Waralaba kuliner bakmi dahulu hanya tersedia di gerobakan pinggir jalan atau skala kios kecil. Kini seiring berkembangnya bisnis makanan di tanah air, sajian khas oriental ini juga turut meningkatkan pamor serta kualitasnya pelayanannya. Tak heran beberapa bisnis olahan mie ini cukup sukses merambah konsep resto sampai menjangkau pasar pusat perbelanjaan.

Untuk itu, salah satu brand yang cukup sukses menggarap segmentasi pasar kelas menengah, kemitraan Mie Kota Batavia juga tengah gencar mengembangkan bisnis lewat konsep mini resto. Dengan pengalaman puluhan tahun di bidang bisnis yang sama lewat brand Bakmi Naga Resto, Mie Kota Batavia memposisikan diri untuk menjangkau seluruh lapisan masyarakat.

Harga yang dipatok untuk setiap porsinya pun cuku beragam, berkisar Rp13 ribu sampai Rp17 ribu. Hal ini pun dinilai masih sangat bersahabat dengan kantong masyarakat Indonesia pada umumnya. Pun demikian bagi para calon wirausawan yang ingin menggeluti bisnis kuliner namun terkendalam dengan batasan modal.

Waralaba kuliner ini menawarkan paket bisnis kemitraan yang cukup kompetitif untuk bisnis kelas menengah. “Saat pameran di smesco, ada saran dari Menteri UKM agar kami juga menjangkau masyarakat kelas menengah kebawah. Untuk itu kami menyajikan menu makanan yang terjangkau namun juga aman dikonsumsi bagi semua umur,” imbuh Susanty Widjaya, founder Mie Kota Batavia.

Bisnis bakmi Mie Kota Batavia, membuka peluang bisnis bagi calon mitra yang berminat untuk terjun di bisnis makanan. Calon mitra bisa memilih tipe investasi sesuai dengan kebutuhan dan besaran modal. Untuk tipe booth atau rombong dan motor tiga roda dibanderol investasi senilai Rp75 juta. Kemudian untuk semi resto dipatok investasi senilai Rp95 juta sampai Rp105 juta.

Hingga pertengahan 2015 ini, Mie Kota Batavia sudah mengoperasikan sekitar 13 outlet yang tersebar hingga ke luar pulau Jawa. “Dengan harga bakmi yang dijual senilai Rp12,5 ribu sampai Rp17 ribu. Mitra bisa raup untung 100% dari margin harga produksi. Kemudian dari pengalaman kami juga mitra bisa mengantongi omzet rata-rata Rp1 juta hingga Rp3 juta per harinya,” pungkas Susan.

(Heksa R.P)