JAKARTA, FRANCHISEGLOBAL.COM - Kebijakan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) Darurat membuyarkan kembali konsentasi para pelaku bisnis yang sudah mulai fokus untuk membangkitkan kembali usahanya yang sempat tutup sejak awal pandemi covid-19. Parahnya lagi, penyebaran covid-19 gelombang kedua semakin mengaburkan kapandemi ini akan berakhir.

Situasi ini tentu saja membuat pelaku usaha semakin sulit. Tantangan terbesarnya adalah kapan situasi akan membaik menjadi semakin tak menentu. Tapi di sisi lain, pandemi covid-19 yang telah berlangsung 1 tahun lebih telah membuat adopsi teknologi digital semakin masif, dan masyarakat semakin digital. Hal itu menjadi peluang yang harus dimaksimalkan agar bisnis tetap berjalan.

Tri Rahajo, Ketua Umum Perhimpunan Waralaba dan Lisensi Indonesia (WALI) mengatakan, pelaku usha harus open mind dengan situasi baru. Maksudnya adalah mencari peluang baru yang bisa dimaksimalkan ketika situasi yang lain tidak memungkinkan untuk dijalankan.

Di masa pandemi, boleh di bilang bisnis bidang SPA, Salon dan Refleksi terkena dampak yang paling parah, karena kegiatannya behubungan dengan sentuhan langsung, sementara sentuhan langsung saat ini menjadi hal yang paling dihindari. Maka solusinya adalah, menciptakan produk yang bisa dijual secara massal, untuk bisa dijual melalui marketplace.

“Jadi tidak mengandalkan konsumen datang ke outlet,” ujar Tri Raharjo.  

Selain itu, yang harus dilakukan adalah dari sisi pemasaran. Kalau sebelum pandemi pemasaran dilakukan melalui jaringan waralaba, di mana pandemi bisa dilakukan melalui platform digital atau online. Dalam hal ini, pemilik waralaba juga harus melakukan edukasi kepada ke jaringan, agar beradaptasi ke hal tersebut.

Diakui oleh Tri Raharjo, bahwa penjualan melalui platform digital telah dilakukan oleh para pelaku bisnis, sejak sebelum ada pandemi covid-19. Namun transaksi yang terjadi masih relatif kecil, antara 10-40%. Namun akibat pandemi covid-19, aktivitas belanja online semakin menjadi kebiasaan masyarakat, seperti layanan pesan antar makanan, maupun belanja online di marketplace.

“Buat pelaku bisnis, ketika masyarakat spen uang melalui pesanan aplikasi dan lainnya. buat pelaku bisnis jadi happy, karena ada transaksi di sana. Ke depan layanan pesan antar semakin digalakkan, menjadi solusi terbaik untuk pelaku usaha untuk mendapatkan income,” kata Tri.

Namun, catatannya adalah bagaimana memberikan edukasi kepada konsumen, bahwa outlet sudah memberikan layanan pesan antar, dan memiliki berbagai program, sehingga masyarakat memanfaatkan layanan dan program yang dijalankan. Dalam hal ini, edukasi untuk eksisting konsumen lebih mudah, namun untuk konsumen baru harus ada strategi khusus, seperti produk yang dijual bisa tampil di berbagai platform pesan antar, seperti Go Food, Grab Food, Shopee Food, dan lainnua.

“Sudah menjadi keharusan, pola penjualan melalui aplikasi sudah lazin. Apakah berlaku di waralaba, atau rumahan, yang jelas itu semakin memudahkan untuk menjual produk,” jelas Tri.

Lebih lanjut Tri menjelaskan, di era digital saat ini, pelaku bisnis semakin dimudahkan dengan berbagai tools dan chanel penjualan yang ada. Misalnya jasa pesan antar online, layanan ini dapat semakin memudahkan dalam menjangkau konsumen. Selain itu, saat ini sudah banyak marketplace yang dapat digunakan untuk menjual produk secara online, sehingga dapat menjangkau pasar yang lebih luas.

Dan yang tidak kala penting adalah melakukan promosi melalui berbagai channel. Dan di era digital, kita bisa memanfaatkan media iklan dengan budget terjangkau. Terlebih lagi saat ini setiap orang hampir menggunakan internet, dengan penetrasi pengguna internet sudah lebih dari 70%, dan pengguna media sosial mencapai 62%.

Bisnis yang memanfaatkan platform digital

Di era digital, boleh dibilang hampir seluruh sektor bisnis saat ini bisa dimaksimalkan menggunakan platform digital. Kalau waralaba, menurut Tri 40% bergerak di bidang makanan dan minuman. Sehingga paling tepat memanfaatkan layanan digital pesan antar makanan. Kedua, produk frozen food, bisa dijual melalui marketplace.

Tidak hanya memanfaatkan platform digital, pelaku bisnis juga harus berinovasi. Seperti di awal pandemi, ada bisnis waralaba yang berinovasi dengan menghadirkan kopi literan. Inovasi tersebut berhasil karena ternyata ramai pesanan.

Inovasi lainnya dilakukan oleh bisnis apotek, yang menghadirkan channel penjualan dengan mengubah website resmi menjadi toko online yang memajang semua produknya dapat ditemukan di websiter tersebut. Dan untuk konsumen yang ingin membeli, bisa kunjungi website tersebut.

Selanjutnya, beberapa pemain waralaba lainnya seperti laundry, menghadirkan layanan multi channel, dengan aplikasi dimana konsumen bisa melakukan order, kemudian ada petugas yang akan menjemput dan mengantar.

Pemain lainnya, bidang pendidikan, ada lembaga bimbingan belajar yang juga membuat aplikasi sendiri. Dan siswa bisa belajar secara online, bisa bertemu dengan guru melalui online. Jadi kalau sebelumnya menjangkau wilayah tertentu, sekarang jadi lebih luas.

Pemain properti, para pelaku brand juga bisa membuat web khusus untuk pasarkan produk properti. Sehingga konsumen bisa dapatkan produk dengan mudah.

Tantangannya adalah, memang kita bisa jual dan komunikasi secara digital. Saat penjualan offline penjualan banyak, apakah banting setir ke digital hasilnya akan sama. Solusinya, kita harus berdampingan dengan covid-19.

“Apapun situasinya, harus buat bisnis kita harus jalan dan mengasilkan. Didetilkan dengan rencana dan aksi, supaya tak turun secara drastis,” tutup Tri.