Franchiseglobal.com – Berawal dari peternakan ayam keluarga, Agung Saputro kini sukses mendirikan bisnis distributor telor ayam berkualitas di bawah merk usaha Golden Telor. Terbukti kini Golden Telor telah memiliki 357 mitra yang tersebar di seluruh Indonesia, utamanya di wilayah Jabodetabek dan sekitarnya.

Agung mengatakan Golden Telor menawarkan tiga paket investasi yakni paket Master Kota/ Provinsi, Distributor dan Agen. Untuk paket Master Kota memiliki nilai investasi sebesar Rp500 juta dan Master Provinsi di angka Rp5 miliar dengan benefit passive income dari setiap calon mitra yang join paket level di bawahnya, adapun besarannya sesuai perjanjian khusus antara Owner dan Master Wilayah.

Selanjutnya paket Distributor, untuk kelas Gold menguasai kelurahan dikenakan investasi sebesar Rp15,9 juta, distributor queen menguasai kecamatan sebesar Rp59 juta dan untuk distributor king menguasai satu kota dikenakan investasi Rp259 juta.

“Semua paket yang kita siapkan tentu mendapatkan fasilitas sesuai dengan levelnya. Untuk paket gold yang terkecil misalnya mendapat stock 150 kg telor dan komplit dengan fasilitas usahanya seperti timbangan. Selain itu Golden Telur juga dapat membuatkan surat penawaran jika mitra hendak memasarkan telurnya di hotel atau rumah sakit,” katanya kepada Franchiseglobal.com di pameran Info Franchise & Business Concept, akhir pekan lalu di Balai Kartini. 

Agung melanjutkan untuk level kecamatan mendapatkan stock 750 kg telor dengan potensi orderan 2 ton perminggu. Tentu paket King lebih banyak stocknya yakni 2 ton dengan kisaran orderan 8 ton perminggunya. Begitupun dengan paket Master yang tentu lebih istimewa, ibaratnya tidak usah jualan pun sudah mendapat passive income.

Ide mendirikan Golden Telor muncul atas observasinya dari hal apa kira- kira itu mudah bagi masyarakat untuk menjalankan usahanya dan market yang luas. Akhirnya Agung menawarkan kepada masyarakat luas sebuah konsep usaha penjualan telor yang lebih modern dengan tagline “Supplier Telor Berkualitas”. Bukan sekedar telor yang berkualitas namun juga mengedukasi masyarakat untuk menjadi penjual telur yang professional.

Bisnis yang ia tekuni sejak tahun 1998 itu akhirnya berkembang dan mulai difranchisekan pada tahun 2014. Walaupun pada awalnya Agung hanya menjajahkan 2 peti atau 20 kg telur, namun usahanya diterima luas oleh masyarakat utamanya para ibu di rumah, hingga sebesar saat ini. Puncaknya saat menjadi exhibitor di salah satu pameran franchise pada tahun 2015 dengan mendapatkan mitra lebih dari 30 orang dengan paket yang berbeda- beda.

Agung berani mengklaim Golden Telor merupakan satu- satunya franchise telor di Indonesia, meskipun pada akhirnya nanti akan ada yang mengikuti ide ini. Ia berpesan jika memang ada yang mengikuti, jangan sampai mencopy paste penuh apa yang Golden Telor bangun.

“Mitra kita bahkan sudah memiliki kartu nama dan seragam. Keunggulan telor kita juga telah melalui hasil uji lab yang terjamin fresh sebab merupakan hasil panen yang maksimal didistribusikan pada H+1. Upaya ini tentu tidak dilakukan oleh banyak pengusaha telor lainnya. Bahkan ada jaminan jika dalam pengiriman telor mengalami pecah parah, sehingga mitra tidak mengalami kerugian,” ungkapnya.

Di bawah perusahaan Golden Group yang berkantor pusat di Jl. Warak Ngendog I, Kedungmundu, Kec. Tembalang, Kota Semarang, Jawa Tengah, Agung dapat memproduksi 20 ton telor perharinya. Sehingga ketersediaan stock telor terjamin dengan kualitas yang sama karena dari satu kandang yang berlokasi di Semarang. Adapun jika stock di Semarang tidak mencukupi ketika mendapatkan order tambahan maka akan disupplei melalui kandang di Solo dan Kendal.

“Untuk pengiriman rutinnya kita lakukan seminggu sekali, sehingga mitra akan mengorder sesuai kebutuhan stock mereka. Adapun jika masih kehabisan stock maka cabang kita akan membantu ketersediaannya,” ujarnya.

Keuntungan lainnya, kerjasama ini berlaku selamanya kecuali terputus tatkala selama 2 bulan berturut- turut mitra tidak melakukan orderan kembali dan tidak ada konfirmasi. Sebab usaha ini tidak dikenakan royalty fee, melainkan 100% margin untuk mitra.

“Target kita di tahun 2019 telah tercapai yakni joinnya 5 master kota, karena di setiap pameran kita menargetkan menambah master kota. Harapannya tentu ke depan akan ada yang join master provinsi, untuk potensi wilayah yang masih terbuka ada di Jawa Barat, Jawa Timur dan di luar pulau Jawa,” kata Agung.

Sampai detik ini meskipun belum terlihat adanya competitor yang mengembangkan bisnis dengan cara franchise, namun tidak membuat Golden Telor jemawa. Sehingga Golden Telor akan terus mengutamakan kualitas telor, kualitas pengiriman, kualitas penanganan mitra dan bagaimana membina mitra dalam melayani pelanggannya dengan baik. 

"Kita juga memberi keleluasaan kepada mitra untuk berinovasi dalam hal penjualan. Seperti menjual di marketplace atau di rest area. Karena saya yakin setiap mereka yang berusaha maka akan memunculkan berbagai macam ide menarik bahkan tidak sempat saya pikirkan," tutupnya. [hfz]