Hal ini disampaikan oleh Burang Riyadi selaku Partner Int’l Franchise Business Management – IFBM dalam keterangan resminya yang diterima redaksi Franchiseglobal.com, Rabu (23/1/2019).

“Klien-klien kami di tahun 2018 didominasi oleh perusahaan-perusahaan jasa seperti klinik dan jasa lain. Usaha-usaha dengan margin di atas 50 persen tentu akan menjadi usaha yang paling diminati calon franchisee,” ujarnya.

Menurut Burang, calon franchisee harus pintar dalam memilih bisnis waralaba yang baik, yakni bisnis waralaba yang telah memiliki tim, training center dan divisi pengembangan. Selain itu, pengalaman sukses dengan unit usaha yang diwaralabakan dan juga pertimbangan mengenai brand yang sudah terkenal juga bisa menjadi pilihan yang tepat.

Terkait dengan franchisee, Burang menyarankan agar mereka bisa tertib dan taat saat menjalankan proses yang diberikan franchisor. Hal ini dilakukan agar bisnis waralaba yang sudah ia beli dengan masa kerjasama sekian tahun bisa berjalan dengan baik.

Selain itu, mereka juga harus kreatif untuk lebih produktif dalam mengelola bisnis waralabanya. Meski begitu, franchisee tetap harus berada dalam jalur dan tidak menyimpang dari ketentuan yang sudah disepakati.

“Franchisee sebaiknya aktif berjualan atau menjalankan local marketingnya. Dan yang penting juga, memberikan perhatian dan pengelolaan timnya dengan baik,” katanya.

Demi bisa mendongkrak penjualan, kata Burang, para franchisee bisa memanfaatkan media digital sebagai bagian dari perangkat marketingnya, mengingat interaksi konsumen banyak dilakukan melalui gadgetnya.

Selain itu, franchisee juga bisa melakukan program-program promosi yang dikombinasikan secara harmonis antara media cetak, media digital dan penjualan langsung.

“Keuntungan menjadi franchisee yang paling utama adalah mempunyai mentor dalam menjalankan bisnisnya. Franchisee memiliki mitra yang berpengalaman di bisnisnya untuk berkonsultasi. Jika dia membuka usahanya sendiri, belum tentu ada pihak yang bisa diajak berdiskusi mengenai permasalahan bisnisnya. Selain itu, franchisee seharusnya mendapatkan dukungan atau support dalam bentuk pelatihan, sistem (IT), dan kegiatan-kegiatan pemasaran. Apalagi jika usaha franchisenya memiliki brand yang sudah terkenal,” tutupnya.