“Bisnis- bisnis yang menjadi kebutuhan masyarakat itu pasti akan eksis terus, tinggal bagaimana nanti persaingannya antar brand melihat banyaknya brand- brand baru bermunculan. Di satu sisi warning lainnya terkait situasi politik saat ini,” katanya kepada Franchiseglobal.com di Resto I-ta Suki di Gandaria City, Jakarta Selatan, Kamis, (28/3/2019).

Dia menyampaikan pembisnis membutuhkan situasi negara yang stabil dan aman dalam menjalankan bisnisnya. Sehingga di tahun politik ini banyak pembisnis yang masih menunggu selesainya pemilihan presiden dan terkait kebijakan bisnis yang akan datang.

Evi juga menyinggung pergeseran zaman, di era milenial ini  justru tidak sedikit bisnis yang tergerus oleh kalangan milenial. Pengaruhnya dengan perkembangan digital membuat segalanya serba instan dan tidak perlu ribet. Seperti untuk membeli makan generasi milenial kini bisa melalui Go food, untuk salon kini bisa dipanggil ke rumah dan lainnya.

“Milenial ini lebih memperhatikan kecepatan waktu dan kepraktisan, karena mereka lebih mobile. Sehingga ini perlu dipertimbangkan, kalau bisnis- bisnis model lama tidak menyesuaikan maka akan tergerus oleh milenial ini,” tuturnya.

Terkait pilihan investasi franchise, orang sudah banyak yang teredukasi untuk memilih bisnis franchise yang baik. Sehingga hal ini menjadi tantangan bagi franchiser untuk dapat mempersiapkan bisnisnya secara serius, bagaimana agar bisnisnya dapat berjangka panjang, bagaimana training supportnya, marketing supportnya, branding dan support lainnya.

“Jadi calon investor ini akan jauh lebih teliti dalam menentukan bisnis mana yang menguntungkan, dan bisnis franchise itulah itulah yang akan mereka pilih,” tukasnya. [hfz]