Franchiseglobal.com - Makanan khas suatu daerah tentunya menjadi daya tarik tersendiri sebagai menu wajib untuk dicicipi saat berlibur di suat daerah tersebut. Salah satunya makanan khas asal Bandung Jawabarat ini yakni Lumpia Basah. Nah demi menyebarluaskan makanan khas suatu daerah ini, hadirlah merk dagang Lumpia Basah Ceu Neneng.

Melihat peluang tersebut, Aretha Sumarli mencoba peruntungan dengan membuat gerai lumpia dengan nama Lumpia Basah Ceu Neneng. Ia membuka usaha tersebut di awal 2018 di kota Bandung dan langsung menawarkan kemitraan usaha. Kini jumlah gerai Lumpia Basah Ceu Neneng sudah punya dua gerai milik mitra di Bandung.

Dalam waktu dekat, ia bakal mengoperasikan satu gerai milik mitra di Depok. Sedangkan satu gerai lagi yang ada di Aceh tengah proses finalisasi. Ia pun optimistis hingga akhir tahun ini bisa menggandeng sebanyak 10 mitra lagi.

Kalau ada yang berminat, Aretha menawarkan tiga paket kemitraan. Yakni paket silver dengan luas gerai 25 m sebesar Rp 125 juta, paket gold (50 m) senilai Rp 15 juta dan paket platinum (75 m) sebesar Rp 175 juta. Program kemitraan selama lima tahun.

Dengan paket tersebut mitra akan mendapatkan ragam fasilitas seperti perlengkapan, peralatan, gerobak, bahan baku awal pembuatan lumpia basah, training dan seragam karyawan, pemasaran, renovasi gerai, survei lokasi dan lainnya. "Kami tidak mengenakan biaya royalti maupun waralaba bagi mitra," kata Aretha sebagaimana dikutip melalui KONTAN.

Lumpia Basah Ceu Neneng sendiri menyediakan ragam menu hingga 20 varian lumpia dengan banderol harga Rp 10.000 sampai Rp 25.000 per porsi. Yakni ada topping batagor, siomay, kerupuk pedas, ceker, tulang ayam, bakso, sosis, keju, ayam dan yang lainnya.

Dengan menu yang tersaji, Aretha memperkirakan pendapatan dari setiap gerai Lumpia Basah ini bisa mencapai Rp 500.000 sampai Rp 750.000 pada hari biasa. Sedangkan saat akhir pekan, proyeksi penjualannya bisa tembus Rp 1 juta hingga Rp 2 juta per harinya.

Dengan omzet tersebut, setelah dikurangi ragam biaya operasional, Aretha memperkirakan, mitra bisa mendapat keuntungan sekitar Rp 10 juta per bulan. Adapun proyeksi balik modalnya ia harap kurang lebih satu tahun saja.