Kemitraan Es Krim yang unik, seringkali menjadi sebuah fenomena baru. Tidak terkecuali di industry franchise tanah air. Beberapa kasus masifnya perkembangan merek kemitraan dimulai dari fenomena yang unik entah itu dari pelayanannya, konsep bisnisnya, produknya, hingga cara penyajiannya. Dan patut menjadi catatan, ciri khas bisnis kemitraan atau pun franchise memang terletak pada diferensiasi yang ditawarkannya. Seperti yang dimiliki oleh Ice Manias.

Ice Manias berasal dari Thailand, dibawa ke Indonesia oleh Ricky Fernando di awal tahun 2014 lalu. Pria yang akrab disapa Ricky ini mendapat rekomendasi dari sang istri yang merupakan warga negara “Gajah Putih”. Sang istri mengungkapkan jika bisnis es krim tersebut tengah menjadi tren sejak tahun 2010-an silam. Atas informasi itu, Ricky kemudian searching via dunia maya dan mendapati bila bisnis ini memang memiliki proses penyajian yang unik.

Meskipun terpikat pada pandangan pertama, hingga tidak beberapa lama kemudian Ricky melancong ke Thailand, ia tidak langsung diterima oleh sang empunya merek. Seperti diungkapkan Ricky, kendala awal berada pada komunikasi. Sebab, sang owner tidak fasih berbahasa inggris, sedangkan ia sendiri tidak mengerti bahasa Thailand.

“Alhasil, saya mesti mengajak dan melibatkan istri saya sebagai translator. Selain itu, ada beberapa proses yang harus saya lewati. Saya perkirakan, prosesnya memakan waktu dua tahun. Namun saya cukup puas. Sebab, semua prosesnya berjalan dengan baik dan membuat kedatangan bisnis ini di Indonesia begitu dinanti dan saya siap,” tukas Ricky.

Kesabaran Ricky berbuah manis. Genap setahun menjejakkan kaki-kaki bisnis di Indonesia, Ice Manias cukup diterima masyarakat. Sebagai sebuah bukti, sebaran 7 buah outletnya yang berada di Surabaya (dua buah), dan masing-masing satu buah outlet di Yogyakarta, Bandung, Medan, Samarinda, dan Manado.

Menikmati 3000-an Kombinasi Rasa dan Penyajian yang Unik

Kemitraan Es Krim Ice Manias sekilas tidak ada yang berbeda dari produk es krim pada umumnya. Akan tetapi, setidaknya ada dua buah keunggulan yang niscaya membuat merek ini unggul, yaitu varian rasa dan penyajian yang unik. Bahkan, di negara asalnya merek ini cukup dominan dengan sebaran 200-an outlet. Untuk ukuran bisnis dengan segmen midle-up, merek ini sangat penetratif.

Untuk rasa, lanjut Ricky, Ice Manias mempunyai empat tahapan pemesanan. Mulai-mula konsumen bisa memesan berdasarkan 7 macam rasa dasar, kemudian memilih dua dari 30-an toping lebih, lalu memilih saus dengan lilihan 7 macam, dan whipped cream apabila anda suka. Dari beberapa tahapan tersebut, bisa menciptakan kombinasi lebih dari 3000 varian rasa yang berbeda. Wow!

Sedangkan dari segi penyajian, Ice Manias juga mengombinasikan antara proses pembuatan es krim dengan entertainment yang pastinya menghibur konsumen yang memesan dan mengundang calon konsumen untuk mengerubungi outlet Ice Manias.

Es krim dibuat berdasarkan pesanan, jadi sangat fresh. Dan yang unik, pembeli dapat melihat proses pembuatannya ketika memesan. Dimulai dari bahan baku berbentuk cair yang dituang ke atas loyang kemudian dicacah hingga halus. Sama seperti menggoreng, namun disamping menggunakan minyak panas, Ice Manias memanfaatkan loyang dingin. Hasilnya pun bisa berbeda-beda, karena setiap pembeli bisa memilih topping mereka sendiri. Sehingga pembeli tidak akan bosan dengan satu rasa saja.

Lebih lanjut menjelaskan, rata-rata harga yang ditawarkan kepada konsumen sebesar Rp 32 ribu per cup. Harga tersebut standar. Kecuali sang konsumen ingin menambahkan toping. Untuk itu siapkanlah rupiah sebesar Rp 3 ribu/topingnya.

Menyasar Segmen dan Lokasi Mal Midle-up

Ricky memaparkan, bisnis yang dibawanya dari Thailand ini menyasar segmentasi kelas menengah ke atas. Oleh karenanya, ia mensyaratkan kepada mereka yang tertarik bergabung menjadi mitra, wajib mencari lokasi Mal dengan segmentasi yang sama.

Untuk investasinya sendiri sebesar Rp 215 juta. Dari angka tersebut termasuk didalamnya, training, mesin es krim, komputer, software, desain outlet, dan lain sebagainya dengan masa kerjasama selama 5 tahun. Namun tanpa terkecuali bahan baku awal. Ricky juga membebaskan royalty fee untuk tahun pertama kerjasama. Kemudian jika kontrak kerjasama habis dan ingin perpanjang lagi, maka ia menegaskan tidak perlu lagi untuk  membayar investasi senilai investasi awal.

Lalu, berapa lama raihan balik modalnya? Ricky enggan mengungkapkan secara pasti. Sebab, kasus di setiap kota maupun di beberapa Mal sangat berbeda. Ambil contoh misalnya, di kota A omset Rp 100 ribu, namun di kota B omset bisa lebih tinggi tiga kali lipatnya. Meski demikian, ia siap memberikan prospektus penawaran dengan detail bila sudah ada calon mitra yang siap bergabung. Sebab, secara lebih spesifik ia akan membuat rinciannya.

“Menjanjikan omset tinggi dan perkiraan balik modal kepada para calon mitra sedangkan lokasi mereka berbeda-beda, menurut saya kurang ideal. Sebab, setiap tempat memiliki potensi dan pangsa pasar yang berbeda-beda. Lebih lagi, jika target marketnya adalah kalangan menengah ke atas. Maka saya harus memastikan bila tempat yang dipilih oleh mitra harus tepat menyasar pada target market tersebut. Sehingga akan lebih fair untuk mitra,” ulas Ricky.

“Selama masa kerjasama, kami akan terus mentreatment mitra. Salah satunya dengan meminta laporan sales. Bilamana laorannya minus, kami akan berikan konsultasi dan rekomendasi secara gratis. Kami berkeinginan untuk fokus menambah gerai-gerai baru. Namun demikian tanpa melupakan memaintain gerai yang sudah ada,” pungkas Ricky.

Kemitraan Es Krim Ice Manias dengan segudang keunggulan dan diferensiasinya tidak hanya mengguncang Thailand dan Indonesia. Ricky memaparkan, setelah masuk ke pasar Indonesia, merek yang berdiri sejak tahun 2011 ini melanjutkan ekspansinya ke beberapa negara Asia seperti di Laos, Myanmar, & Kamboja. Di beberapa negara tersebut, Ice Manias cukup populer. Sebuah bukti jika produk dan keunikannya diterima oleh lima negara dengan kultur yang berbeda.(Adv)

Sangat inovatif dan potensial, bukan?