Franchiseglobal.com - Perkembangan zaman menuntut semua orang bergerak cepat, salah satunya untuk melek terhadap digital. Di satu sisi era digital ini justru membuat rasa takut sebagian orang, rasa takut itu adalah takut untuk ketinggalan. Hal itu juga berlaku dengan perkembangan bisnis sebuah brand.

Sehingga perlunya setiap brand memantau perkembangan topik di dunia digital. Ketika salah menyikapi sesuatu yang viral maka akan terjebak dalam bunuh diri, di mana netizen akan membunuhnya dengan komentar- komentarnya. Namun sebaliknya jika benar menyikapi maka itu akan berdampak positive bagi brand.

Gancar Candra Premananto, M.Si., CMA selaku Head Of Magister of Management Faculty of Economics & Business Airlangga University mengatakan dalam membangun brand di era digital perlunya sebuah cerita. Melalui cerita itu tentunya akan menyampaikan pesan dengan cara yang berbeda, sebab manusia lebih mudah mengingat hal yang bentuknya cerita.

“Cerita akan membangun emosi pembaca. Apabila pembaca sudah senang dan cerita itu masuk ke hati konsumen maka otomatis dia akan membeli produk kita sekalipun itu mahal,” katanya dalam seminar bertajuk “The Power of Storytelling for Branding” di acara award ceremony Indonesia Digital Popular Brand Award (IDPBA) 2019 yang diselenggarakan oleh INFOBRAND.ID di Hotel Shangri- La, Kamis, (25/7/2019).

Bagi brand di dunia digital penting untuk membangun persepsi konsumen, caranya dengan memviralkan produk sehingga brand akan dibicarakan banyak orang. Tentunya dengan sesuatu hal yang menarik. Intinya bagaimana mempengaruhi orang lain untuk mengikuti keinginan kita, sehingga brand perlu membangun kredibilitas brand terlebih dahulu. Hal itu supaya orang percaya dengan produk tersebut, caranya dengan membuat cerita menarik juga.

Setidaknya ada beberapa tips menjadikan cerita itu menarik, antara lain; Gancar menyebutkan pertama adalah Sensitivity yakni hal apa yang sensitive dari produk brand bagi diri kita dan konsumen. Sehingga menjadikan cerita itu menarik dan akhirnya diangkat oleh media serta dibicarakan oleh banyak orang. Kedua, Sharing to the right audience yakni sebarkan kepada audience yang tepat.

“Ingatan kita lebih mudah untuk mengingat alur cerita. Tak ayal mengapa orang tua sering kali memberikan cerita kepada anaknya dan dosen memberikan ceritanya kepada muridnya,” ujarnya.

Gancar menuturkan agar setiap brand memulai untuk menulis ceritanya dahulu tanpa perlu ragu. Karena banyak cerita yang dapat diangkat dari suatu brand. Seperti dari suatu nama brand, ceritakan mengapa memilih nama brand itu dari sekian banyak nama dan hal lainnya yang menarik.

“Dahulu sejak kecil kita sudah terbiasa diajarkan untuk mengarang cerita, nah sekarang kita mencoba mengarang cerita itu untuk brand kita,” tukasnya. [hfz]