JAKARTA, FRANCHISEGLOBAL.COM – Di tengah situasi pandemi covid-19, boleh dibilang hampir semua sektor usaha terkena dampaknya secara langsung, termasuk bisnis waralaba yang telah memiliki jaringan di seluruh Indonesia. Meski begitu, dunia usaha tetap harus survive. Lantas, apa yang harus dilakukan?

Ketua Umum Perhimpunan Waralaba & Lisensi Indonesia, Tri Raharjo mengatakan bahwa sejak diberlakukannya social distancing dan physical distancing, situasi outlet mendadak sepi. Dimana para pengunjung dan pembeli relatif mengalami penurunan yang cukup signifikan. Imbasnya, banyak outlet yang tutup seperti pada waralaba spa, salon, barbershop dan lain sebagainya.

“Di waralaba sektor kuliner misalnya. Sekitar 40% sudah pasti kena dampaknya. Bahkan ada yang bilang 50% penjualannya drop. Ya itulah realita yang saat ini terjadi di dunia bisnis. Sehingga kita perlu menyikapi secara bijak pergerakan-pergerakan yang terjadi,” ungkap Tri dalam Franchise E-Talk & WALI Gathering bertajuk “Survival Tips for Franchise Business during Covid-19” yang digelar melalui video conference pada Kamis (22/4) kemarin.

Selain bisnis waralaba, lanjut Tri, sektor bisnis UMKM pun ikut terkena dampak dari wabah covid-19 ini. Padahal kata Tri, sekitar 97% pekerjaan di Indonesia itu ditunjang dari sektor UMKM.

Bahkan menurut Tri juga, kondisi sulit ini bukan hanya terjadi kepada para pelaku bisnis di skala kecil saja, tapi juga berimbas pada bisnis skala besar. Misalnya saja Starbucks di China yang berdasarkan pemberitaan di media ada sekitar 2000-an gerainya terkena imbasnya. Begitu juga dengan MCD yang sudah mulai melakukan tutup layanan dine in dan KFC yang juga sudah merumahkan sekitar 450-an karyawannya.

“Jadi dampaknya memang benar-benar serius. Nah, di bisnis kita pasti sudah ada yang melakukan, ada juga yang belum melakukan itu. Tapi kedepannya, kita harus bisa menyikapinya dengan baik. Dan saya kira, khusus di 3 bulan kedepan ini pengusaha harus benar-benar effort,” jelasnya.

Lebih lanjut Tri mengatakan, saat ini sudah banyak pelaku bisnis yang melakukan strategi bertahan demi keberlangsungan hidup perusahaan. Bukan hanya pemain di bisnis waralaba saja, bahkan pabrikan Lamborghini pun telah merubah pabrik mobil sportnya itu menjadi pabrik masker. Begitu juga dengan pabrik TV di Jepang.

“Bahkan ada juga pemain yang biasanya memproduksi pakaian dalam, mereka sekarang bikin masker. Lalu pemain kosmetik mereka membuat hand sanitizer. Nah di Indonesia sendiri, kalau yang saya perhatikan di feed teman-teman pengusaha, memang effortnya luar biasa sekali. Mereka menjual segala produk yang saat ini dibutuhkan masyarakat,” kata dia.

Di kesempatan yang sama, Business Advisor sekaligus CEO Serasa Food, Yuszak Yahya mengatakan bahwa ada banyak sekali pelajaran yang bisa diambil dari wabah covid-19 ini, terutama dari dunia bisnis. Meski begitu, bukan berarti tidak ada jalan keluar untuk sebuah bisnis bisa tetap survive seperti sedia kala.

“Solusinya sebenarnya simple, tinggal bagaimana kita mengeksekusinya saja. Jadi saya merangkumnya dalam jurus menghadapi covid-19 untuk bisnis kita ini seperti apa,” paparnya.

Menurut Yuszak, berdasarkan data Nielsen, ada opportunity yang bisa digarap di situasi seperti ini. Hanya saja pertanyaannya, opportunity ini berlangsung sementara atau tidak. Jadi sampai saat ini, kata Yuszak, orang masih meriset yang namanya new normal.

“Apakah kondisi ini nantinya menjadi kenormalan yang baru? Bisa iya, bisa tidak. Namun satu hal yang baru dan mulai disukai adalah meeting online. Karena lebih efektif, efisien dan pesannya pun bisa sampai dengan baik,” kata Yuszak.

Dia pun menggambarkan, kalau meeting online mulai disukai banyak orang, artinya nanti WFH atau kerja dari rumah akan menjadi new normal. Dimana semua aktivitas atau pekerjaan yang dilakukan dari rumah akan menjadi kenormalan yang baru setelah masa pandemi ini berakhir.

Bahkan menurut data yang dipresentasikannya dalam video conference disampaikan bahwa, jika ini menjadi kenormalan yang baru, maka banyak orang akan lebih sering berada di rumah. Artinya, sekitar 30% orang akan lebih sering untuk belanja online dan sekitar 49% orang akan lebih sering masak di rumah.

Dalam menghadapi krisis di masa pandemi ini, Yuszak menyampaikan 4 short term program yang harus difokuskan oleh semua para pelaku bisnis di tanah air, termasuk bisnis waralaba yakni Sales, Cost, Team dan Cashflow. Keempat short term tersebut merupakan bagian dari backup strategy yang harus dilakukan, sehingga tidak mati gaya.

“Jadi ada 4 jurus jitunya. Dimana untuk sales, kita harus bisa rolling sales forecast. Kemudian untuk cost, kita harus bisa review cost struktur baik dari sales dan marketing. Lalu team dan juga review cashflow planning perusahaan,” pungkasnya.