Ketua Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) sekaligus Ketua Komite Tetap KADIN Bidang Waralaba, Lisensi dan Kemitraan, Levita Supit membeberkan beberapa alasan kenapa saat ini masih sangat sedikit sekali pemain waralaba yang sudah go internasional.

Menurut dia, dari total semua waralaba lokal yang ada di Indonesia, hanya 20 persen saja yang sudah go internasional. Total waralaba lokal sendiri ada sekitar 1000 merek, itu artinya ada 200 merek yang sudah berani terjun ke luar negeri.

“Sejauh ini memang belum terlalu banyak. Karena buka waralaba di negara sendiri itu beda dengan buka waralaba di luar negeri. Jadi harus benar-benar prepare dan pemerintah juga harus support itu,” ujar Levita Supit pada wartawan di Jakarta, Kamis (27/9/2018).

Dia juga mengatakan bahwa ada beberapa alasan lain yang membuat pemain waralaba lokal enggan terjun ke luar negeri. Pertama, misalnya F&B yang dimana bahan-bahan makanannya belum tentu ada disana (luar negeri-red).

“Misalnya soal ayam, kita belum tentu bisa bawa ayam lokal kita ke luar negeri. Apalagi waktu itu ada flu burung, sehingga Indonesia itu agak di batasi supaya tidak boleh bawa ayamnya ke luar negeri,” katanya.

Selanjutnya, kata dia, faktor lainnya adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang sangat agak susah mencarinya di luar negeri. Belum lagi ditambah penghasilan atau gaji yang harus dikeluarkan berbeda dengan di Indonesia.

“Keberanian juga nih. Kalau orang yang sudah berumur dia belum tentu berani mengembangkan bisnisnya sampai ke luar negeri. Kenapa, karena nantinya dia harus sering-sering kunjungan ke luar negeri untuk melihat perkembangan bisnisnya disana. Beda dengan anak muda sekarang, mereka lebih berani. Begitu mereka siap untuk go internasional, mereka akan buka di luar negeri. Tapi mereka butuh support dari pemerintah, asosiasi, sehingga mereka tidak takut bisnisnya di duplikat,” jelasnya.

Untuk itu, Levita berharap pemerintah bisa memberikan perhatian penuh kepada para pelaku usaha dengan memberikan pelatihan-pelatihan, sehingga mereka bisa menghadapi pangsa internasional dengan bijak. [ded]