JAKARTA, FRANCHISEGLOBAL.COM – Bisnis waralaba dan lisensi yang sempat terpuruk akibat hantaman pandemi Covid-19 diprediksi akan bangkit pada 2022 mendatang. Saat ini kondisi bisnis waralaba dan lisensi sudah berangsur membaik.

Hal itu diutarakan Menteri Perdagangan, Muhammad Lutfi, saat membuka Indonesia Franchise Forum 2021 (rangkaian BizFest 2021) yang digelar Asosiasi Franchise Indonesia (AFI), Perhimpunan Waralaba & Lisensi Indonesia (WALI) dan Asosiasi Lisensi Indonesia (ASENSI) dan Kementerian Perdagangan, di Jakarta, Selasa (7/12/2021).

Menurut Lutfi, dia merasa optimistis karena sektor ini mempunyai potensi yang sangat besar di Indonesia. Catatan dari Menteri Lutfi, pengusaha di sektor ini harus mampu beradaptasi sehingga sektor ini tetap dapat berkontribusi terhadap perekonomian Indonesia.

“Dampak pandemi masih kita rasakan sekarang, termasuk sektor waralaba, untuk itu pelaku bisnis harus bisa beradaptasi. Saya optimis tahun dapan bisnis warala dan lisensi tetap akan berkontribusi pada perekonomian Indonesia,” kata Lutfi.

Selain itu, membuncahnya keoptimisan Lutfi terhadap bisnis waralaba dan lisensi dikarenakan saat ini baik pemerintah maupun pengusaha waralaba serta aasosiasi bekerja dengan kolaboratif dan tidak lagi bekerja secara sendiri-sendiri.

“Harapannya waralaba Indonesia tidak lagi hanya menjadi penonton di negerinya sendiri. Saya juga berharap para peserta IFF 2021 mendapat output positif yang dapat dijadikan sebagai strategi untuk menghadapi 2022,” ujarnya.

Senada dengan Mendag Lutfi, Ketua Umum Perhimpunan Waralaba & Lisensi Indonesia (WALI), Tri Raharjo, juga menyuarakan kepotimisan akan kebangkitan bisnis waralaba dan lisensi di Indonesia pada 2022 mendatang.

“Berdasarkan data WALI, saat ini 25 persen pengusaha waralaba menyatakan sudah berangsur normal. Dia pun memprediksi akan semakin banyak pengusaha waralaba yang akan kembali normal seiring pengenduran kebijakan Pemberlakukan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM),” ucapnya.

Oleh karena itu, Tri mengapresiasi langkah pemerintah yang mulai memberikan pelonggaran (pelonggaran kebijakan PPKM), dengan mulai mengizinkan mal-mal beroperasi meski dengan prokses ketat. Langkah ini, menurut dia, akan semakin menggairahkan bisnis waralaba dan lisensi ke depannya.

“Kondisi ini menunjukkan keoptimisan masyarakat kita untuk keluar dari krisis pandemi yang terjadi, kita juga harus menyusun strategi-strategi dan juga melakukan sederet inovasi dalam produk dan layanan untuk menatap 2022 mendatang,” tegasnya.

Pendapat Tri ini pun diamini Susanty Widjaya, Ketua Umum Asosiasi Lisensi Indonesia (ASENSI). Menurut dia inovasi adalah hal penting agar sebuah usaha dapat bertahan. Strateginya adalah dengan mencari peluang usaha baru.

“Penyelenggaraan BizFest 2021, adalah hasil kolaborasi opertama tiga asoisasi, ini momentum luar biasa, dan kami mengajak para pelaku usaha untuk bergandengan tangan menyukseskan acara BizFest 2021 dan juga IFF 2021,” paparnya lagi.

Sementara itu, Ketua AFI Anang Sukandar menyampaikan, BizFest 2021 digagas sebagai sebuah gerakan untuk meningkatkan konsumsi domestik Indonesia dengan cara mendorong munculnya berbagai peluang usaha dan produk-produk unggulan.

“Melalui BizFest 2021, kita mencoba mendorong peluang bisnis dan produk-produk yang akan menjadi usaha unggulan. Kita harapkan peluang-peluang bisnis dapat berkembang menjadi waralaba dan produk-produk unggulan diharapkan menjadi produk-produk berlisensi,” ungkap Anang.

Yongky Susilo dari Kadin Indonesia, yang didaulat sebagai pembicara pertama IFF 2021 menyatakan, saat ini masyarakat Indonesia sedang berada dalam proses back to normal. Seiring dibukanya kembali sekolah, mal dan fasilitas publik lainnya.

“Hari ini balas dendam, keluar untuk ke mal, dan belanja, makanya traffic sudah ramai sekali, kondisi macet yang biasa bikin kesel sekarang malah bikin senang, krena menandakan kondisi sudah normal,” tegas Yongky.

Di tengah tren yang tengah menanjak ini, Yongky pun mengajak agar para pelaku bisnis di sektor waralaba dan lisesnsi untuk menjalankan bisnisnya secara unusual, karena menurut dia, bisnis itu harus terus betransformasi mengikuti zaman.

“Peran KADIN Indonesia adalah bermitra dengan pelaku usaha dengan melakukan monitoring usahanya, kita juga bantu mereka meng-organize, mentransformasikan opportunity ke suatu bisnis yang nyata,” imbuhnya.

Pembicara lainnya, Kenneth Chandra, CEO Nyayap Chicken menyatakan, sebelum mendirikan usahanya ini, dia terlebih dahulu mengadakan riset dan tren yang ada saat itu. Hasilnya, fried chicken ala Korea sangat digemari di Indonesia.

“Jadi konsepnya fried chicken dengan tema Korea, karen atren Korea di Indonesia sangat tinggi. Bulan lalu kita baru buka di Makassar, sekarang total sudah ada 11 cabang,” jelasnya lebih jauh.

Menurut dia lagi, selain mengamati tren yang ada, Kenneth juga melakukan inovasi pada usahanya. Salah satunya melalui pembuatan kemasan yang baik dan juga menarik. Pasalnya, saat ini banyak makanan enak namun kemasannya tidak bagus dan kesulitan untuk bersaing.

“Kita kan harus men-deliver barang ke konsumen, sekarang jualanan harus ke endorsmen, mdia social, hal penting lainnya adalah packaging, harus baik, saat ini banyak resto dengan makanan enak tapi packaging-nya belum ke level itu,” tandasnya.