JAKARTA, FRANCHISEGLOBAL.COM - Selama dua tahun terakhir, Dovi, owner dari Ayam Hootz rajin mengumpulkan berbagai macam masukan dan kritikan dari seluruh konsumennya. Input dari kosumenmya tersebut kemudian diolah oleh pria lulusan National Hotel Institute (sekarang Sekolah Tinggi Pariwisata Bandung) menjadi formula standar menghasilkan produk dan layanan yang berkualitas hotel bintang 5 namun dengan harga jual yang terjangkau dan tetap menghasilkan profit tinggi.

“Pengalaman 10 tahun menjadi inspektur restauran di sebuah kapal pesiar, menjadi landasan saya dalam menjaga kualitas produk dan layanan. Dan selama dua tahun terakhir kami telah mempraktekannya langsung ke outlet. Hasilnya, tidak kurang dari 400-500 potong ayam terjual per hari. Atau beromset rata-rata Rp. 4-5 juta per hari. Dengan jumlah karyawan 6 orang, margin yang bisa diperoleh di angka 25% an,” jelas Dovi.

Dovi juga menyadari sustainability sebuah bisnis juga ditopang dari ketersediaan bahan baku. Untuk itulah sejak awal ia telah membangun Rumah Potong Hewan (RPH) di Jawa Tengah. Bahkan ia juga menjalin kerjasama dengan peternak-peternak sekitar. Dengan demikian, stock produksi terjamin dan harga jual tetap terkontrol dengan baik.

Kekuatan lain yang dimiliki Ayam Hootz, imbuh Dovi, juga terletak pada bahan baku lain seperti terigu, varian saus, terasi, garam, dan beberapa bahan baku lain. Keseluruh bahan baku tersebut diracik sedemikian rupa berdasarkan pengalaman 10 tahun bekerja di restoran kapal pesiar, sehingga menghasilkan rasa yang tidak mungkin dapat diduplikasi pihak lain.

“Saya juga memiliki pengalaman 5 tahun di bisnis frozen food. Sehingga, sangat memahami bagaimana treatment dalam hal bagaimana mengolah ayam tetap segar meski produk kami kirim dalam bentuk frozen. Karena kualitas rasa di bisnis makanan tetap menjadi fokus nomor satu dari Ayam Hootz,” tukas Dovi.

Begitu juga dengan higienitas, lanjut Dovi, Ayam Hootz bisa memastikan meskipun produk yang dijual Rp. 8-15 ribu, namun kualitas kebersihan dan kualitas kesegaran setiap potongan ayam yang dijualnya sangat terjaga.

Ayam Hootz hadir dengan menu utama ayam geprek dengan tambahan varian topping antara lain saus keju, keju cheddar dan mozzarella. Kemudian ada topping Black pepper dan ada saos bombaya yang dipakai di menu Blackpink burger. Ayam Hootz juga menawarkan tambahan varian menu seperti tempe, tahu bacam, ceker, ati ampela, usus, burger dan minuman spesial jus serta teh KAMEE. Teh dengan spesial dengan ciri khas sensasi manis sepat namun memberikan rasa yang fresh.

Buka Kemitraan Berawal Dari Permintaan Konsumen

Dovi mengakui, bisnis ayam goreng, ayam geprek dan sejenisnya memang bisa dijalankan oleh siapapun. Sehingga, tidak mengherankan bila pemain di kategori ini terus bertumbuh, karena permintaan market yang luar biasa. Akan tetapi, ia juga mengingatkan bahwa di kategori ini, merekmerek yang tumbang pun tidak sedikit. Oleh karenanya, ia tidak gegabah untuk langsung menawarkan peluang bisnisnya kepada masyarakat.

Lebih lanjut Dovi mengungkapkan, keinginan memitrakan bisnis ini bukan tanpa sebab. Awalnya, belum terlintas di benaknya untuk menggunakan konsep kemitraan sebagai metode ekspansinya. Akan tetapi, menginjak tahun kedua eksistensi bisnisnya, hampir setiap hari ada saja konsumen yang bertanya dengan maksud yang seragam, “apakah Ayam Hootz dimitrakan?”.

“Selama dua tahun saya terus melakukan evaluasi untuk mendapatkan standarisasi dan formula yang tepat agar calon mitra nantinya bisa mendapatkan keuntungan maksimal. Outlet di bilangan Cakung, Jakarta Timur inilah yang menjadi prototype outlet. Ketika omset berjalan stabil, saya kemudian menggandeng profesional yang sarat pengalaman belasan tahun di bisnis franchise & kemitraan untuk men-develop konsep franchise. Dengan kata lain, saya mengawinkan kekuatan saya di kualitas layanan dan produk dengan expertise profesional tersebut di bidang waralaba,” papar Dovi.

Menurut Dovi, dalam waktu dekat beberapa outlet baru akan segera dibuka di sekitar Jakarta Timur dan jakarta Selatan. Dan bagi calon mitra yang tertarik untuk merasakan profit dari bisnis yang konsen akan kualitas produk dan layanan, dengan jaminan pengalaman sang owner ini.

Ayam Hootz menawarkan tiga jenis paket investasi yang bisa dipilih. “Nilai investasi yang kami tawarkan mulai dari Rp75 juta untuk konsep kios dengan lebar muka minimal 3 meter (3x5). Lalu mini resto dengan nilai Rp. 150 juta - 200 juta dengan lebar muka kios 4 - 6 meter. Dan Rp. 250 juta untuk konsep resto dengan spesifikasi Ruko 2 lantai lebar muka minimal 6 meter. Estimasi balik modal keseluruhan paket yang kami tawarkan mulai dari 6-18 bulan. Dengan paket di atas mitra dapat langsung menjalankan bisnisnya setelah menjalani training. Perbedaan benefitnya hanya di fasilitas meja, bangku, bahan baku dan equipment lain yang menyesuaikan luas tempat,” jelas Dovi.

Dengan tawaran keuntungan dan kualitas dari Ayam Hootz, merek ini sangat berpotensi untuk berkembang dan sangat layak untuk menjadi pilihan investasi.

Untuk informasi kemitraan silahkan hubungi via WA:

- 0813 8338 2281

- 0812 9753 5190