Krisis ekonomi global yang menerpa sejumlah negara termasuk Indonesia, membawa dampak yang cukup signifikan di sejumlah lini bisnis tanah air. Beberapa pelaku usaha dari berbagai sektor industri, mulai mengencangkan ikat panggang dan mengambil langkah strategis guna mengarungi badai pelemahan ekonomi ini. Tak terkecuali dengan bisnis waralaba yang juga turut terkena imbas menguatnya nilai tukar dollar ini terhadap rupiah ini.   

Namun ibarat pepatah bijak “Daripada mengutuk kegelapan, lebih baik menyalakan lilin dalam terang”, Beberapa bisnis waralaba tetap mencari asa untuk bisa survive di tengah lesunya perekonomian. Salah satu diantaranya adalah waralaba Alfamart. Bisnis ritel yang berhadapan langsung dengan konsumen akhir ini, memang cukup sensitif dengan melonjaknya harga-harga produk yang terkena dampak krisis ekonomi global.

Kendati begitu Alfamart tetap menawarkan harga yang kompetitif dan terjangkau bagi pelanggan mereka. Brand waralaba minimarket ini juga tengah menyiapkan beberapa strategi agar tren perkembangan bisnisnya bisa terjaga.

Seperti yang diungkapkan oleh Presiden Direktur Alfamart, Anggara Hans Prawira, untuk menghadapi pelemahan daya beli masyarakat, pihaknya menerapkan langkah seperti menambah jumlah gerai, memanfaatkan teknologi informasi, mengoptimalkan lini bisnis di luar negeri, serta mengerek harga jual menjadi pilihan terakhir.

Meskipun produk yang dipasarkan di gerai Alfamart merupakan produk lokal. Namun, beberapa di antaranya mengandung bahan baku impor, sehingga turut terkena imbas pelemahan rupiah.

Hans mengakui, opsi menaikkan harga bisa menurunkan daya beli konsumen yang berujung pada melambatnya pertumbuhan pendapatan dan laba perusahaan. Agar roda bisnis tetap terjaga, Alfamart memanfaatkan perangkat teknologi seperti tablet guna mengefisiensikan penggunaan kertas dalam setiap laporan transaksi bisnis di jaringan tokonya.

Seperti diketahui, waralaba Alfamart sebagai bisnis minimarket yang memiliki jaringan toko di seluruh penjuru tanah air, tetap cetak tren pertumbuhan positif ditengah kelesuan ekonomi nasional. Tak hanya itu, perusahaan ritel ini juga terus menambah gerai untuk meningkatkan volume penjualan barang. Hingga Juni 2015, perusahaan telah menambah lebih dari 500 gerai, sedangkan sisanya akan digenjot di semester kedua.

“Targetnya, sekitar 1.200 penambahan gerai baru sepanjang 2015. Kami berharap spending Pemerintah (anggaran belanja) segera digulirkan sehingga memicu daya beli masyarakat menjadi naik. Proyek infrastruktur yang belum dijalankan Pemerintah bisa menstimulus daya beli masyarakat,” ujar Hans, seperti dilansir dari Alfamartku.com

Ia menyambungkan bahwa kondisi perekonomian saat ini menjadi tantangan bagi peritel. Karena itu lanjutnya, perusahaan tidak mematok target yang muluk untuk tahun ini. “Target pertumbuhan kami hanya sekitar 6 hingga 10 persen,” pungkasnya.

(Heksa R.P)