Franchiseglobal.com - Pionir waralaba kopi lokal, Coffee Toffee, mencoba membawa semangat kebangsaan dalam menghadirkan kopi berkualitas. Mengusung gerakan “Yes I Drink Indonesian Coffee”, gerai kopi kekinian tersebut menjadi salah satu pemain besar di negeri sendiri.

West Managing Director Coffee Toffee  Zai Ahmad mengatakan kisah sukses usaha yang dinikmati saat ini bukanlah sesuatu  yang instan. Komitment dalam menyediakan 100% produk kopi lokal yang berkualitas jadi ujung tombaknya. Dipadu dengan skill pengolahan serta para profesional handal pada bidang pengolahan kopi, menjadikan usaha ini sebuah jaminan mutu bagi anda yang ingin meraih kesuksesan bersama Coffee Toffee.

“Skema kerjasama yang kami tawarkan saat ini ada dua, pertama adalah company operated store dan yang kedua adalah full franchise. Kedua jenis kerjasama ini mempunyai keunggulannya masing-masing,” ujarnya.

Skema kerjasama company operated store disebut Zai sangat cocok untuk para investor yang telah memasuki usia purnatugas. Dalam pengelolaannya pun tidak dibutuhkan effort yang terlalu besar untuk menjalankan roda usaha.

“Anda hanya perlu membenamkan investasi senilai Rp1 miliar hingga Rp2,5 miliar untuk bisa memulai memulai bisnis Coffee Toffee dengan BEP [break even point/balik modal] 2,5 tahun, atau 30 bulanan. Semuanya akan kami full support. Jadi, istilahnya investor tinggal duduk manis saja,” tuturnya.

Adapun, skema kerjasama kedua yang ditawarkan adalah full franchise, dimana para investor akan diberikan berbagai keleluasaan dalam menjalankan bisnisnya. Mereka akan secara mandiri mengatur manajemen usaha, kepegawaian, serta tata kelola arus kas usaha. Disini, keseriusan dan komitmen dari para investor akan benar-benar ditempa guna memajukan bisnisnya.

“Sebagai contoh mitra kami di Madiun. Sang pemilik gerai secara serius menggarap usahanya. Dia terjun langsung sebagai brand manager, marketing manager, sampai promotion manager dia terlibat juga. Kesuksesan mitra kami tersebut bisa dilihat dari komitmennya me-renewal kontrak tahun lalu untuk lima tahun kedepan,” imbuhnya.

Zai menyebut, hingga saat ini total 53 store Coffee Toffee yang telah berdiri diberbagai kota besar di Indonesia. Bahkan, pada satu kota terdapat seorang owner yang memiliki lebih dari satu gerai, yakni di Surabaya dan Bogor.

Selain itu, Coffee Toffee juga tengah mengembangkan konsep bisnis kopi dengan model To Go Coffee. Langkah tersebut merupakan upaya jemput bola dengan mengkhususkan pada gerai minimalis yang berlokasi diarea traffic tinggi, semisal stasiun commuter.

“Kios ini BEP-nya cukup cepat. Dalam perhitungan riset kami, balik modal akan terjadi pada bulan ke-12, atau hanya satu tahun saja. Biaya investasinya juga cukup terjangkau hanya Rp150 juta,” imbuhnya.