Kuliner olahan mie sudah menjadi makanan pokok kedua setelah nasi yang paling digemari oleh masyarakat Indonesia. Berbagai produk mie banyak dijajakan di beberapa bisnis kuliner mulai dari skala gerobak pinggir jalan, booth, warung tenda hingga tipe resto. Seperti halnya produk Bakmi, dimanapun berada atau berapapun harganya sudah memiliki pecintanya dan segementasi pasarnya sendiri. Sehingga menggeluti bisnis makanan oriental ini tentu menjadi peluang usaha yang cukup menjajikan.

Waralaba Mie Kota Batavia adalah salah satunya, unit bisnis turunan dari brand Bakmi Naga Resto ini hadir untuk menggarap segmentasi pasar menengah kebawah yang masih sangat potensial. Sesuai dengan target marketnya, Mie Kota Batavia menawarkan hidangan bakmi dan olahan rebusan lainnya dengan harga yang cukup terjangkau.

Namun dengan pengalaman sang pemilik, Susanty Widjaya yang sudah malang melintang di bisnis makanan selama 30 tahun lebih. Kualitas dari setiap menu yang disajikan tetap menjadi prioritas utama agar kepuasan pelanggan tetap terjaga. Menu yang ditawarkan pun didominasi oleh olahan rebusan seperti Bakmi, Kwetiau, Bihun, Pangsit, Bakso, dan variasi macam lainnya. Harga yang dipatok per porsinya mulai dari Rp13 ribu hingga Rp20 ribu.

Konsep bisnis waralaba Mie kota Batavia terbagi menjadi tiga tipe, terdapat tipe booth/gerobak, motor roda tiga yang dapat mobile, dan yang terakhir tipe semi resto. Ketiga tipe ini dihadirkan bagi para calon mitra yang tertarik menggeluti bisnis makanna rebusan ini dan telah tersebar ke berbagai daerah di Indonesia.

Investasi yang ditawarkan pun berbeda ditiap jenisnya, untuk tipe booth dan motor roda tiga, dibanderol franchise fee mulai dari Rp75 juta. Biaya itu sudah termasuk booth full stainless atau motor roda tiga, bahan baku, perlengkapan masak, dan peralatan penunjang lainnya. Untuk tipe semi resto dbutuhkan investasi mulai dari Rp95 juta, biaya itu belum termasuk sewa tempat dan ketiga tipe ini mendapat hak lisensi merek dagang selama lima tahun.

“Kalau dulu untuk joining fee-nya hanya Rp 45 juta. Akan tetapi sekarang dengan franchising kami naikan menjadi Rp 75 juta. Kemudian kalau kemarin itu dalam bentuk BO kami menggunakan sharing bulanannya Rp 500 ribu, tapi sekarang dengan franchising kami akan menggunakan royalti fee yang sama dengan Bakmi Naga Resto, yaitu 5% per bulannya,” ujar pemilik waralaba Mie Kota Batavia itu.

Lanjutnya kata wanita yang akrab disapa dengan Susan itu, bisnis bakmi miliknya memiliki prospek yang menguntungkan bila menjangkau lokasi yang dekat dengan perumahan, lembaga bimbel, sekolah, atau kampus. Karena menurutnya lagi, dengan harga yang cukup terjangkau dan produk bakmi yang sehat dapat dikonsumsi oleh semua kalangan dari berbagai rentang usia. Salah satu cabang dari Mie Kota Batavia saja, bisa meraup omzet hingga Rp3 juta per harinya. (adv)

Klik Waralaba Mie Kota Batavia untuk informasi franchise, kemitraan, produk, ROI dan info lengkap lainnya.

(Heksa R.P)