JAKARTA, FRANCHISEGLOBAL.COM - Pandemi covid-19 telah berdampak nyata pada kondisi ekonomi. Banyak perusahaan telah merumahkan bahkan mem-PHK karyawannya. Di saat sulit seperti ini, memulai bisnis sendiri menjadi salah satu pilihan untuk tetap produktif.

Lalu bisnis seperti apa, berjualan makanan dan minuman menawarkan peluang yang cukup menjanjikan karena merupakan kebutuhan masyarakat sehari-hari. Menariknya lagi bisnis ini juga dapat dimulai dengan modal yang cukup tarjangkau.

Tri Indah Lestari, seorang Ibu Ruma Tangga berusia 46 tahun yang berpengalaman selama 23 tahun di bidang bakery mengungkapkan, bisnis donuts cukup menarik dan menjanjikan. Alasannya, karena dinikmati setiap hari, dan penikmatnya sangat banyak mulai dari anak-anak hingga orang tua. Meskipun pemainnya sudah banyak, tapi hal itu justru menunjukkan bahwa bisnis ini sangat menjanjikan. 

“Jadi tidak susah untuk mengedukasinya,” ujar Tharie, sapaan akrabnya.

Melihat potensi yang menjanjikan dan pengalaman yang dimiliki, Tharie menciptakan donuts baru yang diberi nama Dunots. Berbeda dengan Donuts pada umumnya, Dunots memiliki tampilan dan tektur unik yang dilapisi dengan krispi. Saat ini produknya masi merupakan produk rumahan (home industry), namun tetap menawarkan kualitas rasa yang tidak kalah dengan donuts yang sudah memiliki nama besar.

“Donat krispi, tapi juga benar-benar soft. Tidak gunakan bahan pengawet, dan gunakan ingredien berkualitas tinggi,” jelas Tharie.

Dunots saat ini ditawarkan dengan harga Rp35 ribu per setengah lusin (6 pcs). Dengan harga yang cukup terjangkau itu Tharie menyasar kalangan menengah ke bawah (midle low), yang menurut Tharie pasarnya lebih besar dibanding midle up. Namun dengan keunikan dan kualitas rasa yang ditawarkan, Dunots juga cukup menarik bagi masyarakat kelas atas.

Menurut Tharie, Dunots yang diproduksi di Sawangan, Depok ini saat ini telah dipasarkan secara offline ke area Jakarta dan sekitarnya, dan secara online dengan pembeli dari seluruh Indonesia. Produk tersebut juga diminati orang lain untuk dapat ikut berjualan sebagai reseler. Melihat minat masyarakat yang cukup tinggi untuk dapat berjualan Dunots Donut Chrispy, Tharie pun berinisiatif untuk membuat kemitraan atau franchise.

“Banyak banget yang ngantri ingin, minta dibuatkan franchise untuk mereka,” ujar Tharie.

Untuk memenuhi permintaan tersebut, Tharie pun membuka peluang kemitraan, dengan investasi Rp25 juta dalam bentuk booth dan Rp45 juta dalam bentuk kontainer. Namun sebelum itu, Dunots akan membuka 1 outlet sebagai percontohan. Outletnya sendiri rencananya akan dibuka di Sawangan, pada 23 Oktober mendatang.

Setelah itu, hingga akhir tahun 2020 ini, Tharie mentargetkan akan membuka 20 outlet 300-500 mitra di berbagai kota di Jawa, Bali dan Sumatera. Untuk mendukung kebutuhan para mitranya, juga akan dibuka peluang keagenan sebagai distributordi setiap kota dan pusat produksi di beberapa wilayah yang ditunjuk.

Diakui oleh Tharie, pasar donuts saat ini dikuasai oleh dua nama besar seperti Dunkin Donuts dan JCO yang jaringannya sudah sangat luas dan namanya sangat dikenal masyarakat. Selain itu memang ada merek-merek lain, tapi bersifat individu. Namun dengan peluang kemitraan yang dibuka oleh Dunots, bukan tidak mungkin akan menjadi brand baru dengan jaringan yang luas di pasar donuts.

Yang dibutuhkan untuk membuat jaringan yang luas dan brand yang besar, menurut Tharie adalah komunikasi dan komitmen antara franchisor selaku pemilik brand dan franchisee sebagai pembeli brand atau mitranya. Awalnya franchisor menerima franchisee sebagai mitra, dengan komunikasi dan komitmen bisnis akan berjalan dengan baik.

“Yang penting komunikasi dan komitmen, maka prinsipal dan mitra akan berkembang dengan baik,” ujar Tharie.

Dengan pengalaman panjang di dunia bakery, Tharie meyakini bisnis Dunots akan menjadi makanan yang digemari oleh masyarakat. Dengan demikian peluang kemitraan yang ditawarkan pun akan menjadi bisnis yang menjanjikan.

“Sudah ada riset market yang riel. Sudah banyak testimoni. Dari situ sudah tahu masyarakat menyukai produk Dunots,” pungkas Tharie.