Kemitraan Mie Kota Batavia adalah buah dari kepekaan Susanty Widjaya, owner Kemitraan Mie Kota Batavia, dalam melihat peluang bisnis. Wanita yang satu ini memang sudah sangat diakui dunia franchise tanah air. Setelah sukses membesarkan Bakmi Naga Resto yang menyasar segmen menengah ke atas, ia kemudian melirik segmentasi menengah ke bawah dengan mengusung merek yang berbeda, yaitu Mie Kota Batavia.

Di awal perjalanan Kemitraan Mie Kota Batavia, Susan mengusung konsep booth yang kemudian berkembang menjadi konsep motor tiga roda dan mini resto. Respon masyarakat dan calon mitranya pun langsung positif. Pasalnya, secara produk, Susan membawa menu-menu Bakmi Naga Resto yang telah terbukti diterima di lidah masyarakat Indonesia. Artinya, Kemitraan Mie Kota Batavia merupakan miniatur dari Bakmi Naga Resto yang telah melegenda sejak tahun 1979.

“Sekarang kami sudah lebih fokus, yang awalnya dari BO kini sudah ke franchise. Dan, saat ini kami pun lebih fokus kepada pengembangan rumah makan atau mini resto. Meski demikian, konsep sebelumnya, yaitu booth dan motor tiga roda masih tetap dijalankan dan dimaintenance sampai saat ini,” papar Susan.

Perkembangan Kemitraan Mie Kota Batavia tak hanya sampai pada inovasi konsep mini resto semata, tapi juga bisa dilihat pada omset yang mampu diterima oleh para mitranya. Susan menuturkan, untuk omset yang dulu ditargetkan ratusan ribu per hari, sekarang targetnya  sudah sampai jutaan rupiah per harinya.

Kemitraan Mie Kota Batavia, lebih lanjut Susanty memaparkan, bahwa kini telah memiliki 40 menu, tiga kali lipat lebih banyak dari sebelumnya yang hanya memiliki sekitar 10 – 12 menu saja. Jadi, sambungnya, meski bentuk varian produknya hanya berupa rebusan seperti bakmi, bihun, atau kwetiau, namun tetap dikombinasikan sehingga menjadi lebih bervariasi.

“Dari kombinasi-kombinasi itulah terciptanya bakmi ayam kecap, bakmi ayam kampung, bakmi ayam jamur, bakmi ayam bakso, dsb. Sehingga menu kami memang semakin bertambah banyak. Lebih bervariasi dengan harga yang masih terjangkau, tergantung dari topping apa yang dipilih,” papar Susanty.

Setelah mengetahui perkembangan serta inovasi-inovasi Mie Kota Batavia, pastilah Anda pun ingin tahu perkembangan nilai investasi untuk menjadi mitra dari brand besutan Susanty tersebut. Memang, untuk nilai investasi sedikit mengalami peningkatan.

“Kalau dulu untuk joining fee-nya hanya Rp 45 juta. Akan tetapi sekarang dengan franchising kami naikan menjadi Rp 75 juta. Kemudian kalau kemarin itu dalam bentuk BO kami menggunakan sharing bulanannya Rp 500 ribu, tapi sekarang dengan franchising kami akan menggunakan royalti fee yang sama dengan Bakmi Naga Resto, yaitu 5% per bulannya,” jelas Susanty.

Kemitraan Mie Kota Batavia, siap menjadi pilihan yang tepat bagi anda pecinta kuliner atau individu yang paham betul besarnya potensi dan omset yang bisa dihasilkan. Apakah anda berdomisili di Jakarta? Atau tertarik membuka bisnis yang Kemitraan Mie Kota Batavia ini di daerah Anda sendiri? Klik di sini