Levita mengatakan, kehadiran franchise lokal maupun kemitraan saat ini semakin banyak. Begitu juga dengan franchise asing yang masuk ke Indonesia. Karena menurutnya, Indonesia dianggap sebagai market yang berpeluang, sehingga banyak franchise asing yang tertarik untuk masuk ke Indonesia.

“Sampai saat ini Indonesia menjadi satu negara yang seksi untuk dimasuki waralaba asing ke Indonesia,” kata Levita beberapa waktu lalu pada Franchiseglobal.com.

Menurut dia, franchise asing yang berminat untuk masuk ke Indonesia terus bertambah, seperti dari Korea, Amerika, dan juga Eropa. Selain marketnya masih sangat menarik, mereka juga melihat pemerintah Indonesia yang saat ini telah memfasilitasi dengan adanya pembangunan infrastruktur di seluruh Indonesia, bahkan sampai ke daerah-daerah terpencil sekalipun. Sehingga membuat para pelaku bisnis waralaba semakin bergairah

“Dulu masalah utamanya adalah infrastruktur sehingga untuk logistik amat sangat susah untuk mengirim dari satu daerah ke daerah yang lainnya. Kalau sekarang sudah disupport sama pemerintah seperti adanya penambahan airport, pelabuhan-pelabuhan, seperti itu,” katanya.

Saat ini, kata Levita, bisnis franchise yang masih survive sampai saat ini adalah F&B, jasa dan juga ritel. Selain itu, lokasi juga menjadi penentu dalam perkembangan bisnis.

“Era digital juga dapat men-support perkembangan bisnis. Selain itu kreatif serta membaca respon pasar,” katanya.

Franchise Lokal Go Internasional

Levita mengatakan, dari total semua franchise lokal yang ada di Indonesia, hanya 20 persen saja yang sudah go internasional. Total franchise lokal sendiri ada sekitar 1000 merek, itu artinya ada 200 merek yang sudah berani terjun ke luar negeri.

“Sejauh ini memang belum terlalu banyak. Karena buka waralaba di negara sendiri itu beda dengan buka waralaba di luar negeri. Jadi harus benar-benar prepare dan pemerintah juga harus support itu,” ujarnya.

Selain itu, dia juga mengatakan bahwa ada beberapa alasan lain yang membuat pemain franchise lokal enggan terjun ke luar negeri. Pertama, misalnya F&B yang dimana bahan-bahan makanannya belum tentu ada disana (luar negeri-red).

“Misalnya soal ayam, kita belum tentu bisa bawa ayam lokal kita ke luar negeri. Apalagi waktu itu ada flu burung, sehingga Indonesia itu agak di batasi supaya tidak boleh bawa ayamnya ke luar negeri,” katanya.

Selanjutnya, kata dia, faktor lainnya adalah Sumber Daya Manusia (SDM) yang sangat agak susah mencarinya di luar negeri. Belum lagi ditambah penghasilan atau gaji yang harus dikeluarkan berbeda dengan di Indonesia.

“Keberanian juga nih. Kalau orang yang sudah berumur dia belum tentu berani mengembangkan bisnisnya sampai ke luar negeri. Kenapa, karena nantinya dia harus sering-sering kunjungan ke luar negeri untuk melihat perkembangan bisnisnya disana. Beda dengan anak muda sekarang, mereka lebih berani. Begitu mereka siap untuk go internasional, mereka akan buka di luar negeri. Tapi mereka butuh support dari pemerintah, asosiasi, sehingga mereka tidak takut bisnisnya di duplikat,” jelasnya.

Untuk itu, Levita berharap pemerintah bisa memberikan perhatian penuh kepada para pelaku usaha dengan memberikan pelatihan-pelatihan, sehingga mereka bisa menghadapi pangsa internasional dengan bijak. [ded]