu ke mereka dan mereka kita pekerjakan sebagai asisten dulu tidak lansung menjadi guru,” ucapnya.

Terkait nilai investasi dari EEC, Sudirman mengatakan bahwa EEC mempunyai nilai investasi yang terjangkau dan terdiri dari dua paket yakni Standar dan Khusus. Menurutnya, untuk paket standar nilai investasinya cukup 6 juta rupiah untuk wilayaah Jabodetabek dan 11 juta rupiah untuk luar Jaodetabek. “Dalam paket standar itu sudah termasuk pelatihan dengan kami mengirim tim training selama 1 minggu atau 7 hari,” tuturnya.

Adapun paket khusus, dibandrolnya dengan harga 40 juta rupiah. “Dimana didalamnya sudah termasuk kami mengirimkan tim manager yang akan turut melakukan berbagai macam kegiatan dan operasional selama 1 tahun. Setelah 1 tahun kami akan tarik lagi tim ahli kami ke kantor pusat,” tukasnya.

Minat Sudirman dibidang pendidikan tak berhenti sampai disitu. Dirinya dan bersama kawan-kawan saat ini juga sebagai salah satu pemegang saham di Sekolah Dasar Islam Terpadu (SDIT) dan SMP Darul Ma’arif Islamic School. “Di Darul Ma’arif pun kita lakukan sistem pendidikan dua Bahasa. Setiap harinya minimal ada 2 jam pelajaran Bahasa inggris. Cabangnya sudah ada di Pondok Kelapa ada dua dan Ciracas satu buah,” ucapnya.

Dengan konsep investasi murah dan terjangkau inilah bukan mustahil EEC akan tumbuh semakin besar mengalahkan kompetitornya. Ditambah sektor pasar kelas atas dan kelas bawah pun bisa mengikuti dan belajar di lembaga ini. Artinya, bisnis milik Sudirman ini tak hanya meraup keuntungan semata melainkan turut mencerdaskan generasi bangsa disemua tingkat lapisan masyarakat.

Dengan strategi seperti ini, maka wajar saja jika Sudirman Alif Gani meraih penghargaan Anugerah Wirausaha Indonesia (AWI) 2016.