FRANCHISEGLOBAL.COM-Tidak butuh waktu lama bagi pemain bisnis ayam penyet yang satu ini untuk berpenetrasi di pasar kuliner yang kiat padat pesaing. Hanya dalam waktu 6 bulan, Ayam Kremes Pramesti sudah memiliki 60 cabang. Kini jumlah cabangnya hampir 100 gerai tersebar di berbagai daerah. Jumlah angka yang besar untuk usaha yang sudah sesak pesaing.   

Ayam Kremes Pramesti didirikan Tjoek Widharyoko pada Juli 2022. Pramesti berkembang pesat sejak menawarkan peluang bisnis kemitraan pada Agustus 2022. “Perkembangannya sejauh ini cukup baik, kami sudah buka puluhan cabang di Jabodetabek. Rata-rata terjual di 80-120 pax per hari,” terangnya.

Menurutnya, ide mendirikan Ayam Kremes Pramesti sederhana yakni membuat satu brand dan produk F&B yang jadi favorit masyarakat Indonesia dan bisa dimakan setiap hari untuk dibuka kemitraan supaya ekspansi secara cepat. Ide tersebut rupanya berjalan baik begitu direalisasikan.

“Terbukti masyarakat Indonesia memang menyukai ayam penyet. Menu yang ditawarkan sederhana yaitu paket ayam goreng atau bakar, kremes, masih, sambal, lalapan dan es teh manis,” katanya. Harga paket yang ditawarkan cukup beragam mulai Rp 18 ribu, Rp 23 ribu dan ada pula harga promo paket 10 ribu rupiah untuk lokasi tertentu terutama yang baru buka atau di event tertentu.

Tjoek Widharyoko memulai ushaa ini dengan modal sekitar Rp 50 juta. Modal tersebut digunakan untuk mendirikan satu outlet di luar biaya sewa. Setelah satu outlet ia langsung mendirikan 3 outlet lainnya. “Jadi kami membuka 4 outlet sendiri sebelum dibuat kemitraannya,” ujar pria yang akrab disapa Uchuk.

Sejauh ini, jelas Uchuk, kinerja Ayam Kremes Pramesti  berjalan sesuai rencana. Artinya tidak ada kendala atau hambatan berat dalam mengelola bisnis, kecuali ada beberapa titik tertentu yang omsetnya tidak sesuai karena beberapa hal. “Outlet yang tidak ada perkembangan selama 3 bulan awal kami mengambil action untuk pindah lokasi,” tandas ya.

Tantangan di bisnis ini, ujarnya, meraih attention dan awareness customer di tengah banyaknya brand ayam di Indonesia. “Karena itu kami terus perbaiki kualitas produk dan layanan kami, apabila ada yang kurang kita evaluasi dan cari cara mengatasinya,” ujarnya.

Selama ini, kata Uchuk, faktor tenaga kerja jadi tantangan terbesar di sector F&B dengan level mid low seperti ini. Hal ini tentu menjadi tantangan para pelaku bisnis pelaku bisnis kuliner lainnnya. Untuk ia berupaya memberikan gaji dan tunjangan tang layak agar para karyawan loyal.

Tantangan maupun hambatan lainnya relatif aman. Termasuk mendapatkan bahan sebagai alat penunjang usaha, Uchuk tidak mengalami kesulitan karena sudah memiliki ja jaringan supplier dari brand-brand yang dikembangkan sebelumnya. “Begitupun soal pemasarannya. Kami juga sudah berpengalaman mempromosikan suatu produk lewat berbagai media, termasuk media digital. Paling media promosi lebih untuk menjaring masyarakat sekitar seperti brosur, banner, flyer dain lain-lain,” jelasnya.

Diakui Uchuk, semua bisnis F&B pasti terdampar saat pandemi diawal, apalagi model bisnis yang mengandalkan traffic dine in. Beruntung Uchuk mendirikan bisnisnya ketika pandemi sudah teratasi. “Tapi akhir tahun lalu sudah mulai meningkat. Dahulu, di bisnis sebelumnya rata-rata turun 40%. Untuk mengatasinya memperkuat strategi penjualan online dengan mengoptimalkan platform digital,” bebernya.

Bagi yang berminat menjadi mitra bisnisnya, Ayam Penyet Pramesti menawarkan investasi sebesar Rp 120 juta, dengan perkiraan balik modal di 12-16 bulan. Targetnya membuka 100 cabang di Jabodetabek. Kunci menuju ke sana adalah konsisten dan terus beradaptasi dengan perubahan dan strategi pemasaran,” pungkasnya.