Operasional Manager The Replay Fiqih mengatakan booming industri KTV pada 2010 melecut The Replay untuk melakukan upaya pembeda dalam menjaring market nonkonvensional namun memiliki unsur potensi yang cukup tinggi.

“Pada 2011 The Replay ini hadir di Indonesia dengan cabang pertamanya ada di kawasan Pantai Indah Kapuk [PIK]. Secara market, kami menyasar kalangan pengusaha dan masyarakat kelas atas, atau mid-end,” katanya di sela- sela Pameran IFRA 2019.

Pemilihan pasar dengan segmen premium tersebut kemudian membawa nuansa berbeda pada fasilitas yang ditawarkan The Replay. Walaupun pada dasarnya berformat KTV, The Replay menghadirkan konsep interior yang dapat mendukung aktivitas luxury para, seperti ruang pertemuan atau meeting room.

“Kami juga menghadirkan bar yang sangat friendly dan memberikan servicing beberapa minuman yang memang dijual terbatas [alkohol]. Itu semua kami hadirkan untuk memanjakan konsumen. Meeting room kami juga biasa dijadikan tempat dealing bisnis para pengusaha tersebut,” ungkapnya.

Kemudian, jika kebanyakan KTV memberikan pelayanan berupa instrumen karaoke yang bersifat standar, The Replay menomorsatukan kualitas sound sistem dengan menghadirkan produk internasional.

“Yang membuat The Replay berbeda adalah standar sound sistem kami yang memang benar-benar bagus. Ini bisa dilihat dari instrumen audio kami yang  di-provide oleh Bose. For your info, Bose ini merupakan pabrikan sound sistem terbaik kedua di dunia, jadi bisa digambarkan bagaimana suara yang dihasilkan,” tuturnya.

Penggunaan sound kelas dunia ini tak lepas dari peran sang owner yang merupakan lokal representatif Bose untuk wilayah Indonesia. Selain itu, sambung Fiqih, kehandalan Bose ditransformasikan  kedalam tools yang sangat mudah digunakan oleh konsumen.

“Kami juga menyiapkan event staff yang bertugas untuk memastikan konsumen mendapatkan pelayanan terbaik, jadi kami benar-benar memperhatikan sisi service yang diberikan. So far, kami running well banget” imbuhnya.

Antusias pasar yang cukup positif membawa The Replay melebarkan sayap bisnisnya ke Kawasan Gading Serpong pada 2014. Tak berhenti disitu, dua tahun berselang ekspansi bisnis berlanjut ke daerah elit Jakarta Selatan, tepatnya di Senopati. Lokasi strategis yang berdekatan dengan distrik bisnis paling prestise seantero jakarta, SCBD, The Replay lagi-lagi mendulang untung.

“Khusus cabang di Senopati ini kami mendapat respon yang luar biasa bagus. Kurang dari satu tahun beroperasi, revenue yang didapat hampir menyamai The Replay PIK yang notabene merupakan gerai pertama kami. Bahkan, saking kencangnya magnet The Replay, banyak pelaku usaha di daerah itu yang berbeda kategori melakukan kegiatan open mic dengan konsep karaoke” jelasnya.

Untuk urusan lokasi, Fiqih mengaku The Replay memang menetapkan standar khusus bagi para kalangan investor yang ingin bergabung. Hal tersebut dimaksudkan agar brand image yang selama ini terbangun tetap terjaga. Persyaratan seperti lokasi dan dan review kawasan sekitar menjadi acuan yang seolah tidak bisa ditawar lagi.

“Kami akan melihat siapa pasarnya, bagaimana kesinambungan kawasan tersebut dengan bisnis atau industri yang ada disekitar. Karena kami memang menset The Replay ini untuk dapat beroperasi seperti yang kami harapkan, dan juga sebagai upaya untuk me-reduce keluhan masyarakat, sebab jam operasinya bisa sampai tengah malam,” katanya.

Pada sepanjang 2019, Fiqih mengaku pihaknya tengah mempersiapkan pembukaan cabang baru di Manado. Selain itu, The Replay juga bersiap untuk merambah Pulau Dewata, Bali, tepatnya di sekitar underpass Ngurah Rai.

Ditemui saat pagelaran IFRA 2019 akhir pekan lalu (6/7), ekspansi The Replay nampaknya akan terus melaju kencang untuk tahun ini. Hal tersebut dibuktikan dengan banyaknya respon visitor pameran yang tertarik dengan konsep investasi yang ditarawarkan The Replay.

“Kami telah menerima 23 grup nama yang menyatakan komitmennya untuk bergabung dengan kami. Komitmen itu kemudian direalisasikan dengan kesanggupan mereka membayar down payment awal sebesar Rp15 juta,” katanya.

Tercatat, para investor tersebut menawarkan daerah-daerah potensial macam Bumi Serpong Damai (BSD) dan kawasan elit perkantoran Setiabudi, Jakarta Selatan.

“Kami akan terus menjajaki kerjasama tersebut dan mendorong terealisasinya pembukaan gerai baru The Replay,” sebutnya.

Dari sisi biaya investasi, Fiqih menyebut para calon mitra dapat memulai bisnis ini dengan start awal Rp5 miliar ditambah biaya lisensi franchise sebesar Rp600 juta.

“Untuk fasilitas yang didapat itu adalah fullset audio dan sound sistem. Lalu juga maintenancing dari kami tiap bulannya, misal untuk perawatan audio, AC, training pegawai, sampai interior desain yang kira-kira ada kerusakan atau malfunction. Sederhananya kami sebagai headquarter, mereka tinggal terima rapi saja, kami yang akan developing semua. Tetapi itu diluar biaya tempat ya,” tutupnya